Lebaran di Kampung (2)

Suasana sungkeman pada Lebaran tahun 1925. Ayahku halalbihalal ke mana-mana juga mengenakan pakaian Jawa tradisional.

SEMENTARA anak-anaknya berburu sangu selama Idul Fitri, orangtuaku di rumah juga diburu anak kecil kerabat dan tetangga untuk minta sangu. Karenanya, setiap hari Lebaran simbok selalu banyak menyediakan uang receh. Mereka sudah hafal betul bahwa siwa/lik atau mbah Tjokro suka memberi sangu pada anak- anak. Jadi, sebelum simbok membuka kampekan (tempat duit) mereka takkan beranjak dari rumahku.

Tapi kadang juga ada anak-anak yang nakal. Meski sudah disangoni simbok, pada kesempatan berbeda masih ikut antri lagi bersama anak-anak lain. Untungnya simbok hafal  anak  siapa saja yang belum disangoni. “Hayo, kowe mau wis tak sangoni, kok melu antri maneh. Kok pintere dipek dhewe (tadi kan sudah dikasih sangu, kok masih ngantri lagi)…?” tegur simbok dan anak itu pun keluar dari antrian dengan tersipu-sipu.

Di daerah Purworejo selatan, hiburan selama Lebaran adalah ke Ketawang, wisata pantai di selatan Grabag. Saat pulang mereka membawa kembang srengenge, sebagai bukti baru saja dari Ketawang. Namun di masa kecilku kami dilarang  bapak simbok main ke tempat itu. Mereka takut anak-anaknya terbawa ombak, atau tenggelam ditelan ganasnya laut Kidul. Sebab kata orang, pantai Ketawang merupakan daerah kekuasaan Nyai Lara Kidul. Barang siapa ke sana memakai baju ijo gadung, akan mati kalap, dibawa oleh penguasa Laut Selatan itu. Karena  gugon tuhon (takhayul)  semacam itulah, aku sangat patuh pada larangan orangtuaku.

Dalam rangka berburu sangu pula, pada Lebaran tahun 1960 aku pernah diajak Tunggono ke Tunjungan, tempat asal ayahnya. Kami berjalan kaki tak kurang dari 8 Km, menyelusuri pinggir kali dari pojok desa Ngombol hingga desa tujuan. Sungguh perjalanan yang  melelahkan dan rasa haus mendera kerongkongan. Lagi-lagi aku kecewa. Karena aku “orang asing” dalam keluarga itu, di Tunjungan hanya dapat sangu Rp 1,- sedangkan Tunggono berlipat-lipat.

Pulang dari Tunjungan, dengan sangu bawaan dari rumah, aku bersama Tunggono dari Pasar Njoso langsung naik dokar Sutar Budeg tujuan Purwodadi, mau nonton keramaian di pasar itu. Sebab ketika Lebaran tiba, di pasar tersebut banyak sekali dijual mainan wayang yang bagus-bagus. Dari yang sekedar kardus yang ditatah, hingga yang dicat aneka warna macam yang dipakai dalam pergelaran wayang kulit. Aku langsung membelinya 10 wayang kecil-kecil, tapi asal comot saja, sehingga tanpa kusadari banyak yang kembar; Dursosono-nya ada dua, begitu pula Gatutkaca-nya.

Dengan bangga aku pulang bersama Tunggono. Tiba di perempatan Purwodadi ketemu bapak yang mau halal bihalal ke desa Guyangan. Aku kemudian ikut dalam boncengan bapak, sementara wayang kutitipkan Tunggono untuk dibawa pulang. Di tempat kami bertamu, seperti biasanya dijamu makanan menu Lebaran. Tiba-tiba yang empunya rumah menawariku makan: “Mangan nggo sambel ya (makan pakai sambal ya)”. Aku langsung menggeleng. “Apaan, Lebaran kok makan pakai sambel, kalau hanya itu di rumah juga banyak,” pikirku kala itu.

