JAKARTA – Dr. Tan Shot Yen, seorang ahli gizi dan edukator kesehatan di Ikatan Dokter Indonesia (IDI), memberikan saran kepada pemudik yang akan melakukan perjalanan jauh selama musim mudik Lebaran.
Salah satu saran yang diberikan adalah membawa bekal dan memerhatikan kebersihan makanan agar tidak terkontaminasi bakteri.
Tan menyarankan agar pemudik membawa bekal yang tidak mengandung santan karena rentan basi. Dan, memilih lauk yang tidak terkontaminasi seperti telur pindang serta makanan yang mudah dibawa seperti makanan yang dikukus atau nasi yang dibungkus menggunakan daun.
“Usahakan bekal itu tidak mengandung santan karena rentan basi. Bawa lauk yang tidak mempunyai unsur terkontaminasi seperti telur pindang, kemudian makanan-makanan yang mudah dibawa seperti misalnya (makanan yang) dikukus atau membawa nasi tetapi dibungkus pakai daun,” kata edukator kesehatan di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu.
Jika pemudik membawa anak di bawah dua tahun, Tan mengingatkan untuk memerhatikan cara penyimpanan Makanan Pendamping ASI (MPASI).
Pemudik sebaiknya tidak membiarkan MPASI berada pada suhu ruang antara lima sampai 60 derajat Celcius selama lebih dari dua jam karena pada suhu itu bakteri akan berkembang biak dan akan mengontaminasi makanan.
Tan menjelaskan bahwa suhu 5 sampai 60 derajat Celcius adalah suhu di mana bakteri cenderung berkembang biak. Oleh karena itu, jika ingin membawa makanan MPASI, sebaiknya suhunya tetap di bawah 5 derajat Celcius atau di atas 60 derajat Celcius.
“Dicatat, 5 sampai 60 derajat celcius adalah suhu di mana kuman hobi berkembang biak. Jadi, kalau Anda ingin membawa makanan MPASI, suhunya harus Anda pertahankan di bawah 5 derajat Celcius atau sekaligus di atas 60 derajat,” kata Tan, dikutip dari Antara, Sabtu (1/4/2023).
Bagi para pemudik yang ingin makan di restoran atau rest area. Tan menyarankan untuk memerhatikan kebersihan tempat dan alat makan yang digunakan untuk mencegah terkena diare karena kebersihan yang tidak terjaga.
Pemudik juga harus memastikan tempat makan tersebut memiliki dapur yang memadai agar terjamin bahwa makanan yang disajikan dimasak dengan benar di tempat tersebut.
“Tolong perhatikan apakah mereka mencuci perabotan makannya dengan benar jadi jangan sampai cuma dibersihkan dengan air dan sabun ala kadarnya. Kerap kali diare bisa diakibatkan dari makanan atau dari perkakas makanannya,” ucap Tan.
Selain itu, bagi yang ingin melakukan perjalanan mudik sambil berpuasa, Tan menyarankan untuk menghindari minum kopi atau teh pada saat sahur.
Kopi dan teh bersifat diuretik yang dapat memicu frekuensi buang air kecil menjadi lebih sering. Konsumsi kopi yang berlebihan atau lebih dari dua gelas sehari juga dapat membuat pengemudi menjadi tidak fokus saat berkendara.
Tan menyarankan untuk istirahat dan tidur selama 15 hingga 30 menit jika merasa mengantuk dan lelah saat berkendara. Kemudian, sebaiknya bergantian dengan teman mengemudi yang bisa menyetir kendaraan.
“Jadi, kalau memang mengantuk dan lelah yang paling gampang minggir dan istirahat. Tidur 15 sampai 30 menit lalu cuci muka. Dan, gantian menyetir, pastikan bahwa teman bisa menyetir,” ucap Tan.





