SDN 01 Pocin Masih Dicinta

Orangtua murid dana mahasiswa UI demo mempertahankan SDN 01 Pondok Cina.

SEKOLAH Dasar adalah jenjang pendidikan paling dasar, di mana anak-anak tak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tapi juga diasah untuk menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam masyarakat. Di ruang ini pula anak-anak atau peserta didik menurut bahasanya sekarang, dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan menengah, di mana ujung-ujungnya demi masa depan yang baik bagi anak-anak itu sendiri.

Karena lama pendidikanya selama 6 tahun, bahkan banyak juga yang lebih karena tingkat kecerdasan seseorang tidak sama (baca: bodo). Tentu banyak kenangan suka dan duka yang dialami oleh para muridnya. Maka dulu ketika penulis mendengar SD (dulu masih SR) tempat sekolah di Purworejo Jateng terkena regrouping dan ditutup, sempat meneteskan air mata. Sebagai pelipur lara, penulis menyimpan fotokopi buku induk SR Margosari itu. Di situ banyak tersimpan catatan prestasi pendidikan setiap anak, yang bisa menggugah kenangan masa lalu.

Para alumnus SD Negri 01 Pondok Cina (Pocin) yang manyintai almamaternya, tentunya akan kaget juga ketika mendengar sekolah tempatnya menuntut ilmu ditutup. Tidak tertutup kemungkinan para orangtua murid SDN 01 Pocin ini juga alumnus sekolah yang sama. Tapi penutupan itu bukan karena terkena regrouping (penggabungan), melainkan karena di lokasi itu hendak dibangun mesjid raya.

Alasan Walikota Depok M. Idris yang orang PKS, dia sering menerima keluhan warga kotanya yang bekerja di Jakarta atau Bogor, ketika turun di Stasiun Pondok Cina menjelang Ashar, Maghrib dan Isya, mengalami kesulitan untuk mencari tempat salat. Mumpung Gubernur Jabar siap mendanai lewat APBD, mesjid raya Al Quddus seharga Rp 18,8 miliar itu akan dibangun di lokasi SDN 01 Pocin. Di samping lokasinya di Jl. Raya Margonda yang dekat Stasiun KA Pondok Cina, selama ini Kotif Depok juga belum memiliki mesjid agung sebagaimana kota-kota lainnya.

Kenapa yang disasar kok SDN 01 Pocin?  Alasannya sekolah itu asset Pemda, sehingga tak perlu membebaskannnya lagi. Sebab mau ambil lahan umum, di seputar Jalan Margonda harga tanahnya sudah menyentuh Rp 30 juta semeter. Padahal yang namanya mesjid, berapa pun biayanya, berkat Jalan Allah akan banyak penyumbangnya dari berbagai penjuru.

Jika Walikota M. Idris memaksakan kehendak di lokasi SDN 01 Pocin, sebetulnya lokasi Jl. Raya Margonda tidak juga strategis untuk sebuah mesjid raya. Karena Pemkot Depok sudah memiliki Alun-Alun Kota di Cilodong, mustinya mesjid raya juga di bangun di sana, tepatnya di sebelah barat Alun-Alun.

Lihat planning taka kota di berbagai kota di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Kebanyakan mesjid raya selalu berada di sebelah barat alun-alun. Lihat saja di Tasikmalaya, Banyumas, Pacitan, Magelang, Purworejo, Yogyakarta dan Surakarta, semua mesjid agungnya selalu di barat alun-alun dan memangku jalan raya. Lha kalau di lokasi SDN 01 Pocin, masak mesjid raya kok membelakangi jalan raya.

Tapi Walikota M. Idris maunya gratisan saja sih, sehingga dengan teganya dia harus mengorbankan 320 murid sekolah tersebut untuk dipindahkan ke SD lain. Tapi asal tahu saja ya, dari murid sebanyak itu yang mau pindah baru 99 murid, sedangkan yang lain bertahan. Tapi apa lacur, Pak Wali hanya mengedepankan ambisinya, sehingga guru-gurunya pun ditarik. Tapi orangtua murid juga tak mau kalah, didatangkan pula para relawan untuk mengajar.

Kegiatan belajar mengajar di SDN 01 Pocin menjadi darurat, seperti sekolah di Ukraina yang digempur Rusia. Tapi apa boleh buat, sehingga ketika beberapa hari lalu Satpol PP hendak mengosongkan gedung SD, orangtua murid yang sangat mencintai SD banyak kenangan itu membentuk barikade, sehingga pasukan Satpol PP mengalah mundur.

Disusul dengan demo para para orangtua murid dan mahasiswa UI kemarin, barulah Walikota M. Idris mau menunda penggusuran SDN 01 Pocin. Sebetulnya jangan hanya ditunda, tapi lupakan saja. Atau kalau mau, bangun dulu gedung SD pengganti di sekitar tempat tersebut, baru pembanguan mesjid raya dilaksanakan. Nantinya Pak Walikota tak hanya dikenang sebagai pencipta lagu, tapi juga pencipta ketenangan bagi warga kotanya. (Cantrik Metaram)

Advertisement