Kisah AS Merebut 78 Tahun lalu

23 Feb. 78 tahun lalu (1945) marinir-marinir AS berhasil merebut pulau Iwo Jima yang dipertahankan dengan gagah berani dan mati-matian oleh 20-000 anggota bala tentara Jepang. (atas: foto bersejarah penancapan bendera kemenangan AS)

KEBERHASILAN marinir-marinir Amerika Serikat menancapkan bendera kebangsaan mereka di Pulau Iwojima, Jepang 23 Feb. 1945 di tengah  pertempuran paling berdarah sepanjang Perang Pasifik masih dikenang banyak orang hingga kini.

Selain sistem pertahanan berupa lorong-lorong di bawah tanah sepanjang 18 Km dan bunker yang sulit ditembus, tiga pangkalan udara pendukung dan diperkuat deretan baterai artileri berat, balatentara Jepang berkekuatan sekitar 22-ribu personil yang mempertahankannya juga “kontrak mati”.

Dengan semangat “bushido”  pantang menyerah demi Kaisar dan Omoterasu Omikami (Dewi Matahari) yang terpatri di setiap sanubari tentara Jepang, tekad mereka tidak hanya slogan semata.

Hal itu terbukti, hanya 226 tentara Jepang yang selamat, sebaliknya AS yang ngotot merebut Iwo Jima sebagai langkah strategis untuk menaklukkan seluruh wilayah Jepang, kehilangan 6.821 personil dan sekitar 20.000 lainnya terluka.

Foto berjudul “Menancapkan bendera di Iwo Jima” yang dilakukan oleh marinir AS di puncak Gunung Suribachi, Iwo Jima, 23 Feb. 1945 karya wartawan Associated Press Joe Rosenthal langsung menyebar ke penjuru jagat dan sampai hari ini dinilai sebagai karya legendaris yang selalu dikenang.

Di foto, tampak enam anggota marinir yakni : Harlon Block, Harold Keller, Ira Hayes, Harold Schultz, Franklin Sousley, dan Michael Strank, nmun, dalam pertempuran selanjutnya, Block, Sousley, dan Strank tewas tidak lama kemudian,tiga lainnya  selamat kembali ke AS.

Setibanya kembali di AS setelah memenangi pertempuran di front Iwo Jima , mereka disambut layaknya pahlawan dan berkesempatan untuk berkeliling negeri menyampaikan kisah kepahlawanan mereka.

Sang fotografer sendiri, Rosenthal mengaku, saat membidik peristiwa itu ia hanya buru-buru mengarahkan lensa kameranya menggunakan kamera Speed Graphic, tanpa menggunakan viewfinder.

Saya tidak menyadari, momen yang saya abadikan memiliki makna yang begitu signifikan, “ ujarnya.

Menurut penuturan Rosenthal, ia semula  sempat mengambil 3 buah foto. Pertama,  ketika anggota marinir berusaha menegakkan tiang bendera yang berat di puncak gunung, foto kedua mirip foto pertama, sementara foto ketiga merekam para marinir yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kamera.

Namun tidak banyak yang mengetahui, bendera dalam foto adalah bendera kedua yang dicoba untuk dikibarkan hari itu di Gunung Suribachi.

Bendera pertama sebelumnya sudah berhasil dikibarkan oleh anggota USS Missoula bernama Schrier dan dua marinir lainnya pada pukul 10.30 waktu setempat.

Sayangnya, bendera pertama dinilai terlalu kecil dan sulit terlihat dari sisi utara, sehingga para Marinir mencari bendera berukuran lebih besar untuk menggantikannya.

“Kenangan paling indah bagi saya adalah hari ketika kami menyerahkan bendera di atas kapal kepada seorang letnan yang kemudian pertama dikibarkan di Gunung Suribachi,” kata seorang veteran AL AS yang saat itu awak USS Missoula.

Setelah perang habis-habisan dan Jepang takluk pasca AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (6 dan 9 Agustus 1945), kedua negara yang masuk klub negara-negara kaya G-7 saat ini bergandengan tangan, walau kadang-kadang berselisih akibat persaingan dagang.

Tiada lawan permanen, kecuali kepentingan yang abadi!

 

 

Advertisement