DIAKUI atau tidak, masyarakat kita lebih akrab dengan sambel terasi ketimbang urusan literasi (bacaan). Ditambah era digital yang sudah mendunia, orang jadi malas membaca karena lebih enak menonton Youtube. Padahal Kepala Perpusnas RI M. Syarif Bando mengatakan bahwa budaya membaca penting untuk meningkatkan pembangunan nasional. Faktanya berdasarkan survei, dari 1.000 orang Indonesia yang senang membaca hanya 1 orang. Karenanya perpustakaan sepi, toko buku sekelas Gunung Agung menutup seluruh gerainya di Indonesia.
Pandemi Corona yang dituding jadi penyebabnya. Tapi faktanya, meski Corona sudah mereda pembeli buku tak meningkat juga. Jangan-jangan PT. Gunung Agung kurang sabar saja. Bagaimana mau sabar, pemasukan menurun drastis tapi tiap bulan harus menggaji ribuan karyawan. Pemilik Gunung Agung memang harus realistis, karena jualan buku bukan jualan janji. Kalau Pilpres sih, Capres potensial yang kaya akan janji banyak yang membohiri.
Bandingkan dengan kuliner yang menawarkan menu dengan sambel terasi pedasnya tingkat setan –karenanya disebut sambel setan– penggemarnya cukup banyak. Orang yang memasuki toko buku dengan mereka yang memasuki kuliner sambel setan, jumlahnya lebih banyak yang mau hohah hohah…..kepedasan. Gedung penerbit Kharisma di daerah Sawangan yang kini jadi bangunan kosong, jangan-jangan juga bagian dari dampak turunnya minat baca masyarakat.
Perhatikan, kini orang kulineran tak hanya di kota besar, di kota kecamatan saja kini banyak warung makan dan jajan yang munculnya hanya sore hari hingga pukul 22:00. Makan apa saja ada, apa lagi nasi uduk pecel lele, itu paling ngetren, sehingga Truno Lele rajanya kaum lele pun gelisah. Sejak kulineran menjadi gaya hidup masa kini, kawulanya para lele dan jajarannya semakin berkurang karena pindah ke wajan penggorengan.
Sedangkan orang masuk perpustakaan, toko buku semakin berkurang. Orang nenteng lipatan koran juga tak ada lagi, karena kios dan loper koran juga sudah jarang sekali. Jika orang baca buku tebel dan disorot kamera hanyalah Anies Baswedan untuk tujuan politik dan Rudy S. Kamri untuk pemanis konten di Youtube Kanal Anak Bangsa. Blung ng ng ng ng……………..
Pendek kata orang berlomba wisata ngisi perut ketimbang wisata ngisi otak. Karenanya survei Unesco mencatat pada 2016 bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah, karena dari 1.000 orang ternyata hanya 1 yang hobi membaca. Tapi giliran di medsos, manusia Indonesia paling cerewet. Komentar atau opininya mayoritas tidak tertata bahasanya dan ejaannya pun ngawur bin asal-asalan. Mbak ditulis mba, Pak diketik pa, bahkan wartawan sekarang meninggal pun diganti jadi wafat meski hanya orang biasa bukan petinggi negara sekelas presiden atau raja.
Salah tulis, salah bahasa terjadi karena malas membaca, jangankan koran atau buku, buntel teh saja malas membacanya. Mereka kini ogah menyisihkan duit untuk beli bacaan. Tapi giliran beli pulsa paketan, jor-joran. Bila ada HP model baru, penasaran untuk membelinya. Maka tak mengherankan data BPS menyebutkan, 67 persen rakyat Indonesia memiliki HP canggih. Jumlah HP yang dimiliki rakyat tahun 2023 ini mencapai 370 juta dari penduduk RI yang 270 juta. Itu artinya ada satu orang yang memiliki HP 2-3 buah. Satu untuk keluarga, kedua untuk bisnis, HP ketiga untuk PIL maupun WIL; siapa tahu.
Maka benar kata Kepala Perpusnas RI M. Syarif Bando, “Dengan literasi, bangsa yang miskin sumber daya alam bisa menciptakan teknologi, produk, dan jasa, sehingga mampu meningkatkan pendapatan bangsa. Sebaliknya, negara yang kaya sumber daya alam tetapi tidak punya sumber daya manusia berkualitas, dapat menurunkan pendapatan per kapita.” Manusia yang miskin literasi memang jadi miskin gagasan. Jangankan gagasan, diajak ngobrol kekinian oleh sesama teman saja tidak nyambung.
Masyarakat kini memang HP minded, tapi kebanyakan yang ditonton konten Youtube atau musik, bukan yang bentuk tulisan atau berita. Sampai-sampai para mengelola media online mengalah, kalimat dibikin sependek mungkin. Dalam bahasa media cetak satu alinea terdiri dari beberapa kalimat, media online memaksakan diri setiap kalimat ya satu alinea. Walhasil bahasanya jadi tidak enak dibaca, tapi begitulah maunya para pembaca di media online atau warganet. Dan begitulah manusia miskin literasi, otaknya pun isinya jadi bau terasi. (Cantrik Metaram)





