
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim, seluruh pemimpin dan komandan militer tertinggi Iran termasuk Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sekaligus penerusnya, telah “90 persen lenyap.”
Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13/7), Trump mengatakan kemampuan militer Iran telah mengalami pelemahan yang sangat signifikan sejak digempur AS pada 28 Februari lalu.
“Mereka (Iran) tidak lagi memiliki angkatan laut. Mereka tidak lagi memiliki angkatan udara. Semuanya sudah hancur. Sistem pertahanan udara mereka juga sudah hancur. Para pemimpin mereka semuanya telah terbunuh,” kata Trump dalam wawancaranya tersebut seperti dikutip Anadolu Agency.
“Pemimpin-pemimpin terbaik mereka telah terbunuh. Mereka sudah tiada. Khamenei (Ali dan Mojtaba-red) sudah tiada,” ujar Trump.
Trump menggunakan nama Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran yang wafat pada 1989, meskipun tampaknya ia bermaksud merujuk kepada Ali Khamenei. Ali Khamenei sendiri tewas di hari pertama serangan AS-Israel 28 Februari lalu dan baru dimakamkan pekan lalu.
“Putranya (Mojtaba Khamenei) sudah 90 persen tersingkir,” tambah Trump.
Misteri keberadaan Mojtaba Khamenei memang terus menjadi sorotan. Sebab, sejak diangkat meneruskan jabatan sang ayah sebagai pemimpin tertinggi Iran, ia belum menunjukkan batang hidungnya secara langsung di depan publik.
Selama ini, Mojtaba hanya menyampaikan pernyataan-pernyataannya secara tertulis dan dibacakan oleh media pemerintah.
Namun, sejumlah laporan intelijen meyakini Mojtaba Khamenei masih menjalani pemulihan akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan udara AS-Israel. Ia juga tidak menghadiri upacara pemakaman ayahnya yang digelar selama sepekan lalu yang acara puncaknya, pemakaman di kota Mashhad, Kamis 9 Juli.
Pemerintah Iran sendiri berkilah, absenya Mojtaba dalam rangkaian upacara perkabungan ayahahndanya, Ali Khamenei yang digelar di lima kota termasuk di Karbala, Irak demi alasan keamanan mengingat adanya ancaman yang dilontrakan Presiden Trump untuk membunuhnya.
Saling serang
Sementara itu, klaim Trump ini disampaikan setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan selama sepekan terakhir di tengah gencatan senjata dan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang yang telah diteken kedua negara di Istana Versailles, Perancis, 17 Juni lalu.
Presiden Trump pada bagian lainjuga mengatakan bahwa AS akan “memberlakukan kembali” blokade terhadap Iran serta akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang ingin melintas dengan aman di Selat Hormuz.
Terwujudnya perdaamaian nyata di Timur Tengah, khususnya ditandai dengan berakhirnya konflik militer dan politik antara AS dan koalisinya, Israel melawan Iran aaknya masih perlu waktu. (CNNI/Fox News/Anadolu/ns)




