BELUM lama ini diberitakan, seorang bos perusahaan yang celamitan di Cikarang Bekasi, bikin syarat perpanjangan kontrak kerja yang aneh. Bagi yang ingin diperpanjang kontrak kerjanya harus siap tidur bersama boss (staycation = liburan jarak dekat). Karyawati itu kemudian mengadu ke polisi karena takut terjadi praktek kekerasan seksual saat tidur bersama boss. Dampak dari kejadian tersebut, Pemkab Bekasi (Disnaker) segera membuka layanan pengaduan bagi pekerja perempuan yang mendapatkan kekerasan seksual di tempat kerja. Pengaduan kasus tersebut bisa disampaikan melalui nomor telepon 081268400900.
Memang aneh kebijakan perusahaan ini. Biasanya perpanjangan kontrak itu atas dasar kinerja, bukan siap dikerjain. Mereka yang konditenya bagus, diperpanjang masa kontraknya. Tapi begitulah resiko industri modern, ketika karyawan atau tenaga kerja hanya direken sebagai alat produksi, bukan aset perusahaan. Prinsip pengusaha kan, keluar satu yang pengin masuk ada 100. Makin aneh lagi, seberapa kekuatan “tenaga kuda” si boss ini? Jika ada 50 karyawati yang siap ikut paket staycation tersebut, barapa malam yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut? Apa tidak gempor?
Jika boss perusahaan itu wanita, kemungkinan karyawati bernama DA itu akan memenuhi ajakan tersebut. Tetapi bossnya ini kan lelaki muda, sehingga si karyawati menolaknya. Dia kemudian melaporkan sang boss ke Polres Bekasi, karena si boss kemudian mengirimkan foto kamar hotel yang akan dipakai staycation. Dia tahu persis ke arah mana ajakan itu. Lelaki wanita bukan muhrimnya tidur sekamar di hotel, pastilah setan akan menyelinap dan jadi provokator tindakan zina.
Ada sepenggal tembang Jawa yang mengingatkan dan memperingatkan hal itu, liriknya begini: Parabe sang Smarabangun, sepat domba kali Oya, aja dolan lan wong priya, gung remeh nora prayoga. Artinya: jangan pergi bersama lelaki, bisa terjebak pada perbuatan yang tidak baik. Dan rupanya si DA sudah tahu resiko dari ajakan itu, sehingga ketika boss semakin nekad terpaksa lapor polisi.
Sebetulnya, jika boss itu mengajak tidur bersama di hotel, lalu si boss benar-benar tidur, itu tidak berbahaya. Tapi lelaki normal bareng seranjang bersama wanita cantik sebagaimana DA, apa bisa tidur? Nah, di kala boss itu tak bisa tidurlah bahaya akan datang. Sebab manusia normal imannya kan tak sekuat Nabi Yusuf, meski dipancing-pancing oleh Siti Zulaikha yang seksi menggiurkan, tetap bergeming. Manusia biasa kebanyakan kelasnya hanya seperti Usup, ada peluang zina langsung menyelusup!
Jujur saja, sebenarnya boss mengajak anak buahnya berbuat mesum dengan janji-janji tertentu, banyak terjadi. Tetapi tidak muncul ke permukaan, karena si korban merasa malu jika sampai menjadi konsumsi publik. Sebab jika sampai lapor ke polisi, pasti menjadi makanan media massa maupun yang onlin-onlinan. Maka ketimbang malunya sampai di sini, ya cukup dipendam dalam perasaan. “Nanti Allah akan membalas-Nya”, begitu prinsip para korban pada umumnya.
Yang sering terjadi dan selalu menjadi konsumsi media massa, adalah pelecehan seksual dosen terhadap mahasiswanya, ustadz terhadap santrinya. Itu selalu terjadi seperti iklan Coca Cola, yakni di mana saja dan kapan saja. Soalnya yang namanya setan, selalu standby untuk urusan begituan. Mereka paling demen mengajak manusia ke jurang kehancuran dan kenistaan, karena nantinya akan dijadikan teman atau relawan dalam neraka jahanam.
Namun demikian Forum Rektor tak pernah bikin pos pengaduan seperti Disnaker Bekasi, untuk menindak dosen-dosennya yang celamitan. Begitu juga MUI daerah juga tak pernah melayani pengaduan terhadap oknum-oknum ustadz yang TBLJL (tak boleh lihat jidat licin). Semuanya cukup diserahkan ke polisi, sebab mereka sudah punya acuan KUHP untuk tindak pidana kekerasan seksual.
Kenapa pula disebut kekerasan seksual? Benar memang, bahwa untuk tindakan seksual itu harus keras dulu. Tapi bukan itu maksudnya. Kekerasan di sini mengandung makna bahwa praktek tindakan seksual itu diperoleh dengan paksaan, ketika korban tidak merelakan “aset”-nya dijarah oleh pihak yang tidak berhak.
Tidak jelas, layanan pengaduan Disnaker Bekasi itu apa dapat respon dari masyarakat. Ketika gogling di internet, ternyata belum ada berita tentang respon masyarakat. Meski ada perilaku semacam itu, diyakini mereka takkan mengadukan hal itu. Sebab justru akan mempermalukan diri sendiri, sekaligus malah bikin mati pasaran. Sebab cowok-cowok yang dulu naksir, jadi mencabut kepeminatan dengan alasan, “Ah, dia ternyata sudah sisanya boss.” Walhasil rahasia itu akan disimpannya sendiri, ibarat kata: suket godong aja ana sing ngerti (siapapun tak boleh tahu). (Cantrik Metaram)





