Memiliki keterbatasan mental tak selalu membuat orang tak mengenal baik dan salah, lantas bertindak sesuka hati. Hal ini ditunjukkan oleh Kiki Bintang, memiliki keterbatasan mental sejak kecil, ternyata tak menghalanginya untuk belajar agama secara mendalam. Pemuda yang akrab dipanggil Kiki ini setiap hari datang ke Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Ibnu Hajar Jatiasih untuk belajar mengaji dan mengenal Islam secara mendalam.
Menurut penuturan gurunya, Muhammad Ramdhani, Kiki merupakan murid yang paling rajin, tidak pernah absen walaupun hujan sekalipun. “Kiki murid yang paling rajin diantara anak-anak. Ya, meskipun membacanya masih ketinggalan jauh karena memang Kiki memiliki keterbatasan tetapi semangatnya untuk belajar patut diancungi jempol,” ujarnya.
Kiki merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Usianya kini sudah kepala dua. Meskipun begitu, ia masih suka bermain dengan anak-anak di bawah umur. Kiki mempunyai keterbatasan mental dalam berpikir dan berbicara sejak kecil. Hal tersebut membuatnya hanya mampu mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SD saja.
Selain itu, Kiki juga malu pergi ke sekolah karena sering dihina oleh teman-temannya. Alasan terebut membuatnya tak ingin lagi pergi ke sekolah. Kiki merasa lebih nyaman untuk belajar di TPQ karena menurutnya orang-orangnya baik semua. “Di sini di TPQ kita belajar untuk saling menghargai antar sesama, karena kita semua bersaudara,” tutur Ramdani.
Setiap pagi Kiki selalu membantu orang tuanya berjualan sayur keliling kompleks hingga siang hari. Aktivitas tersebut dilakukan setiap hari karena kesadaran diri sendiri ingin membantu orang tuanya. “Saya ingin membantu orang tua saya”, katanya. Selesai membantu orang tuanya berjualan sayur, Kiki biasanya main sebentar lalu bersiap-siap untuk pergi ke TPQ untuk mengaji dan belajar Islam.
Berdasarkan pengakuan kakak kandungnya,Tin, Kiki belajar mengaji setiap hari bukan karena paksaan dari siapapun. “Di keluarga tidak ada yang memaksa Kiki untuk belajar mengaji, Kiki pergi ke TPQ karena kemauannya sendiri,” katanya. Menurut penuturan Tin, aktivitas Kiki belajar Agama tidak sebatas pada mengaji di TPQ saja, bahkan Kiki juga aktif di majelis taklim dan sering ikut pengajian di sekitar rumahnya.
Kecintaan Kiki pada mengaji sampai ia pernah bertanya ke keluarganya bagaimana kelangsungan belajarnya saat ia akan pulang kampung. “Jadi pada waktu itu keluarga akan pulang kampung. Kiki tiba-tiba bertanya bagaimana nanti mengajinya jika di kampung. Ia tidak ingin absen dalam mengaji,” tambah Tin. Kiki merupakan cerminan pemuda yang tak pernah menyerah pada keterbatasan. Keterbatasan bukanlah halangan untuk terus belajar dan mendalami Agama.





