MAKASSAR – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Selatan mengatakan ribuan babi mati akibat terjangkit wabah flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).
Kasus pertama kali ditemukan pada November 2022 lalu di Kabupaten Gowa, dan kini wabah flu babi sudah menyebar ke dua daerah lain yakni, Luwu Timur dan Luwu Utara.
“Kami koordinasikan dengan dinas terkait pemerintah setempat yang terdampak, kemudian pengambilan sampel, pengawasan lalu lintas hewan. Menyemprotkan disinfektan di lingkungan kandang dan segera menangani bangkai serta hewan yang sakit,” jelas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel Nurlina Saking, dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (16/5).
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi pernah mengatakan jika flu babi tidak menular pada manusia, namun dia mengingatkan virus penyebab flu babi Afrika bisa menempel dan bertahan di lingkungan dan daging olahan.
Selain itu, virus bisa bertahan pada pakaian orang yang kontak langsung dengan babi yang terinfeksi. Oleh karenanya, babi yang terinfeksi atau mati harus segera dipisahkan dan tidak dijual. Peternak pun perlu mengenal ciri babi yang terinfeksi seperti demam, pendarahan dan kematian mendadak.





