HSN-sarung, Apa Kabar?

Sarung sudah menjadi budaya nasional, karena non Islam pun mengenakannya.

JANGAN salah, meskipun akronimnya sama-sama HSN tetapi maknanya beda. Yang satu berarti Hari Santri Nasional, yang satunya lagi kepanjangan Hari Sarung Nasional. Dua-duanya diciptakan oleh Presiden Jokowi. Bedanya adalah, HSN soal santri yang diresmikan Presiden pada 15 Oktober 2015 tetap populer, sementara HSN soal sarung tanpa gaung. Maklum Kemendikbud & Ristek selalu penanggungjawabnya tersita urusan kurikulum Merdeka Belajar yang dilibas pandemi Covid-19, sehingga lahir kebijakan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) dan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Mengapa HSN-santri bisa eksis, sementara HSN-sarung hilang begitu saja? Karena HSN-santri diperingati oleh 30.000-an ponpes se-Indonesia. Sedangkan HSN-sarung, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud & Ristek  kurang bersosialisasi. Bahkan, KH Makruf Amin yang biasanya selalu pakai sarung, beberapa bulan setelah Hari Sarung Nasional diresmikan, malah pantalonan tak pernah lagi pakai sarung! Ini terjadi sejak dilantik jadi Wapres-nya Jokowi bulan Oktober 2019.

Tak jelas apa alasannya dulu Presiden Jokowi menjadikan tanggal 3 Maret 2019 sebagai Hari Sarung Nasional. Pastinya, ketika Festival Sarung Indonesia 2019 di Plaza Tenggara GBK, Senayan, Jakarta, dibuka oleh Presiden Jokowi. Hari itu juga Presiden lalu menetapkan  tanggal 3 Maret sebagai Hari Sarung Nasional dan diperingati setiap tahun.

Dalam peresmiannya Presiden  Jokowi menyampaikan bahwa sarung termasuk kekayaan budaya. Jokowi juga mencanangkan penggunaan sarung sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan. Padahal jauh sebelum diserukan Presiden, bahkan sebelum Jokowi lahir tahun 1961, bagi kaum nadliyin pakai sarung sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Maka jika ada istilah “kaum sarungan” yang dimaksudkan adalah umat NU.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj (2010-2021) juga pernah mengatakan, peci dan sarung adalah simbol umat Islam Nusantara. Bahkan begitu merakyatnya peci dan sarung sebagai budaya nasional, umat non Islam pun banyak yang mengenakannya. Nah, saking merakyatnya sarung, tak perlulah Presiden Jokowi cawe-cawe dalam urusan memasyarakatkan sarung apa lagi menyarungkan masyarakat.

Gubernur Jatim Basofi Sudirman (1993-1998) pernah mencoba memasyarakatkan sarung, sehingga kala itu dikenal sarung sarfi (sarung basofi). Kala itu di Jatim sarung benar-benar diperkosa; sebab biasanya sarung ya untuk penutup tubuh bagian bawah, oleh Basofi dijadikan jas. Mungkin beliaunya menganggap, janggal kan pada awalnya. Setelah banyak dipakai masyarakat kan menjadi hal biasa. Faktnya, setelah Basofi turun tahta, tak ada lagi orang kondangan pakai jas berbahan sarung.

Lagi-lagi menurut KH. Said Aqil Siradj, sarung atau sarungan itu berasal dari bahasa Arab sar’an. Orang Jawa (khususnya Jateng), susah untuk melafallkan ‘ain; karenanya robil ‘alamin jadi robil ngalamin, Said jadi Sangid. Maka tak mengherankan sar’an menjadi sarngan dan bergeser lagi menjadi sarungan.

Sarung memang jenis pakaian yang sangat demokratis. Dipadukan dengan  koko luwes, dipakai bersama jas bagian atas juga cocok. Khotib Jumat dan penghulu banyak yang mengenakannnya. Untuk selimut juga cocok. Cuma bagi yang bertubuh tinggi agak merepotkan; sebab ditarik ke atas kaki kedinginan, ditarik ke bawah kepala yang kedinginan. Beda lagi dengan anggaran sarung, itu maksudnya adalah anggaran yang terlalu mepet, dibelanjakan serba tanggung.

Tapi belakangan ini, seiring dengan kenakalan para ABG, sarung di bulan ramadan malah dijadikan alat perang, sehingga ada istilah perang sarung. Yang biasa kita dengar kan: Perang Diponegoro, Perang Bubat, Perang Padri, atau perang urat syaraf. Tapi perang sarung adalah saling pukul dengan sarung. Celakanya, si anak nakal itu memasukkan baru ke dalam sarungnya, sehingga ketika dipukulkan ke tubuh atau kepala lawan bisa bikin benjol.

Karenanya polisi kini  dengan tegas melarang Perang Sarung di bulan puasa. Disebut tegas karena tak perlu lagi dilarang dengan istilah gencatan senjata, sebagaimana perang yang sesungguhnya. (Cantrik Metaram)

Advertisement