Resesi Global di Depan Mata

Resesi ekonomi global di depan mata akibat imbas perang Rusia dan Ukraina serta sisa-sisa dampak pandemi Covid-19, walau menurut Presiden Jokowi, perekonomian RI masih bisa bertahan walau mengalami pelambatan. Pertumbuhan sekitar 5,3 persen masih bisa diharapkan pada 2023.

BELUM lepas sepenuhnya dari pandemi Covid-19 selama sekitar tiga tahun beserta segala dampaknya (berawal dari Wuhan, China, medio Desember 2019), resesi perekonomian global sudah di hadapan mata.

Salah satu indikatornya, kata ekonom yang juga Rektor Universitas Katolik Atmajaya Agustinus Prasetyantoko (Kompas, 12 Okt.) yakni inflasi yang melambung tinggi sebagai dampak Perang Rusia – Ukraina yang masih berlangsung sampai kini sejak invasi Rusia ke tetangganya tesrebut pada 24 Feb. lalu.

Konflik bahkan terus bereskalasi menyusul klaim empat provinsi Ukraina yang dihuni mayoritas Rusia (Luhanks, Donetsk, Zaporizhia dan Kherson) melalui referendum sepihak oleh Rusia yang tidak diakui int’l pekan lalu.

Ekonom Senior Chatib Basri memperkirakan, meski tak sampai terperosok ke jurang resesi pada 2023, ekonomi RI bakal tidak bisa menghindari perlambatan akibat anjloknya penerimaan dan belanja negara demi menjaga agar defisit APBN di bawah tiga persen.

Dibandingkan sejumlah negara yang mengandalkan ekspor seperti negara jiran Singapura dan Malaysia yang kontribusi ekspornya terhadap PDB mencapai 185 persen, sementara  kontribusi ekspor terhadap PDB Indonesia hanya 21,56 persen (Q-2, 2022).

Di sektor energi, harga batubara ekspor Indonesia juga bisa tetap terjaga di tengah terganggunya rantai pasokan minyak mentah dunia sebagai imbas perang Rusia dan Ukraina.

Dengan demikian, pengembangan ekonomi kreatif untuk pasar dalam negeri diharapkan masih mampu, paling tidak menahan agar roda-roda ekonomi tetap berputar.

Basri dalam seminar Investor Daily Summit di Jakarta (11/10) memperkirakan, walau tidak sampai terpuruk resesi yang dalam, pertumbuhan perekonomian RI akan melambat, dari 5,2 persen menjadi lima persen, selisihnya tidak jauh dengan prediksi Bank Dunia yakni 5,1 persen pada 2022 dan 2023.

Menurut Basri, pengetatan kebijakan moneter yang diberlakukan seperti oleh Bank Central AS (the Fed) yang sudah menaikkan suku bunga sampai 300 persen selama 2022 dan Bank Central Inggeris 200 persen, ikut mempengaruhi tren kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah.

BI sendiri ikut menyesuaikan diri dengan menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin menjadi 4,25 persen, walau hal itu memberatkan kegiatan usaha dan memperlambat roda perekonomian domestik.

Presiden Joko Widodo sendiri di berbagai kesempatan selalu mengingatkan potensi resesi ekonomi dunia dan meminta jajarannya berhati-hati dalam mengambil kebijakan agar RI tidak ikut terperosok ke jurang resesi global.

Namun demikian, Jokowi juga memberikan signal optimisme, walau sudah ada 28 negara yang antri untuk memperoleh dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF), perekonomian nasional sejauh ini masih aman.

Rakyat berharap, agar segenap penentu kebijakan di seluruh level lebih amanah menjaga setiap rupiah digunakan bagi kesejahteraan rakyat. Untuk itu,  fungsi-fungsi pengawasan, baik internal mau pun eksternal harus dibenahi sehingga para  pelaku pelanggaran bisa dikenakan sanksi tegas.

Semoga tidak ada lagi politisi atau birokrasi yang berurusan dengan KPK karena merekayasa, menilap atau memark-up anggaran proyek, menerima rasuah atau menghambur hamburkan anggaran untuk kepentingan diri atau kelompok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement