Delapan Tahun jadi Mualaf, Ika Baru Merasakan Nikmatnya Dapat Daging Kurban

Program THK dompet dhuafa di Kareem Papua membuat Ika yang sudah delapan tahun menjadi mualaf baru merasakan nikmatnya mendapat daging kurban/ Foto: Dompet dhuafa

PAPUA – Setelah delapan tahun Ika (29), warga Distrik Pikere, Kecamatan Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua menjadi mualaf, baru kali ini dia merasakan kenikmatan ibadah yang belum ia rasakan sejak masuk Islam, yaitu kurban.

Pada kurban kali ini (10 Dzulhijjah 1443/10 Juli 2022), program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa hadir di Distrik Pikere, Kecamatan Arso Timur. Kawasan ini merupakan kawasan tertimur Indonesia yang berbatasan dengan Negara Papua Nugini (PNG).

Umayra Maulida Sabatiyah, Pimpinan Cabang DD Papua mengatakan, pelaksanaan THK di Papua menyasar masyarakat yang berada di kawasan terluar Indonesia bagian timur. Di distrik Pikere sendiri terdapat 50 keluarga muslim, sebagian merupakan mualaf, sebagian lagi pendatang dari luar Papua.

Bersama orangtua, suami dan 2 (dua) anaknya yang masih usia sekolah, Bu Ika tinggal di rumah kecil berdinding kayu. Aktivitasnya sehari-hari hanya di rumah sebagai ibu rumah tangga. Sedang sang suami setiap hari pergi ke hutan mencari kayu. Kampung kelahiran sejatinya adalah di NTT. Sebab suatu hal, ia merantau ke bumi cendrawasih, bahkan sejak ia masih gadis umur 16 tahun.

Menikah dan menjadi mualaf di usianya yang ke-21, ia belum pernah mengalami bagaimana ibadah kurban yang katanya adalah pesta daging umat muslim sedunia. Artinya, 8 (delapan) tahun sudah ia masuk Islam namun belum tau bagaimana kenikmatan daging kurban.

Ia bercerita, “Saya baru tau kurban memang setelah saya masuk Islam. Tapi sejak itu belum pernah saya melihat ada kurban. Baru kali ini ada ramai-ramai orang ke masjid ternyata ada sapi untuk kurban.”

Khairuddin, tokoh agama Islam di Pikere mengatakan senang sekali di Masjid Al-Ikhlas Pikere akhirnya bisa melakukan kurban. Satu ekor sapi dari Dompet Dhuafa ini menurutnya menjadi hal baru bagi masyarakat muslim di Pikere. Kata dia, pernah dulu sekitar 4 tahun yang lalu ada yang mengirimkan kurban di Pikere, namun pendistribusiannya tidak begitu merata. Sedangkan masyarakat Kampung Pikere kondisi ekonominya memang tidak seperti di daerah-daerah beruntung lainnya.

“Semoga tahun-tahun berikutnya tetap ada kurban lagi di sini. Semoga kami di sini juga kelak bisa ikut ibadah kurban seperti saudara-saudara muslim lainnya,” ucapnya, dilansir dompetdhuafa.org.

Advertisement