Mitigasi Bahaya Tsunami Kawasan Pacitan dengan Vegetasi

Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan menanam mangrove di Pantai Soge, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Minggu (17/12/2022). (Foto: Komunikasi Kebencanaan BNPB/Theophilus Yanuarto)
Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan menanam mangrove di Pantai Soge, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Minggu (17/12/2022). (Foto: Komunikasi Kebencanaan BNPB/Theophilus Yanuarto)

PACITAN – Pacitan terkenal dengan nuansa pesisir nan eksotis. Terdapat banyak lokasi wisata yang berada di kabupaten ini, salah satunya adalah Pantai Soge.

Pantai Soge berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo. Pantai ini bisa dibilang merupakan hidden gems destinasi wisata di Pacitan. Meski termasuk hidden gems, Pantai Soge memiliki bahaya laten yang belum diketahui banyak orang.

Kawasan Pantai Soge rawan terjadi abrasi. Sebab, pesisir pantai tersebut berbatasan langsung dengan kekuatan gelombang air laut selatan.

Di samping itu, terdapat sungai yang bermuara di Pantai Soge, mengalir dari arah utara dan berbatasan langsung dengan daratan yang merupakan pasir tambak.

Pasir tambak tersebut terhimpit oleh muara sungai dan air laut. Fenomena perpindahan muara sungai yang seringkali mengubah bentuk daratan tersebut lebih dominan dipengaruhi oleh kekuatan gelombang pasang air laut dan bukan berasal dari limpahan arus Sungai Soge.

Dengan demikian, kekuatan gelombang pasang kawasan tersebut sering menjadi penyebab daratan pantai di sekitar muara mengalami pergeseran, sehingga tidak dapat dipastikan letaknya.

Akibat pergeseran dan abrasi, menyebabkan tanaman sepanjang pantai mengalami kerusakan dan tumbang, tergerus air yang berasal dari danau maupun gempuran dari air laut.

Selain itu, jenis vegetasi pelindung bahaya dari tsunami di Pantai Soge masih minim. Hal ini mengingat Pacitan termasuk wilayah dengan potensi ancaman gempa besar yang kemudian mengakibatkan tsunami selatan Jawa.

Tanam 2.000 Mangrove

Berkenaan dengan kondisi tersebut, BNPB mengajak berbagai pihak untuk menanam mangrove di Pantai Soge, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Minggu (17/12/2022). Kegiatan ini merupakan upaya mitigasi dengan vegetasi menghadapi ancaman bahaya tsunami di kawasan itu.

Penanaman mangrove ini memperkuat program desa tangguh yang sudah terbangun di Kabupaten Pacitan, salah satunya Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, Pacitan. Sebanyak 200 bibit tanaman mangrove ditanam secara simbolis di Pantai Soge.

Sekretaris Utama BNPB, Dr Lilik Kurniawan bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, perwakilan kementerian/lembaga, peserta sosialisasi IDRIP dan Bank Dunia ikut serta melakukan penanaman mangrove.

Total jumlah mangrove yang akan ditanam pada kawasan itu sebanyak 2.000 bibit. Sebagian besar bibit tersebut diupayakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan.

Pada keterangan pers, Sekretaris Utama BNPB menyampaikan, upaya ini untuk membangun desa tangguh bencana tsunami. Ada 10 indikator yang telah dilakukan Desa Sidomulyo, di antaranya mitigasi vegetasi.

“Jangka panjangnya adalah membuat mitigasi berbasis vegetasi salah satunya dengan penanaman mangrove,” ujar Lilik.

Lebih lanjut, Lilik menambahkan, tanaman keras juga akan ditanam di kawasan Pantai Soge. Tentu, hal tersebut disesuaikan dengan tanaman yang cocok dan dapat hidup di pesisir pantai.

“Ini adalah upaya pemerintah melindungi masyarakat terhadap bahaya tsunami,” imbuhnya.

Tanaman mangrove saat terjadi tsunami berfungsi sebagai penghalang alami di pinggir pantai untuk memecah gelombang. Di sisi lain, ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah abrasi. Penanaman ini tidak hanya untuk penanggulangan bencana tetapi juga mendukung program adaptasi terhadap perubahan iklim.

Sementara itu, Desa Sidomulyo ini menjadi salah satu dari 180 desa terpilih yang mendapatkan dukungan kesiapsiagaan terhadap gempa bumi dan tsunami. Dukungan yang didanai Bank Dunia ini merupakan program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP).

Program kesiapsiagaan dan resiliensi masyarakat dalam menghadapi gempa bumi dan tsunami ini dikoordinasikan melalui BNPB dan BMKG.

Pada kesempatan itu, BNPB dan BMKG mengajak kepala pelaksana BPBD di 17 provinsi dan perwakilan pemerintah daerah serta BPBD kabupaten/kota untuk melihat pencapaian Desa Sidomulyo dalam membangun desa tangguh bencana (destana), khususnya dari ancaman bahaya gempa dan tsunami.

Sebanyak 10 indikator telah dilakukan warga masyarakat Desa Sidomulyo, di antaranya penilaian ketangguhan desa, penyusunan peta risiko desa berbasis partisipatif, peringatan dini berbasis komunitas, mitigasi struktural dan non-struktural hingga simulasi rencana evakuasi.

Dari kunjungan ini, BNPB mengharapkan pencapaian Desa Sidomulyo dapat dijadikan model dan direplikasi sesuai karakteristik masing-masing daerah.

Advertisement