ABG Kok Nyetir Mobil

Akibat ABG ngebut dengan modil titipan, 15 mobil di Makasar rusak ditabraknya.

BARU saja terjadi peristiwa memilukan di Balikpapan Kaltim. Seorang bapak anggota TNI dan istrinya, tewas diseruduk mobil yang dikemudikan anak sendiri,  di Jl. Mulawarman. Mereka berjalan beriringan dari arah Bandara Sepinggan. Sepeda motor yang dikemudikan Peltu KR mengerem mendadak, sementara  AT (15) putrinya yang membuntuti di belakang kurang sigap bereaksi. Bukan menginjak rem, tapi justru injak pedal gas. Wush….., ayah dan ibunya tewas tergilas mobil Kijang Inova yang dikendarai ABG putri kesayangannya.

Orang bisa bilang itu sudah takdir, bahkan sudah tercatat di luhmahfudz. Tapi meskipun takdir tak bisa lepas dari sebab dan akibat. Pertanyaannya, kenapa bocah usia 15 tahun kok diizinkan bawa mobil. Sedangkan aturan dalam UU Lalulintas & Angkutan Jalan No. 22/2009  pasal 88 menyebutkan: SIM A, untuk mengemudikan mobil penumpang dan barang perseorangan dengan jumlah berat tak melebihi 3.500 kg. Batas minimum usia pemohon ialah 17 tahun.

Jika merunut ke belakang, ternyata ombyokan ABG yang ulahnya pernah bikin jengkel orang gara-gara bawa mobil seenaknya. Misalnya di Makasar Januari tahun 2012, HRR (14) bawa mobil Honda Jazz titipan teman ayahnya, ke jalan raya. Baru beberapa meter jalan sudah nyenggol mobil orang. Tapi tidak berhenti, malah kabur. Dikejar pemilik mobil yang disenggol, HRR jadi panik dan tancap gas masuk jalan Daeng Tato. Di jalan ini mobil motor yang ditabrak tambah banyak, menjadi 15. Untung HRR diselamatkan polisi, setelah mobil merah itu ringsek.

Lalu pada Desember 2019, ABG bernama JY (16) sok-sokan bawa mobil dinas ayahnya yang jadi pejabat di Menpawah (Kalbar). Di alan raya Tebas (Sambas) mobil minikab itu tabrak pengendara motor, ibu dan anaknya yang dibonceng tewas seketika. Lalu Juni 2015 di Pondok Gede Bekasi, ABG Andre (15) nyaris digebuki warga, gara-gara mobil yang dikendarai nabrak rumah. Katanya, mobil pinjaman itu remnya blong, secara reflek lalu ditabrakkan ke rumah warga, ketimbang nabrak orang.

Paling seru tapi lucu adalah ketika si Dul (14) anak pemusik Ahmad Dhani ngebut di jalan tol Jagorawi pada September 2013. Mobil Mistsubishi Lancer yang dikendarainya nabrak pembatas jalan lalu nabrak 2 mobil. Si Dul hanya patah kaki, tapi 7 orang dari penumpang 2 mobil itu wasalam. Lucunya, dalam sidang di PN Jaktim si Dul divonis bebas. Alasan hakim, masih di bawah umur dan Ahmad Dhani selaku orangtuanya siap memberikan Bansos termasuk biaya pendidikan keluarga para korban.

Tapi Allah Maha Adil. Meski anaknya bebas dari hukuman penjara, bapaknya yang sekian tahun kemudian menggantikannya masuk penjara di LP Cipinang. Tapi asal tahu saja, kasusnya memang berbeda. Bukan karena gantikan hukuman anaknya, tapi dia sendiri punya kasus ujaran kebencian. Entah kenapa, ngomel-ngomelnya di Surabaya tapi kenanya di Jakarta.

Si Dul dan para ABG yang nabrak orang sebagaimana di atas, semuanya memang belum memiliki SIM, karena SIM untuk A (mobil) dan C (motor) hanya diberikan kepada mereka yang sudah berusia 17 tahun ke atas. Di usia itu anak muda dianggap sudah dewasa, punya kematangan berfikir. Jadi tak sekedar boleh nonton film 17 tahun ke atas di bioskop, tapi juga untuk bawa kendaraan. Oleh karenanya akan dipertanyakan, jika belum usia 17 tahun kok sudah punya SIM, apa karena koneksi?

Dilihat dari ombyokannya kasus anak ABG sudah pada berani bawa mobil dan motor, itu semua berkat kemajuan teknologi dan kemajuan ekonomi. Sebelum tahun 1970-an dulu, yang mampu beli sepeda motor hanyalah Pak Lurah, atau Pak Siner (Penilik Sekolah). Orang kaya di pedesaan punya sepeda merk Raleigh atau Gazele sudah top markotop. Di jaman itu motor gede semacam BSA, Sparta dan BMW disebutnya spedel.

Tapi makin ke sini, karena kemajuan ekonomi banyak orang biasa beli motor dan mobil dengan mudah. Apa lagi banyaknya perusahaan pembiayaan (leasing) yang siap memberikan kreditan untuk beli mobil maupun sepeda motor. Di tambah lagi pola pikir keluarga muda sekarang, lebih baik rumah masih ngontrak ketimbang tidak punya mobil. Pakai mobil kok cuma taksi Grab, apa kata dunia?

Paling celaka adalah, ketika anak-anaknya yang masih ABG coba-coba bawa motor atau mobil orangtuanya, tidak dilarang. Ini malah dianggap sebuah kebanggaan karena sudah bisa membahagiakan anak, masih ABG sudah bisa setir mobil sendiri. “Bapakmu ini, dulu punya sepeda  saja setelah Oomku meninggal, sepeda warisan.” Kata si ayah bangga.

Tapi akibatnya apa, kini banyak ABG yang kelewat berani bawa mobil atau motor untuk gagahan di jalan raya. Jika yang jadi korban kecelakaan diri sendiri, anggaplah itu resiko kecerobohannya. Tapi yang kasihan adalah korban pihak kedua dan seterusnya. Jika hanya luka-luka ringan masih bisa diobati, tapi jika nyawapun ikut melayang, cari gantinya di mana? Sebab di toko online pun dijamin tidak ada. (Cantrik Metaram)

Advertisement