BERITA pencurian baut dan kabel tembaga KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung) di Karawang beberapa hari lalu sungguh menyedihkan. Kesedihan kuadrat malah. Pertama, pelakunya sekuriti KCJB sendiri. Kedua, mereka terdiri dari 6 orang, yang nihil dari sense of belonging (rasa memilikiui) atas benda-benda aset negara. Mereka tak punya kebanggaan pada kemampuan anak bangsa. Yang di benaknya hanya uang dan uang. Setumpuk baut dan kabel bisa berharga ratusan ribu rupiah, itu saja!
Peristiwa terkutuk itu terjadi di jalur KCJB daerah Karawang (Jabar). Otaknya adalah KM (27) sekuriti PT KCIC (Kereta Cepat Indonesia Cina), pada trek 3 Karawang, dibantu sejumlah karyawan kontraktor. Mereka bekerja malam hari, ketika lampu dipadamkan. Begitu baut dan kabel tembaga itu bisa dilepas, langsung dikiloin pada penadah. Uangnya dibagito, artinya dibagi roto.
Untung kejahatan para kekunyuk itu segera ketahuan, sehingga segera dilakukan perbaikan. Bila sampai lolos dari pengawasan, KCJB yang sedang uji coba itu bisa mengalami kecelakaan fatal. Apa kata dunia. Tapi mereka tak berpikir sampai ke sini, karena otaknya hanyalah otak pemulung dan pencari barang rongsokan. Yang penting besi dan tembaga bisa dilipet jadi duit.
Ini sama persis dengan para pencuri patung dr. Abdulrachman Saleh di depan UI Salemba. Bukan mengenang perjuangan beliau di masa revolusi, tapi sekian kilo perunggu diharga sekian juta. Idem dito dengan proyek Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura. Baru saja jadi baut-baut jembatan dicopoti pemulung untuk dijual kiloan. Duh, duh, anak bangsa kok begini……
Bagi yang tidak senang dengan proyek KCJB tersebut pasti akan nyukurin sambil tertawa berguling-guling ketika mendengar KCJB terguling. Sebab mereka menilai itu proyek mercusuar. Apa lagi bekerjasamanya dengan Cina, semakin tidak sukalah mereka. Pokoknya asal ada bau-baunya Cina mendadak allergi. Padahal di rumah mereka juga suka kacang cina rebus. Dan salat ke mesjid pakai baju koko, itu sebetulnya juga mode hasil kreasi bangsa Cina.
Ketika KCJB baru berwujud gagasan dan kemudian dinarasikan –begitu istilah Anies Baswedan– yang pertama-tama tidak suka bahkan cenderung meledek adalah RM Roy Suryo mantan Menpora. Dia bilang bahw proyek itu sebagai kecebong, artinya: kereta cepat boong-boongan! Publik pun menilai, seorang mantan menteri kok mulutnya receh banget. Tapi alhamdulillah, dia kena batunya di kasus lain. Kini Roy Suryo “kepenak nggone” di LP Cipinang dalam kasus stupa candi Borobudur yang dinilai SARA.
Kedua adalah ekonom UI Faisal Basri. Dia bilang, sampai kiamat KCJB akan merugi. Alasannya, proyeknya Presiden Jokowi ini melawan akal sehat. Jika dibangun untuk rute Jakarta – Surabaya, itu masuk akal karena fungsinya sebagai alternatifnya pesawat. Tapi jika hanya jarak pendek Jakarta – Bandung, warga Jakarta atau Bandung tentu memilih kendaraan pribadi. Makanya Faisal Basri berani mengatakan, sampai kiamat KCJB takkan pernah untung.
Ekonom senior ini memang banyak mengkritik kebijakan ekonomi Presiden Jokowi. Salah Presiden juga sih, kenapa Faisal Basri hanya dipercaya untuk menginvestigasi PT Petral yang jadi benalu di Pertamina. Begitu berhasil dengan akibat PT Petral dibubarkan, kenapa beliaunya tak diangkat jadi menteri urusan perekonomian, bisa Mendag atau Kepala Bappenas, gitu.
Penentang KCJB ketiga adalah Said Didu, mantan Sekretaris Mentri BUMN era Rini Sumarno. Ini paling militan, ada saja pelurunya untuk menembaki proyek KCJB ini, sehingga ada warganet yang berkomentar: “Jadi inget musik penutup siaran RRI, didu didu didu didu…….kenapa kau begitu!”
Senada dengan Faisal Basri dia menilai, proyek KCJB akan menjadi malaikat elmaut PT KAI sejak dikerjakan hingga dioperasikan. Bagaimana tidak? PT KAI sendiri memiliki beban utang Rp 16 triliun, ditambahi lagi beban biaya KCJB –tahap awal– Rp 4,1 triliun. Dalam kondisi termehek-mehek demikian, nantinya tiket hanya dijual dalam kisaran Rp 125.000,- sampai Rp 250.000,- Padahal dengan investasi Rp 80 triliun dan harga tiket Rp 400.000,- saja, baru balik modal 40 tahun kemudian!
Begitulah Said Didu, ombyokan kritikan yang ditembakkan ke pemerintahan Jokowi. Bahkan dia pernah dipolisikan Luhut Panjaitan menteri segala urusan, gara-gara menuduh Luhut lebih mengutamakan investasi ketimbang penanganan Covid-19. Namun demikian dia tak pernah kapok, terus saja menembak selagi peluru masih beronggok-onggok.
Kritikan Said Didu memang ada benarnya, karena dana proyek KCJB terus melar bak balon ditiup. Dari Rp 4,1 triliun ketika start, membengkak jadi Rp 112 triliun. Walhasil janji Jokowi bahwa proyek tersebut takkan mengganggu APBN, pada akhirnya disuntik juga ketimbang jadi mangkrak, bersaing dengan proyek Hambalang made in Cikeas. Celakanya, meski RRC siap nalangi tapi prosentase bunga tak bisa diturunkan.
Uniknya, meski dana proyek KCJB “nyenen kemis”, faktanya berhasil terealisasikan. Kini sudah beberapa kali diadakan uji coba. Oleh karena itu jangan ada lagi manusia-manusia model sekuriti KM dari Karawang, proyek nasional kebanggan bangsa dirusak hanya untuk kepentingan recehan. (Cantrik Metaram)





