Daun Ramah Lingkungan

Deretan daun pisang yang dijemur, mampu menggugah banyak kenangan masa lalu.

SEMUA daun pastilah ramah lingkungan, kecuali daun pintu. Tapi daun yang ramah lingkungan dan digunakan seluruh lapisan masyarakat dan tak lekang oleh zaman, hanyalah daun pisang! Bagaimana tidak? Meski pembungkus berbahan kertas dan plastik lebih praktis, tapi daun pisang hingga kini tetap menjadi alat pembungkus utama. Sekedar contoh, adakah bikin lemper dengan dikukus pakai plastik? Nggak ada!

Maka menatap gambar ilustrasi tulisan ini, bagi  mereka yang dilahirkan dan dibesarkan di desa, akan membangkitkan sejuta kenangan masa lalu. Betapa pentingnya daun pisang dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sepertinya tanpa daun pisang aktivitas ibu-ibu di dapur nyaris tak bergerak. Mau bikin pepes ikan atau tahu, pastilah yang dicari daun pisang.

Jika daun pisang begitu banyak dijemur, ada dua dugaan menyertainya. Jika bukan untuk persiapan hajatan, bikin lemper, takir dan samir, kemungkinan daun-daun pisang itu memang hendak dijual. Di kampung penulis sekitar tahun 1970-an, ada dua warga yang punya kegiatan bisnis bakul godhong ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Pagi subuh naik KA bumel Jenar – Yogyakarta, dan kembalinya sore harinya kemudian dengan KA yang sama.

Itulah perjuangan orang desa yang tak bersawah untuk membesarkan anak-anaknya. Yang bernama Yu Parwati – Karto Gito berjualan daun pisang sampai anak-anak besar dan mampu membantu ekonomi keluarga. Tapi yang bernama Tipong –Paeran, berhenti mendadak sekitar tahun 1970. Masalahnya, saat memikul daun pisang lewat jalan Malioboro untuk menyeberang, tiba-tiba Paeran disikat Honda. Suami Tipong ini terpelanting dan tewas (bukan wafat sebagaimana bahasa wartawan muda sekarang lho ya) di tempat.

Sebelum plastik mewabah di negeri ini, lembaran daun pisang memang digunakan untuk takir (tempat lauk pauk) dan samir (alas lauk pauk). Bahkan sebelum pakai besekan, orang kenduri dulu pembungkus nasi berkatnya juga dari daun pisang. Maka perhatikan ketika nasi bancakan itu selesai dibacakan atau diujubke Pak Kaum, mendadak terdengar suara krekut….krekut…..krekuttt…….simponi suara daun pisang ketika ditekuk dan dilipat sebagai pembungkus nasi berkat itu.

Ada kisah lucu tapi pilu sebelum Indonesia merdeka. Masa kecilnya kakak beradik pakde penulis, si Kuncung pernah menangis dikerjain Kusno sang kakak, gara-gara persoalan samir itu. Lantaran Kuncung main melulu lupa pekerjaan rumah, sengaja Kusno membuat samir. Setelah daun pisang itu dibentuk bulat bergaris tengah 12 Cm, diolesi minyak goreng dan kemudian dibuang di tempat sampah. Saat Kuncung pulang, si kakak lalu bilang, “Mau ana punjungan, kowe ora dingengehi wong dolan terus (tadi ada kiriman nasi orang hajatan, kamu nggak dibagi wong main melulu).” Kuncung pun menangis, sementata Kusno tertawa ngakak.

Tahukah Anda tentang klaras? Nama itu adalah juga daun pisang dalam kondisi kering. Di kampung-kampung dulu dijadikan alat pembungkus nasi. Ketika bocah-bocah mau rekreasi bersama teman-teman esok pagi, sore harinya sudah mencari klaras untuk membungkus nasi panas dan mengikatnya kuat-kuat dengan tali. Hari berikutnya, dimakan di arena tamasya bersama teman-tema, rasanya sudah seperti kupat. Itulah bonthotan, yang terasa nikmat meski hanya berlaukkan kering tempe.

Daun pisang ketika disulap jadi sendok untuk makan bubur, namanya suru. Sedangkan ketika dijadikan piring makan, disebut pincuk. Membungkus nogosari, utri pakai daun pisang disebut dietum. Daun pisang juga dibuat pembungkus lemet, termasuk jadi pembungkus lemper. Lemper ketan, bukan lemper-nya Cak Lontong.

Dulu ketika harga payung belum semurah sekarang, daun pisang juga biasa digunakan sebagai payung ketika kehujanan. Bahkan ketika daunnya dibuang, pelepahnya bisa dibuat kuda lumping untuk permainan anak-anak, termasuk juga bikin tembak-tembakan.Bocah kampung dulu juga biasa bikin long dari klaras. Daun pisang kering itu dilipat sedemikian rupa, kemudian dilobangi sedikit. Ketika menggelembung setelah ditiup, buru-buru dipukul pakai batu bata. Meletus long klaras, dorrrr…..hatiku sangat puas!

Advertisement