SEBENARNYA isyu culik adalah berita hoaks yang terus terpelihara sejak tahun 1960-an. Ada yang benar terjadi, misalnya seputar pemberontakan G.30.S/PKI, atau Tim Mawar menjelang kejatuhan Orde Baru. Selebihnya berita pepesan kosong, termasuk isyu penculikan anak untuk dijual-belikan organ tubuhnya. Ayah penulis tahun 1960-an juga pernah meredam isyu penculikan anak untuk tumbal proyek jembatan dengan mengatakan, “Culik itu adanya di sawah, yakni macul diwalik…!”
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), culik adalah = mencuri atau melarikan orang lain dengan maksud tertentu. Maksud tertentu macam-macam, bisa dibunuh, bisa juga dijadikan sandera untuk sebuah tuntutan atau tebusan. Bila tuntutan atau permintaan tebusan itu tak diladeni, barulah terjadi pembunuhan.
Contoh rielnya yang terekam dalam sejarah Indonesia adalah; penculikan PM Sutan Syahrir pada 3 Juli 1946. Dia diambil dari tempat penginapannya di bekas gedung De Javasche Bank (DJB) Agentschap (kini gedung BI) Surakarta dan disekap di Paras Boyolali. Otaknya adalah Mayjen Soedarsono yang memilih angkat senjata hadapi Belanda ketimbang jalur diplomasi. Akhirnya dibebaskan oleh Presiden Sukarno.
Di seputar peristiwa G.30.S/PKI tahun 1965 penculikan juga marak, karena saling balas. Orang PKI menculik tokoh atau pemuka Islam, gantian orang Islam menculik orang komunis. Celakanya, jaman itu aksi culik sering dijadikan ajang fitnah. Jika tidak suka pada seseorang, bilang saja dia PKI langsung hilang itu orang. Padahal belum tentu. Di Pulau Buru misalnya, ada orang Islam dari Magelang yang dibuang ke sana. Padahal dulu dia masuk BTI (Barisan Tani Indonesia) agar sengketa tanahnya cepat selesai.
Menjelang kejatuhan Orde Baru Mei 1998, Tim Mawar banyak menculik aktivis yang bersuara lantang mengkritik Presiden Soeharto. Tim Mawar merupakan Grup IV Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD yang dipimpin Prabowo Subianto saat masih menjabat Komandan Kopassus. Banyak dari mereka yang hilang tanpa bekas. Yang selamat seperti Pius Lustrilanang dan Desmon Mahesa cukup diberi hadiah jadi anggota DPR lewat Gerindra-nya Prabowo.
Demikianlah, makin ke sini penculik bukan saja menyasar aktivis. Anak-anak yang aktif bermain terlepas dari pengawasan orangtuanya juga diculik. Ada yang motifnya minta tebusan, ada pula yang dijual. Sejak itulah anak SD di kampungpun selalu diantar jemput orangtua atau keluarga demi mengantisipasi tindak penculikan.
Paling ironis, tak lama setelah kabar anak 6 tahun diculik pemulung Iwan Sumarno (42) di Gunung Sahari Jakpus, kini beredar isyu tentang penculikan bocah untuk diambil organnya. Konon harganya bisa mencapai Rp 5 miliar. Katanya untuk bola mata kanan kiri Rp 14 juta, kulit kepala Rp 5,6 juta, tengkorak dengan gigi Rp 11 juta, jantung Rp 1,1 miliar, hati Rp 1,4 miliar. Benar-benar seperti pesen ayam di gudeg lesehan Malioboro, Yogyakarta. Paha Rp 20.000,- kepala Rp 15.000,- sayap Rp 15.000,- dan seterusnya. Gara-gara isyu ini, orang yang percaya siap jadi penculik demi uang Rp 5 miliar.
Sesungguhnya isyu paling klasik adalah penculikan bocah untuk tumbal atau bekakak proyek jembatan. Sekitar tahun 1960-an, kebetulan jembatan Buh Ngandul di jalan raya Purworejo-Yogyakarta, di daerah Krendetan tengah ada pembangunan jembatan pengganti jembatan lama. Isyu penculikan anak pun marah. Konon bocah yang diculik akan dimandikan aspal lalu dicor bersama adonan beton.
Gara-gara itu, penulis yang masih duduk di kelas III SR, tidak berani keluar ke jalan raya Purwodadi – Ngombol. Meskipun disuruh oleh Pak Guru Pramono tetangga kami, tetap tidak mau karena takut jadi korban penculikan. Padahal beliau guru di sekolah kami, tapi mengajar di kelas lain.
Baru setelah ditemani bocah lain mau belanja ke warung Bu Adi. Tetapi begitu masuk jalan raya, mata menjadi liar. Setiap melihat orang naik sepeda, selalu menduga-duga itulah penculiknya. Padahal tak ada juga penculik tersebut. Di rumah, ayahku malah mengatakan, culik itu adanya di sawah! Lho kok? Katanya, culik itu macul diwalik alias tanah yang baru saja dicangkul dibalikkan. (Cantrik Metaram)





