Kadal Purba Penjaga Ekonomi Labuan Bajo

Komodo, Kadal Purba Penjaga Ekonomi Labuan Bajo. (Foto: Shutterstock)

MANGGARAI BARAT – Presiden Joko Widodo menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari lima destinasi pariwisata super prioritas pada 15 Juli 2019. Sejak itu, pembangunan infrastruktur yang besar dilakukan di ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Empat destinasi lainnya adalah Danau Toba di Sumatra Utara, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, dan Likupang di Sulawesi Utara.

Labuan Bajo terletak di pesisir Laut Flores, di bagian barat Pulau Flores, yang merupakan gugus terbesar dari tiga pulau utama di NTT, selain Sumba dan Timor bagian barat.

Menurut data dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, Labuan Bajo memiliki populasi sebesar 6.973 jiwa.

Labuan Bajo menjadi kota yang istimewa karena salah satu wilayah administrasinya adalah kawasan konservasi yang terkenal di seluruh dunia, yaitu Taman Nasional Komodo dengan pulau utama seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Nusa Kode, dan beberapa pulau kecil lainnya.

Pusat konservasi berada di Kecamatan Komodo yang terletak paling barat di Pulau Flores dan terpisah oleh Selat Molo yang berarus deras karena menjadi titik pertemuan Selat Sumba dan Laut Flores.

Dibutuhkan sekitar dua jam perjalanan melalui perairan Laut Flores untuk mencapai taman nasional seluas 1.817 km² ini. Komodo adalah kadal purba raksasa bernama latin Varanus komodoensis yang telah ada sejak 40 juta tahun yang lalu.

Dilansir dari indonesia.go.id, saat ini populasi komodo diperkirakan hanya sekitar 2.793 ekor dan hanya tersebar di beberapa pulau seperti Pulau Rinca, Pulau Komodo, Nusa Kode, dan Gili Motang.

Menurut peneliti biologi Amerika Serikat, Michael Hutchins dalam bukunya “Komodo Dragons”, hingga akhir 1980-an, populasi komodo masih berkisar antara 4.000-5.000 ekor.

Hewan karnivora berekor panjang asli Indonesia itu terancam punah dan telah dimasukkan ke dalam daftar merah kategori genting oleh Badan Internasional Konservasi Alam (IUCN).

Spesies ini pertama kali didokumentasikan oleh Direktur Museum Zoologi Bogor, Pieter Antonie Ouwens, pada tahun 1912 setelah menerima laporan penemuan biawak raksasa sepanjang 6-7 meter dari seorang pelaut bernama Jacques Karel van Steyn van Hensbroek.

Peneliti Douglas W. Burden kemudian melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo pada tahun 1926 dan membawa 12 spesimen yang diawetkan serta dua ekor komodo hidup untuk penelitian. Burden juga yang memberi nama komodo dragon untuk hewan ini.

Ekspedisi Burden menjadi inspirasi bagi film King Kong yang diproduksi pada 1933 dan membuat masyarakat penasaran ingin melihat kadal purba raksasa asli Indonesia ini.

Namun, tingkat kunjungan ke Taman Nasional Komodo, tempat habitat alami komodo, menurun drastis sejak pandemi virus corona melanda dunia.

Pada 2022, hanya ada sekitar 60.770 wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Labuan Bajo, lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 256.609 orang.

Untuk mengembalikan pamor sebagai objek wisata dunia, pemerintah menunjuk Labuan Bajo sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-42 pada tanggal 9-11 Mei 2023.

“Labuan Bajo ini komplit. Budaya ada, pemandangan sangat bagus, pantainya cantik, dan di dunia lain enggak ada yaitu komodo. Ada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kekuatan inilah yang harus kita pakai untuk menyejahterakan rakyat kita di sini,” ujar Presiden Joko Widodo di Labuan Bajo, 21 Juli 2022.

Presiden Joko Widodo berharap kehadiran delegasi dari 10 negara ASEAN dan Timor Leste, yang diperkirakan mencapai 1.000 orang, dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Ini adalah kelima kalinya Indonesia menjadi tuan rumah KTT ASEAN setelah sebelumnya pada tahun 1976, 1996, 2003, dan 2011. Tema KTT ASEAN 2023 adalah ASEAN Matters: Epicentrum of Growth.

Advertisement