JAKARTA – Penyebab gempa Cianjur berkekuatan Magnitudo 5,6 yang menewaskan 334 jiwa pada 21 November 2022 lalu ternyata bukan karena pergerakan Sesar Cirata maupun Sesar Cimandiri, melainkan Sesar Cugenang.
Lantas, apa sebenarnya Sesar Cugenang?
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa gempa Cianjur berkekuatan magnitudo 5,6 disebabkan pergesaran sesar aktif yang baru teridentifikasi yang dinamakan Patahan atau Sesar Cugenang.
“Jadi, di Indonesia ini sudah identifikasi 295 patahan aktif. Namun, Patahan Cugenang yang ini belum termasuk yang teridentifikasi. Jadi, ini yang baru saja ditemukan atau teridentifikasi,” kata Dwikorita di Jakarta, Kamis (8/12/2022).
Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan ada patahan yang baru teridentifikasi melintasi Kecamatan Cugenang.
“Karena patahannya di wilayah Cugenang, maka dinamakan Patahan Cugenang. Patahan yang baru terbentuk atau ditemukan melintasi 9 desa di dua kecamatan dengan lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara,” ujar Dwikorita, dilansir dari Antara.
Sebanyak delapan desa yang dilintasi garis patahan di antaranya di Kecamatan Cugenang, yaitu Desa Ciherang, Desa Ciputri, Desa Cibeureum, Desa Nyalindung, Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, Desa Cibulakan, dan Desa Benjot. Sedangkan, ujungnya di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur.
Sementara itu, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa identifikasi Sesar Cugenang berdasarkan pada analisis focal mechanism serta memerhatikan posisi episenter gempa utama dan gempa susulan.
“Diketahui bahwa patahan pembangkit gempa Cianjur merupakan patahan baru,” kata Daryono.
Lebih lanjut, Daryono mengemukakan bahwa berdasarkan analisis mekanisme pergerakan patahan dan episenter gempa utama serta susulan, patahan itu mengarah ke N 347 derajat timur dan kemiringan (dip) 82,8 derajat dengan mekanisme gerak geser menganan (dextral stike-slip).
Harus Dikosongkan
Dwikorita menjelaskan bahwa zona Sesar Cugenang menjadi penting untuk diperhatikan lantaran harus dikosongkan apabila ada yang akan melakukan rekonstruksi atau pembangunan ulang kembali.
“Jadi, kalau membangun kembali, belum tahu patahan yang ada di mana. Dikhawatirkan, zona yang patah atau bergeser itu akan dibangun lagi, dan kurang lebih 20 tahun kemudian akan runtuh lagi,” tuturnya.
Sehingga, menurut Dwikorita, penemuan atau penetapan zona patahan ini sangat vital dalam mendukung pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak.
Dia menjelaskan, salah satu dasar pertimbangan untuk menentukan strike, atau patahan, adalah rupture atau pecahnya permukaan tanah yang lurus atau sebagai manifestasi dari perpotongan bidang patahan dengan permukaan lintasan.
Menurutnya, strike ini yang harus diwaspadai dan dihindari saat membangun kembali. Sebab, patahannya merupakan patahan aktif yang baru teridentifikasi.
Kemudian, berdasarkan mekanisme gempa-gempa susulan yang direkam oleh sensor-sensor BMKG, sampai sekarang sudah lebih dari 400 kali kejadian gempa susulan.
Patahan yang digambarkan dengan garis putus-putus tegak lurus dari Desa Nagrak hingga Desa Ciherang ke arah timur laut adalah jalur yang nantinya harus kosong dari hunian, dan tidak boleh dibangun lagi.
Sebab, jika terjadi gempa susulan kurang lebih 20 tahun lagi, bangunan-bangunan di sekitar lokasi patahan akan terdeformasi dan bisa mengalami getaran yang kuat dan menyebabkan keruntuhan.
“Jadi, itu zona yang harus dikosongkan adalah sepanjang garis putus-putus ini, dan ke kanan dan ke kiri kurang lebih 300-500 meter,” ungkap Dwikorita.





