Tenggak Miras Oplosan

Berbagai miras dengan kandungan alkohol yang berbeda-beda.

JIKA kurikulum oplosan (K-2006 diberlakukan bersama K-2013) jaman Mendikbud Anies Baswedan hanya bikin pusing murid dan guru, miras oplosan tak hanya bikin pusing, tapi bikin nyawa langsung melayang. Ironisnya, meski sudah banyak korban berjatuhan gara-gara miras oplosan, anak muda pemabokan tak juga kapok bervivery-vericoloso (nyerempet bahaya). Sudah tahu miras oplosan itu bisa bikin nyawa wasalam, masih juga mencobanya.

Hingga tahun 2018 saja, untuk DKI Jakarta dan Jabar saja sudah tercatat ratusan anak muda mati sia-sia gara-gara miras. Yakni Jabar (Bandung) sebanyak 41 dari 141 korban pesta miras, dan DKI Jakarta 31 orang. Itu belum termasuk wilayah lain sebagaimana Manado dan Solo. Maklum dua kota itu memang terkenal dengan minumannya yang memabokkan, yakni miras tradisional Cap Tikus dan ciu Mbekonang.

Bagaimana dengan tahun 2019 hingga awal 2023? Tentunya lebih banyak lagi, karena sifat anak muda itu selalu penasaran dan ingin coba-coba. Terbaru adalah pesta miras oplosan di Desa Ngijo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang (Jatim)  Senin malam lalu (08/05). Dari 6 peserta pesta miras, 2 di antaranya telah dijemput maut, sementara 4 lainnya masih dirawat di RS.

Yang unik, pesta miras itu dilangsungkan dekat makam desa, mungkin agar tidak diketahui penduduk. Ternyata, hari berikutnya 2 peserta minum oplosan itu satu persatu tumbang dan dimakamkan di makam desa tersebut. Memang efek miras itu tidak langsung, tetapi melalui proses berjam-jam. Karenanya  para pelaku sempat menduga bahkan mungkin sesumbar, “Alah, ternyata miras oplosan nggak berbahaya.” Nggak tahunya……. malaikat Izroil menjemput lebih cepat.

Miras oplosan dari apa dicampur dengan apa, polisi masih menyelidikinya. Tapi lazimnya, miras yang sudah mengandung alkohol itu ditambahi dengan soda, sirup dan coca cola. Ini saja sudah bikin puyeng, tapi kemudian ditambahi metanol cairan untuk pembuat cat. Saat minum biasa-biasa saja. Tapi beberapa jam berikutnya baru beraksi. Seperti yang terjadi di Karangploso Malang, salah satu korban esok pagi setelah pesta miras masih sempat mengantarkan anaknya sekolah. Tetapi setibanya di rumah mulai mbanyaki, dan klepeg-klepeg wasalam.

Yang cukup mengherankan, ketika tahu yang diminum itu miras oplosan, mustinya sadar bahwa itu minuman maut. Sebab sudah seringkali terjadi miras oplosan mengundang maut, tetapi kenapa diminum juga? Sebagai anak muda, tentunya informasi seperti itu sudah sering didengarnya. Atau memang sengaja mau nyerempet-nyerempat bahaya demi pemuasan jiwa petualangannya.

Secara umum, minuman keras itu mengandung alkohol. Tapi untuk bir kandungan alkoholnya hanya 2-8 persen saja. Wine atau anggur fermentasi, kandungan alkoholnya lebih berat, 10-20 persen. Sedangkan Sake atau Soju minuman dari Jepang kandungan alkoholnya 16 persen. Brendi dan Gin 35-55 persen, Vodka dan Tequila 40 persen, Wiski 40-50 persen.

Meskipun demikian, kadar ketahanan seseorang tidak sama. Ada minum Wine berbotol-botol tidak mabok. Tapi ada juga yang hanya minum bir biasa ngomongnya sudah ngaco. Paling celaka tentunya, bila baru minum Coca cola atau Sprite sambil naik bis sudah mabok. Itu dipastikan maboknya bukan karena minumannya, tapi karena tak tahan bau bensin dan lupa tak bawa Antimo lagi.

Bagi kalangan muslim dan muslimat, makanan dan minuman yang memabukkan haram hukumnya. Tapi ada yang berpendapat,  jika tak sampai mabok tidaklah haram. Padahal dalam surat Al-Maidah ayat 90 digariskan, yang artinya: Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (miras), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Karenanya dalam kehidupan sehari-hari, ada saja orang yang sudah menyandang label haji, tapi masih minum bir dengan dalil “wong tidak mabok”. Maka ketika H. Kumar masih minum bir juga, ada yang memperolokkan namanya. Kumar itu kepanjangan: Kuat Minum Arak. (Cantrik Metaram)

Advertisement