Ternyata, ketika hidangan itu keluar wujudnya adalah nasi putih dengan lauk sambel goreng iwak banyu. Menyesalah aku jadinya, kenapa tadi menolak? Melihat ayahku makan begitu lahap, terbitlah air liurku. Tapi untuk meralat sikapku, aku merasa gengsi juga, sehingga bertahan terus dalam lapar. Sejak itu barulah aku tahu, bahwa kalimat “mangan nggo sambel” itu adalah sekadar basa-basi, sikap merendah dalam bingkai etika dan budaya masyarakat Jawa.

Selama Lebaran, dari hari ketiga sampai hari ke-6 aku memang sering diajak bapak halal bihalal ke berbagai tempat. Pernah ke Ketitang, Pasir, Hargorojo daerah pegunungan sebelah timur Krendetan. Yang sangat aku berkesan, di manapun berada bapak selalu berusaha salat tepat waktu. Pernah ketika waktu asar tiba, perjalanan kami pas sampai di daerah Ngangkruk Ketip sepulang dari Sendang. Bapak pun salat dengan berwudlu pakai air sawah, sementara sebagai sajadah adalah jas beskap yang dikenakannya.

Pada Lebaran tahun 1958 itulah aku diajak bapak ke Hargorojo, ke rumah Siwa Amat Sadali yang berada  di kaki gunung sebelah timur laut Pasar Krendetan. Beliau teman dagang bapak sedari muda. Bahkan dinding gebyok di rumah kami, kata simbok dibeli dari almarhum suami Siwa Amat tersebut.

Kami berangkat ke sana sekitar pukul 14.00 sore. Jalan kaki saja karena bapak belum memiliki sepeda. Begitu tiba di pertigaan jalan raya Purworejo – Yogyakarta sebelah selatan Buh Ngandul, hujan lebat jatuh membasahi bumi. Aku dan ayah berteduh di sebuah gedung SR, duduk-duduk di antara bangku kosong karena telah usai belajar. Hujan reda kami melanjutkan perjalanan.

Tiba di rumah Siwa Amat di Hargorojo telah menjelang magrib. Aku kemudian diajak menginap. Lalu malam harinya bapak dan Siwa Amat berbincang- bincang mengenai perekonomian sehari-hari, tentang ladangnya yang dirusak oleh babi hutan. “Tanduranku tela padha dipangan celeng (tanaman ubiku dimakan babi hutan) Kro…,” kata Siwa Amat berbisik, sepertinya takut kedengaran oleh binatang tersebut.

Ketika pulang sekitar pukul 08.00 pagi, bapak diberi oleh-oleh duren, yang dikemas daun kelapa dan dipikul di pundak. Kami berjalan kaki dari Desa Hargorojo itu,  menelusuri jalan raya Yogya – Purworejo, tiba dipojok Pasar Krendetan aku dituntun bapak menyeberangi jalan raya untuk menuju penyeberangan Sembir. Perasaanku jauuh sekali, aku berjalan seakan lempoh rasanya.

Saat mau menyeberang pakai rakit, bapak terpeleset jalanan yang licin dan menurun. Kecepak….., bapak jatuh terduduk, celana jadi kotor. Dan tak lama kemudian terdengar suara: diiiiiit….! Itu suara juru satang seakan menirukan suara klakson mobil, sebagai tanda perahu berangkat. Dan rakit itupun berlayar menuju tebing di daratan Purwodadi.

Berkat usaha keras Bupati Purworejo Kelik Sumrahadi, sejak Oktober 2008 telah berdiri megah Jembatan Sembir. Ini impian lama masyarakat Purworejo selatan. Sebab saat jembatan itu belum terwujud, penyeberangan Sembir hanyalah monument cerita duka bagi warga kampungku. Kata orang, Siwa Karni istri siwa Dana terhanyut di Kali Bogowonto ini, akibat perahu penyeberangannya terbalik. Kemudian Mbah Marto Kamesan, rakit yang ditumpangi terbawa arus tanpa bisa dikendalikan hingga sampai di wilayah Bubutan.

Prawan Wagini dari desa Walikoro juga mati ngendhang kali (menghanyutkan diri di sungai) di Sembir seputar taun 1975. Dan yang paling tragis adalah, Biyang Djandi dari Trukan, taun 1940-an pilih mati terjun ke kali Bogowonto, lantaran sakit hati dipaido (dipersalahkan) melulu oleh ibu mertuanya. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement