Makasar Punya KA Lagi

KA Uap yang dioperasikan kali pertama di Makasar, dan juga di kota-kota wilayah Jawa di masa itu.

SEJAK 25 Nopember 2022 kemarin, jalur KA di Sulsel mulai dioperasikan. Ini mengulang sejarah 100 tahun yang lalu, ketika pemerintah Belanda meresmikan jalur KA Makasar – Takalar 1 Juli 1922. Tapi jalur KA di Sulawesi itu hanya beroperasi sampai tahun 1930, karena terjadi malaise (krismon dunia). Sedangkan KA yang digagas Presiden Jokowi ini baru melayani jalur Barru – Pangkep (Pangkajene Kepulauan), tepatnya dari stasiun Garongkong ke stasiun Mangilu dan sebaliknya.

Jalur KA Garongkong-Mangilu sepanjang 67 Km ini merupakan bagian jalur KA Makasar – Pare Pare yang sedianya dioperasikan sejak Oktober 2022 lalu. Jalur ini masih dioperasikan terbatas sambil menunggu rangkaian jalur-jalur lainya yang tengah disiapkan semisal: Baru ke Maros. Nantinya jalur KA Makasar – Pare-Pare sepanjang 145 Km terdiri dari 23 stasiun itu melayani angkutan orang dan barang wilayah Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Kabupaten Barru, Kota Makassar, dan Kota Parepare.

Jalur KA di Sulsel khususnya dan Sulawesi pada umumnya memang sangat ditunggu masyarakat. Sebab selama ini jalur KA adanya ada di Pulau Jawa dan Sumatera saja. Maka beberapa waktu yang lalu presenter TV swasta menjadi ironis ketika bertanya pada pemirsa TV di Pontianak dengan kalimat, “Bagaimana Mas kondisi lintasan KA di kota Anda?” Yang ditanya pun menjawab cepat, “Di Pontianak bahkan Kalimantan tak ada jalur KA mbak!” Jike pelawak Suroto Srimulat masih hidup, presenter TV itu pasti akan dibully, “Kamu ini cantik, tapi goblok.”

Presenter TV itu rupanya kurang bacaan, dikiranya 5 pulau besar di Indonesia, dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Barat (kini Papua), semua dilintasi jalur KA. Jalur KA itu adanya hanya di Jawa dan Sumatera. Setelah Indonesia merdeka, dari pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, tidak sempat memperluas jaringan rel KA, semua warisan Belanda. Bahkan di masa Orde Baru sejumlah jalur KA justru dimatikan, semisal Yogyakarta – Bantul dan Yogyakarta Magelang. Juga sejumlah jalur lainnya seperti Purwokerto – Wonosobo dan masih banyak lagi.

Di era reformasi baru Presiden Jokowi yang berani bangun jalur KA baru di wilayah Sulawesi. Papua juga pernah masuk agenda, tapi karena studi kelayakannya belum memungkinkan, akhirnya hanya Sulawesi saja, yang sudah ada rintisannya sebagaimana telah disebutkan di atas.

Bagi kita yang tinggal di Pulau Jawa, melihat dan naik KA sudah hal biasa. Itupun bagi penduduk yang tinggal di seputar jalur KA. Tapi penduduk yang jauh dari jalur KA seperti Magelang, Wonosobo, Pacitan, Ponorogo, orang-orang dan bocah-bocahnya lihat KA ya hanya dari foto dan video di TV atau Youtube. Pasti mereka membayangkan, seperti apa sih rasanya naik kereta api tut tut, siapa hendak turut…….

Jangankan mereka, penulis sendiri di masa bocah juga penasaran dengan KA itu, meski jarak jalur KA dengan rumah sekitar 7 Km lewat jalan raya, atau 4 Km potong kompas lewat sawah. “Mau ndelok sepur kata anak-anak ketika dengar kabar (1960) Presiden Sukarno akan ke Yogya naik KA. Bahkan Pak Guru pun meliburkan murid-muridnya agar ke stasiu KA Jenar, di mana di jalur itu KA rombongan Bung Karno lewat.

Berhasilkah nonton Presiden Sukarno naik KA? Nggak juga! Yang anak-anak saksikan dari stasiun KA Jenar, ada KA dari arah barat (Kutoarjo) menuju ke Yogya dengan gerbong bagian depan dihias. Kenyataannya, kata yang melihat, Bung Karno justru berdiri di gerbong paling belakang, tepat di pintu sambungan. Penulis sendiri tak melihatnya Bung Karno, kecuali ikut bertepuk tangan sebagai penghormatan kepada Pemimpin Besar Revolusi.

Yang pasti di masa itu, deru mesin KA dari Jakarta entah Bandung setiap pagi pukul 08:00 WIB, selalu terdengar nyata meski jaraknya hanya 4 Km potong kompas.  Ternyata itu juga menjadi penanda para petani –terutama buruh– menghentikan aktivitasnya di sawah, setelah bekerja dari pukul 06:00.

Kini orang-orang di daerah Makasar, telah merasakan dan mendengarkan kembali deru mesin KA ketika lewat di daerahnya. Sebab sejak KA Makasar-Takalar dihentikan beroperasi tahun 1930 ketika terjadi malaise seluruh dunia, baru kali ini melihat KA kembali. Tentu saja dengan generasi berbeda, mungkin mereka cucu dan buyutnya. Cuma bedanya, KA sekarang bermesin diesel sedangkan KA tempo dulu masih KA uap dengan bahan bakar kayu areng stengkul (batubara).

Bagi yang tinggal di Pulau Jawa, mbah buyut kita juga merasakan hal sama ketika KA pertama Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) dioperasikan pada 10 Agustus 1867. Di tahun tersebut, baru jalur itu yang dibangun oleh pemerintah Belanda dengan modal swasta. Lalu tahun 1875 dibangun lagi jalur KA Surabaya-Pasuruan-Malang, disusul Semarang – Juwana, Semarang-Cheribon. Ada juga Batavia-Buitenzorg tahun 1873. Mayoritas dikerjakan oleh swasta di berbagai tempat, sehingga sambung-menyambung seperti yang kita lihat sekarang ini. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement