PIHAK Taiwan menuding penguasa China daratan saat ini sedang mempelajari cara-cara dan juga kegagalan Rusia dengan cepat menaklukkan Ukraina yang semula dianggapnya jauh lebih kecil dan lemah.
“Selat Taiwan dipastikan bakal menyulitkan China (jika ngotot melintasi untuk menyerbu Taiwan-red), “ ujar Menteri Pertahanan Taiwan Chiu Kuo-cheng, (24/2).
Perang antara Rusia dan Ukraina menuai kecemasan di kalangan elite Taiwan terkait kemungkinan hal itu menginspirasi pola fikir penguasa China daratan untuk merebut pulau yang diklaim wilayahnya itu.
Pemimpin China sendiri di berbagai kesempatan menyatakan mereka akan merebut kembali Taiwan yang terpisah akibat perang saudara antara kelompok nasionalis dan komunis pada 1949.
Saat itu kaum nasionalis Kuomintang yang dipimpin Chiang Kai-Shek kalah dalam perang dengan kaum komunis pimpinan Mao Zedong yang jauh lebih kuat, sehingga mundur dan membuat negara baru di Taiwan.
Para petinggi China daratan sendiri di berbagai kesempatan menyatakan tekad untuk merebut kembali Taiwan paling lambat pada 2027 dan selain memperkuat militernya, sementara pesawat-pesawat tempurnya sering melanggar wilayah identifikasi militer yang diberlakukan Taiwan.
Begitu pula, kapal-kapal perang China termasuk kapal induknya sering sliweran di perairan sempit di Selat Taiwan, agaknya untuk menimbulkan efek penggentar bagi Taiwan.
“Perang Rusia-Ukraina telah membawa pelajaran besar bagi mereka (China). Mereka tentu saja akan berusaha dengan (serangan) cepat,” kata Chiu kepada wartawan, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Dia menyatakan, jika pasukan China merancang serangan mendadak, mereka akan menghadapi kesulitan karena mereka harus menyeberangi Selat Taiwan yang memisahkan keduanya.
“Mereka masih harus mengatasi masalah ini dan dibutuhkan waktu lebih satu atau dua minggu,” ucapnya seraya menambahkan, China tidak pernah meninggalkan pola-pola kekuatan untuk menekan Taiwan dengan terus berpatroli di dekat pulau itu.
Chiu lebih jauh menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan provokasi, namun begitu pertama kali terjadi letupan senjata, rakyat Taiwan bertekad untuk bertempur sampai titik darah terakhir.
“Hanya pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis bersama rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka, “ ujarnya.
Perbandingan Kekuatan
Anggaran militer China yang menempati urutan ke-2 setelah AS berjumlah sekitar 252 miliar dolar (Rp3.755 triliun) dan Taiwan ke-22 dengan 13 miliar dolar (Rp194 triliun).
China memiliki 2,2 juta personil aktif, belum termasuk pasukan cadangan, sementara AS 1,35 juta personil aktif plus 800-ribu cadangan dan Taiwan 300-ribu personil.
AU China mengoperasikan sekitar 3.300 pesawat, sebagian buatan Rusia atau Soviet seperti Sukhoi SU-30 dan SU-35 atau copy paste pembom TU-16 (Xian H-6) dan terus memodernisasi pesawat tempurnya a.l J-20 Chengdu yang disebut-sebut saingannya F-35.
Angkatan Laut China sekarang ini yang terbesar di dunia dari jumlah armadanya yakni sekitar 700 kapal perang dan 79 kapal selam dibandingkan dengan armada AS yang berjumlah 300-an kapal.
Sedangkan AB Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.
AU Taiwan mengandalkan lebih 100 “Elang Tempur F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang dianggap setara dengan F-16.
Sadar, tidak sebanding untuk berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan raksasa China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin.
Tentu saja jika diserbu China, Taiwan tidak akan sendirian seperti halnya Ukraina yang diinvasi Rusia karena armada atau gugus tugas AL AS yang bersliweran di Laut China Selatan dan perairan Jepang pasti akan langsung beraksi.
Tidak hanya AS, kekuatan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang beranggotakan 30 negara terutama Barat pasti ambil bagian berada di belakang Taiwan.
Agaknya, ancaman-ancaman atau retorika pimpinan China untuk menyerang Taiwan dalam jangka pendek ini hanya sekedar gertakan yang tidak akan diwujudkan segera. (APAFP/Reuters)





