
ASA berakhirnya pandemi Covid-19 akhir tahun ini makin membangkitkan optimisme global di balik adanya kecemasan, lonjakan penularan akibat munculnya varian-varian dan subvarian baru SARS-CoV-2 di China membuat perubahan menuju fase endemi bakal molor terus.
China yang semula menjadi awal merebaknya Covid-19 dari Wuhan, Prop. Hubei, medio Desember 2019, semula dipuji Badan Kesehatan Dunia (WHO) karena kebijakan karantina ketatnya yang mampu menekan laju pemaparan penyakit akibat virus tersebut.
Namun, pelonggaran tergesa-gesa yang dilakukan (sekitar April 2020), menuai kecaman, karena pemunculan varian Delta (B.1.117) yang lebih ganas dan berdaya tular lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya (Alpha B.1.167).
Otoritas Kesehatan China tidak maua mengambil risiko lagi, sehingga saat muncul varian baru Omicron (B.1.1.529) beserta sub-sub variannya yang mudah menyebar walau tingkat keparahannya dan fatalitasnya lebih rendah, memberlakukan lagi lockdown ketat medio 2022 lalu.
Yang menjadi masalah, rakyat yang sudah jenuh dibatasi gerakannya dan terimbas usahanya akibat dampak pandemi Covid-19 mulai frustrasi, bahkan mulai melancarkan aksi pembangkangan dengan berunjuk rasa di sejumlah kota.
Cemas terhadap dampak stabilitas politik dalam negeri jika aksi-aksi perlawanan terhadap prokes ketat makin meluas, pemerintah China pun akhirnya mengalah dengan melonggarkan lagi prokes Covid-19.
Secara resmi memang terjadi penurunan kasus-kasus Covid-19 yang dilaporkan di China sejak November lalu, namun hal itu terjadi karena perubahan persyaratan pemeriksaan, sementara dari sejumlah daerah dilaporkan terjadi lagi lonjakan kasus baru.
Pemda Provinsi Zhejiang dalam laporannya yang dikutip sejumlah media internasional bahkan menyebutkan, infeksi Covid-19 di wilayahnya saat ini berkisar satu juta kasus per hari dan diperkirakan di hari-hari ke depan terus melonjak.
Laporan Kethy Leung dari Pusat Kerjasama Epidemiologi dan Kontrol Penyakit Menular WHO di Universitas Hong Kong juga menyebutkan, kasus-kasus Covid-19 melonjak di Beijing pertengahan Desember lalu.
Lagi pula, angka kasus-kasus kematian akibat Covid-19 di China saat ini meragukan setelah Komisi Kesehatan China tidak lagi menerbitkan data kasus harian sejak 25 Des. Lalu. Data tersebut hanya dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China sebagai bahan studi atau referensi
Selain itu otoritas kesehatan China juga mengubah definisi kematian akibat Covid-19 seperti yang disampaikan Kepala Departemen Penyakit Menular di Peking University Hospital pada Reuters baru-baru ini.
Hanya kematian akibat peneumonia dan gagal nafas setelah terpapar Covid-19 yang akan diklasifikasikan sebagai kematian akibat Covid-19.
Hal ini bertentangan dengan pedoman WHO yang memasukkan kematian yang tidak disebabkan langsung oleh Covid-19, tetapi akibat efek lanjutannya termasuk pasien yang gagal mendapatkan akses perawatan RS.
Akibatnya, banyak peneliti mencemaskan, situasi perkembangan Covid-19 di China jauh lebih buruk dari yang dilaporkan oleh otoritas kesehatan negara itu.
Sementara di Indonesia, Presiden Joko Widodo yang semula mengisyaratkan, status pandemi Covid-19 akan segera diturunkan akhir tahun ini, menambahkan dalam pernyataan terbarunya, semua akan dipertimbangkan melalui hasil laporan para pakar epidemiologi dan virologi. “Pemerintah tidak akan gegabah memutuskannya, “ ujar presiden.
Angka paparan harian Covid-19 di Indonesia, senin (26/12) menempati angka terendah sejak Agustus lalu sebanyak 468 kasus, meninggal 14 orang dan sembuh 3.212 orang.
Jangan terlalu cepat, apalagi gegabah menganggap pandemi telah berakhir!




