Dunia Dibayangi Krisis Pangan

Lima lembaga internasional (World Bank, WTO, WHO,WFP dan IMF) mengingatkan semua negar, ancaman krisis pangan seiring inflasi yang membuat harga pangan tak terjangkau.

LIMA  Lembaga dunia cemas, krisis pangan akut bakal terjadi menyusul dampak inflasi terutama akibat naiknya harga pangan dan energi global sebagai imbas konflik Rusia dan Ukraina serta cuaca ekstrim.

Perang Rusia vs negara tetangganya sesama sempalan Uni Soviet, Ukraina sejak invasi Rusia 24 Feb. lalu terus berkecamuk, bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja mererkrut 300-ribu anggota pasukan cadangan sehingga dikhawatirkan terjadi eskalasi konflik.

Alih-alih mampu menaklukkan Ukraina dalam waktu singkat, mesin perang raksasa Rusia ternyata kewalahan menghadapi perlawanan gigih Ukraina yang jauh lebih kecil jumlah pasukannya dan terbatas peralatannya.

Selain strategi yang tepat, aliran persenjataan dari Amerika Serikat dan Barat ternyata mampu meningkatkan kekuatan militer Ukraina berlipat ganda  serta menciptakan bencana bagi pasukan Rusia.

Mau tidak mau, perang kedua negara bertetangga itu mengganggu rantai pasokan pangan dan energi yang digunakan sebagai senjata untuk menekan lawan dan negara-negara pendukungnya.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Moneter Internasioal (IMF), Grup Bank Dunia (WBG), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP) menilai, krisis pangan kali ini terkait pilar ketahanan pangan yakni ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas pangan.

Kelima badan dunia itu sejauh ini juga sudah dua kali mengeluarkan pernyataan bersama pada 15 Juli dan 19 Sept. 2022 meminta setiap negara mengambil langkah mendesak dan terorganisasikan untuk mengatasi krisis pangan akut.

Pernyataan bersama pertama memuat dorongan terkait tindakan jangka pendek dan panjang untuk mengatasi persoalan pangan, khususnya pemberian bantuan sosial pada warga rentan, fasilitas perdagangan, pasokan pangan, pupuk, peningkatan  produksi pangan dan investasi pengembangan pertanian yang tahan perubahan iklim.

Sedangkan dalam pernyataan kedua, kelima Lembaga dunia tersebut meminta setiap negara mendukung produksi dan perdagangan pangan, benih dan pupuk dengan efisien serta meningkatkan transparasi melalui sistem stok dan mekanisme pasar.

“Langkah memperkokoh ketahanan pangan terhadap risiko termasuk konflik, cuaca ekstrim, goncangan ekonomi dan penyakit merupakan respons jangka panjang, “ kata Dirjen FAO Qu Dongyu.

Menurut dia, mengatasi kemacetan infrastruktur dan hambatan pasokan pupuk dan benih juga penting dilakukan dalam penerapan sistem pasokan pangan yang efisien.

Sementara para petani, lanjut Dongyu, juga memerlukan dukungan yang efektif dan berkelanjutan untuk memastikan agar mereka menjadi bagian solusi upaya melokalisasi rantai pasokan.

Sedangkan Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala menyerukan upaya untuk mempertahankan perdagangan pangan, pertanian dan energi secara transparan.

“Negara-negara yang membatasi ekspor pangan dan pupuk perlu membuka restriksi tersebut, “ ujarnya seraya menambahkan, krisis 2008 mengajarkan semua pihak  bahwa pembatasan perdagangan bakal mengatrol kenaikan harga.

Sebaliknya, penghapusan pembatasan ekspor serta memberlakukan mekanisme pemeriksaan dan perizinan yang lebih fleksibel akan membantu meminimalisasikan gangguan pasokan komoditas pangan dan juga ikut menurunkan harga.

Dunia adalah tempat kita bernaung bersama, sehingga kemitraan global harus terus ditumbuhkan untuk mengatasi berbagai persoalan bersama termasuk ketahanan pangan. (Kompas/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement