MEMBACA judul tulisan ini, para pembaca pasti lalu membayangkan nama Presiden RI, Menteri maupun politisi terkenal. Tapi ternyata yang dimaksudkan oleh Dirjen Dukcapil Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh bukan itu. Dia hanya mau menyebutkan bahwa ada ribuan penduduk wanita dan pria RI yang menggunakan 10 nama yang sangat populer.
Sayangnya Pak Dirjen tak menyebutkan angka pastinya. Padahal bila dilihat dari databes kependukan di kantornya, pasti bisa disebutkan dengan angka secara pasti. Dari 270 juta penduduk Indonesia dewasa ini, misalnya yang bernama Slamet ada sekian ratus ribu, yang bernama Aminah sekian ratus ribu pula. Dan mereka ini tersebar di seantero penjuru Indonesia.
Dirjen Zudan Arif Fakrulloh hanya menyebutkan, 10 nama pria populer itu adalah: 1. Sutrisno 2. Slamet 3. Mulyadi 4. Herman 5. Supardi 6. Ismail 7. Suprianto 8. Suparman 9. Junaidi 10. Wahyudi. Adapun 10 nama wanita populer bisa disebut: 1. Nurhayati 2. Sulastri 3. Sumiati 4. Sri Wahyuni 5. Sumarni 6. Sunarti 7. Siti Aminah 8. Aminah 9. Ernawati 10. Kartini.
Di saat sekolah di bangku SD dulu, ada nama tambahan menjadi: Darni A dan Darni B, karena di kelas itu ada dua nama Darni, Begitu pula Slamet A dan Slamet B. Bahkan di tempat tinggal penulis: setidaknya ada 4 nama Bambang. Maka untuk memudahkan penyebutan, diberi nama: Bambang Angkatan Laut, Bambang Kasur, dan Bambang Kolor, soalnya jika pakai celana kolor pendek sekali, jauh di atas lutut.
Ada juga Joko PLN, Joko Bea Cukai, dan Joko RT. Itu semua menyangkut dengan pekerjaannya di kantor mana dia bekerja. Ada pula nama di kampung: Marto Seman, Marto Kucluk, Marto Marji dan Marto Kepetengan. Lalu disusul oleh Pawiro Yadi, Pawiro Selung, Pawiro Mono.
Dari nama-nama itu, terlihat sekali dominasi nama Jawa. Sebab orang-orang tua dulu yang masih berfikiran sederhana, memberi nama anak itu di samping sebagai doa, tujuan utama sekedar untuk pembeda belaka. Bila mau berbau agama, cukup: Abdullah, Syafii, Muslimin, Muslimah, Akbar, Ismail, Imam.
Yang unik adalah orang Betawi, entah kenapa kasih nama anak selalu ada tambahan huruf H di akhir nama. Misalnya: Asmawih, Fatonih, Zarkasih, Ramelih, Rojalih. Padahal bagi masyarakat umum, biasanya nama-nama itu tanpa berakhiran huruf H.
Tetapi seiring dengan perkembangan jaman, apa lagi pada era internet sekarang ini, bangsa Indonesia makin mudah terpengaruh budaya asing. Hal ini diserap dari tayangan di jagad maya dari berbagai penjuru dunia. Maka jangan heran bayi-bayi sejak tahun 2000-an nama-namanya sangat berbau Timur Tengah.
Anak lelaki diberi nama: Devanka, Sheva, Hekmatkiar, Favian, Rafasya. Anak perempuan diberi nama: Shakila, Sahila, Najeela, Raaida, Nazeeya, Aqila, Taqiya. Padahal nama terakhir ini jika untuk orang Jawa menjadi Tukiyo dan dipakai untuk anak lelaki.
Ada kerabat penulis yang geleng-geleng kepala, karena cucunya diberi nama belakang Khilafah. “Khilaf kan artinya lupa daratan….” Katanya agak kesal. Tapi bisa apa dia, sebab sebagai kakek dia tak bisa intervensi, karena soal nama anak memang hak prerogative sang ayah si bayi selaku “penyetrom” emaknya.
Tapi itulah uniknya orang Indonesia. Kasih nama anak berbau kearab-araban, sedangkan Arab sendiri sudah berkiblat ke Eropa. Mungkinkah akan terjadi, perempuan Arab kini sudah boleh bekerja dan keluar rumah, sementara wanita Indonesia nantinya justru dilarang kerja, cukup di rumah melayani suami, mamah karo mlumah? (Cantrik Metaram).





