MEMBACA curhatan Rian Mahendro putra juragan bis PO Haryanto di medsos yang kemudian diekspose besar-besaran di media online, awalnya publik kasihan dan simpati pada Rian. Tapi setelah membaca penjelasan langsung H. Haryanto ayah kandungnya, publik menilai bahwa ini kisah “anak polah bapa kepradhah”. Maka benar ungkapan lama yang mengatakan, orangtua kaya anak menjadi raja, jika anak yang kaya orangtua jadi pembantu.
Awalnya Rian Mahendro bercerita bahwa sudah 19 tahun dia ikut membesarkan PO Haryanto yang berpusat di Kudus tersebut. Dari PO (Perusahaan Otobis) yang hanya baru memiliki beberapa armada, sampai kini sudah punya ratusan armada denga rute banyak kota. Tiba-tiba pada Juni 2022 dipecat dari PO Haryanto tanpa pesangon. Fasilitas dilucuti, gaji Rp 20 juta sebulan tentu saja tak diterima lagi. Rian kini jadi orang miskin, tak punya rumah, tinggal di kontrakan dan kendaraan pribadinya hanya sepeda motor.
Tapi ketika Kopral Purn Haryanto itu menjelaskan siapa Rian Mahendro anak sulungnya tersebut, publik jadi terperangah. Ternyata dia anak sulung yang tak tahu diuntung. Bapaknya mengumpulkan uang dari rupiah demi rupiah, eh begitu sudah besar oleh Rian malah diabul-abul (dihambur-hamburkan) untuk main bitcoin uang kripto. Utang Rian yang mencapai miliaran terpaksa ditutup oleh ayahnya.
Tapi namanya ayah di manapun selalu sayang anak. Setelah anak minta maaf atas kelakuannya selama ini, masih diberi pula satu mobil baru yang cukup luks. Ibaratnya anak balita yang badung, setelah dihajar oleh ayahnya, kemudian masih diberikan pula mainan bagus. Tapi karena H. Haryanto orang kaya, mainan itu ya berupa mobil berkelas.
Tapi Rian belum juga kapok, terbukti ada cewek teman akrab Rian mengadu ke H. Haryanto bahwa putranya menyalahgunakan kartu kredit miliknya yang dipinjamkan. Apa jawab sang ayah? Sambil gebrak meja H. Haryanto bilang, “Lha kok kamu bergaul sama anakku, lha wong bapaknya saja ditipu.” Tak dijelaskan, apakah kerugian wanita itu juga ditutup lagi oleh bapak yang sayang anak itu.
Setelah H. Haryanto buka kartu tentang siapa Rian Mahendro ini, si anak manja ini mengeluh lagi di medsos, kok bapaknya setega itu menguliti aib dirinya. Lha siapa yang memulai dong! Ya masih baguslah jika dia hanya dipecat, tak sampai dipolisikan, karena telah berani pula menjual diam-diam bis perusahaan.
Menyimak perseteruan ayah-anak di PO Haryanto, mengingatkan pada pepatah lama, anak polah bapa kepradhah. Artinya, orang tua bertanggungjawab atas ulah anaknya. Dengan cara demikian masalah segera teratasi, tidak bikin rusak citra dan nama keluarga. Tapi namanya orang, banyak pula yang terbalik pepatah itu menjadi: bapak polah anak kepradhah, artinya: anak berkewajiban tanggungjawab atas ulah bapaknya yang tak terpuji. Ini biasanya karena si bapaknya yang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
Ada ungkapan lama mengatakan, orangtua kaya anak jadi raja. Tapi jika yang kaya anak, orangtua akan menjadi pembantu. Memang tidak selalu benar ungkapan tersebut, tapi banyak kejadian yang menguatkan hal itu. Sebab ketika orangtuanya kaya, anak jadi manja, apa saja permintaan anak harus dituruti. Jika tidak dikabulkan, anak jadi ngambek. Karena orangtua memang berharta, ya diturutilah. Orangtua kerja mati-matian kan demi anak.
Sebaliknya jika yang kaya anak, orangtua akan seperti pembantu. Soalnya, anak sibuk dengan pekerjaan, dan ayah atau ibunya yang momong anak-anaknya. Tetapi orangtua ikhlas melakukan semua ini. Sebab kakek nenek cap apapun pasti sayang pada cucu-cucunya.
Paling kurang ajar tentunya, mentang-mentang orangtuanya kaya, sedangkan anak tak punya apa-apa, dia sudah menuntut jatah warisan padahal orangtuanya masih ada. Maka kini banyak kasus anak bunuh orangtua gara-gara soal warisan. Padahal si anak sampai tak punya apa-apa bisa saja karena kelakuannya sendiri, seperti kisah keluarga PO Haryanto ini. (Cantrik Metaram)





