Menutup Sumur Resapan

Sodetan atau saluran baru di Jl. Karang Tengah Jaksel, seakan meralat barisan sumur resapan di jalan tersebut.

HARI ini, 16 Oktober 2022, Gubernur DKI Anies Baswedan sudah lengser jabatan. Hari ini pula TGUPP-nya dibubarkan, dan tentunya mulai hari ini juga sumur resapan di berbagai wilayah Ibukota sudah waktunya untuk ditutup, diisi puing-puing. Soalnya proyek yang menelan biaya ratusan miliar itu unfaedah sama sekali. Justru jalan-jalan di kota Jakarta nampak bopeng-bopeng lantaran banyaknya sumur resapan yang ternyata mubazir untuk menanggulangi banjir.

Memang hasil kerja sang mantan tak harus diafkirkan, itu kalau bagus! Lha kalau jelek, buat apa dipertahankan? Belum lama ini diberitakan, Jl. Karang Tengah, Lebak Bulus (Jaksel), yang penuh sumur resapan, ternyata masih dilanda banjir juga, sehingga kemacetan lalulintas masih menjadi menu sehari-hari. Tapi setelah dibangun sodetan atau saluran air menuju kali terdekat, banjir langsung teratasi. Warga di sekitar Jl. Karang Tengah senang sekali dengan terobosan baru Pemprov DKI.

Dari contoh di atas terbukti bahwa sumur resapan teori Gubernur Anies Baswedan tidak mengatasi masalah. Sebab faktanya anggaran Rp 400 miliar dari APBD 2021 untuk membangun 300.000 drainase vertical itu tidak efektip mengatasi banjir. Oleh karenanya ketika Gubernur Anies mengajukan anggaran sumur resapan 2022 sebanyak Rp 120 miliar langsung ditolak DPRD.

Sampai Maret 2022, dari target 300.000 Pemprov DKI hanya mampu menyelesaikan 72.000 sumur resapan di seluruh DKI, alias kurang dari 25 persen. Biasanya, jika target tak tercapai target dikorting Gubernur menjadi jauh lebih rendah. Dan karena anggaran drainase vertikal 2022 ditolak, terpaksa Dinas Sumber Daya Air DKI hanya mencoba menyelesaikan target yang ada.

Sampai akhir September lalu, tak jelas sampai berapa ribu sumur resapan lagi yang berhasil dibangun. Yang pasti kemudian masuk laporan bahwa banyak terjadi pendangkalan sumur resapan di berbagai tempat. Maka Pemprov DKI pun menjawab, akan segera mengeruknya. Anggaran lagi……., tapi itupun tak ada berita kelanjutannya dari janji ini sampai habisnya jabatan Gubernur Anies Baswedan hari ini.

Dilihat latar belakangnya, Gubernur Anies ini memang ahlinya ahli dalam dunia pendidikan saja, tapi bukan ahlinya ahli dalam hal teknologi. Karena itulah beliaunya tak menguasai Ilmu Comberanologi, di mana genangan air permanen akan menjadikan tanah dasar menjadi jenuh alias tak bisa lagi menyerap air. Contoh sederhanya, perhatikan comberan di belakang rumah penduduk pedesaan. Ketika masih baru, air limbah dapur langsung meresap ke tanah. Tapi setelah 1-2 bulan, air mulai susah meresap dan menyisakan genangan warna hitam dan bau!

Mungkin Gubernur Anies di masa kecilnya tak pernah tinggal di desa, sehingga tak pernah melihat peristiwa alam semacam ini. Jika target sumur resapan memang sekedar untuk menyimpan atau tandon air ke dalam bumi, mestinya kedalaman sumur resapan jangan hanya 3 meter rata-rata, minimal 75-100 meter gitu, itu dijamin curah air hujan akan tertampung ke dalam bumi, tidak meluber ke mana-mana.

Di tempat tinggal penulis Kaveling DKI Cipayung (Jaktim), setidaknya mendapat 7 sumur resapan. Dua sumur resapan di mesjid Al Islam, yang bisa menampung limpahan air hujan hanya sebuah yang terletak di halaman mesjid. Tapi 1 sumur resapan di belakang mesjid sama sekali nganggur karena dibangun lebih tinggi dari lantai halaman. Yang di Jalan Markisa sebanyak 2 buah, bikin jalan berantakan karena posisi beton  penutup turun secara pelan tapi pasti.

Yang berada di ujung Jalan Alamanda, sama sekali juga nganggur karena air hujan yang turun dari langit tidak mau antri masuk ke dalam sumur resapan. Begitu pula yang di Jalan Teratai samping lapangan bola, 2 buah sumur resapan itu selalu membludak bila hujan lebat dan kemudian meluber ke saluran seberang jalan. RT pernah mau bangun saluran pengelak, tap dari jaman dinasti Ming anggaran hanya Rp 900.000,- tak dikeluarkan oleh bendahara meski dananya tersedia.

Itu contoh kecil yang terjadi di daerah penulis. Di lokasi lain rasanya kurang lebih juga sama, artinya bahwa sumur resapan itu hanya buang-buang anggaran tapi hasilnya mubazir. Tapi beliaunya tetap pede bahwa program sumur resapan itu efektip sehingga Gubernur Anies berpesan agar Plt Gubernur Heru Budi Hartono terus melanjutkan program itu.

Ditilik dari kemubadziran sumur resapan, diyakini bahwa Plt Heru Budi Hartono akan menyetop program tersebut. Dan itulah saatnya Pemprov DKI kembali menutup sumur resapan di seluruh DKI, khususnya yang merusak jalan-jalan di Ibukota. Jika Anies Baswedan berhasil Nyapres dan menang, dikhawatirkan dari Aceh sampai Papua akan berjajar sumur resapan, sambung menyambung menjadi satu. (Cantrik Metaram).

Advertisement