NAIK haji adalah impian setiap muslim dan muslimat. Tapi jika tidak memperoleh ridla Allah Swt, meski banyak duit, sudah lolos waiting list, bahkan sudah mendarat di bandara King Abdul Azis Jedah; tetap tak bisa masuk kota Mekah Almukaromah gara-gara ditolak Imigrasi setempat. Dia terpaksa dipulangkan ke Indonesia kembali. Betapa malunya dia, niatnya menunaikan rukun Islam ke-5 ternyata dapatnya hanya gelar “Haji Jedah”.
Kemarin diberitakan, sebanyak lima jemaah haji Indonesia yang tiba melalui Bandara Jedah dan Bandara Madinah ditolak masuk oleh pihak imigrasi. Masalahnya, kelima jemaah itu pernah memiliki kasus sebelumnya dan pernah dideportasi dari Arab Saudi. Untungnya, pihak Konsul Jendral RI di Jedah tidak menyebutkan nama-namanya. Mereka cukup dipulangkan ke kembali ke Tanah Air bersama pesawat ngglondang (tanpa muatan).
Mereka pasti malu sekali, sebab saat mau berangkat sudah ratiban segala, didoakan oleh segenap sanak keluarga, semoga nantinya menjadi haji mabrur. Eh, ternyata baru sampai bandara Arab Saudi sudah dipaksa balik. Jangan-jangan, saking malunya mereka tak berani pulang langsung ke rumah. Muter-muter dulu di Jakarta sampai tiba saatnya jemaah haji kembali. Untuk menutup malu, mereka belanja oleh-oleh haji cukup di Pasar Tanah Abang. Jika terserang batuk, itu malah alhmadulillah wasyukurillah, sebab lazimnya orang sepulang haji memang terserang batuk. “Hanya onta yang tak kena batuk di Mekah-Medinah,” kata mereka yang sering berangkat umrah.
Jika Allah tidak meridloi, ada saja aralnya sehingga seorang jemaah tidak bisa menjalankan prosesi haji selama di Mekah dan Madinah. Dia sudah lolos pemeriksaan Imigrasi, tapi begitu masuk Masjidil Haram, dia sama sekali tidak melihat Ka’bah. Padahal lazimnya jemaah haji, begitu melihat bangunan Ka’bah di halaman Masjidil Haram, langsung menangis minimal meneteskan air mata. Orang ini sama sekali tidak melihatnya. Justru dia malah mudah melihat Ka’bah saat di Tanah Air, yakni ketika ikut kampanye PPP menjelang Pemilu. Jadi sekedar gambar di baliho dan spanduk.
Kisah di atas diceritakan Youtuber Alman Maulana urang Subang (Jabar) dalam salah satu kontennya. Jemaah asal Indonesia itu di Tanah Air terkenal sebagai rentenir di kampungnya; pinjam Rp 1juta kembali Rp 1,2 juta. Telat membayar bunga, otomatis bunga itu menjelma jadi pokok, sehingga bunganya jadi berlipat-lipat. Jemaah model begini ini Allah Swt langsung menghukumnnya secara telak: tidak melihat Ka’bah, apa lagi mencium Hajar Aswad-nya.
Masih cerita Alman Maulana. Ada juga jemaah yang setibanya di Mekah dan berhasil melihat Ka’bah, tapi dia sama sekali tak tergetar hati dan jiwanya. Yang lain pada banyak menangis, dia hanya diam saja bagaikan Reca Nggladag di Solo. Bahkan yang lain pada salat 5 waktu di Masjidil Haram, dia bawaannya males saja dan tetap tinggal di hotel. Diapun mikir, apa gerangan penyebabnya. Begitu dia buka dompet, eh ada jimat terselip di dalamnya. Oh, ini rupanya biang keroknya. Dan benar saja, begitu dibuang itu barang, dia langsung bisa menangis seperti jemaah lainnya dan pada umumnnya.
Pada musim haji 1444 H ini, ada peristiwa lucu yang dialami Mbah Juhani (95) jemaah haji asal Majalengka. Setibanya di Bandara Madinah mendadak dia minta dipulangkan ke Indonesia karena ingat ayam peliharaannya belum diberi makan. Ada juga jemaah nenek-nenek Saida asal Halmahera (Maluku) langsung ngamuk-ngamuk dalam bis minta pulang. Rupanya dia penderita dimensia, di mana penderita dapat membuat seseorang gelisah, atau tidak tenang. Dalam satu momen yang mengusik pikirannnya, seorang penderita dimensia akan secara tiba-tiba berteriak dan meracau.
Maka selama menunaikan ibadah haji, di kota Mekah dan Madinah, janganlah takabur! Mengaku sudah hafal di daerah itu, karena kesombongannya mendadak bisa linglung, jadi mirip enthung nggak tahu endi lor endi kidul. Kata para pembimbing haji dan umrah, jika melihat yang aneh-aneh dan tidak nyaman di Mekah-Madinah, cukup istigfar saja. Jangan berkomentar langsung macam di medsos, bisa serta merta dibayar tunai oleh Sang Pencipta.
Sekitar musim haji tahun 2000-an, ketika naik haji masih begitu gampang belum ada aturan waiting list (2004), ada seorang jemaah dari Kloter Juanda (Surabaya) bikin heboh. Ketika pesawat mau take of, mendengar deru pesawat langsung panik minta diturunkan dan pulang, “Gak dadi kaji gak papa, aku molih waelah (nggak dapat gelar haji nggak apa-apa, aku pulang sajalah).” Kata si kakek.
Masih dari Kloter Surabaya, tahun 1992 dari Bandara Juanda seorang jemaah haji gelap bernama Chairon Nasihin (kini 61 tahun) berhasil menyusup sampai bandara King Abdul Azis Jedah. Takut jadi urusan di Imigrasi Arab Saudi, Choiron tidak diturunkan, hanya “disekap” dalam toilet pesawat, kemudian dipulangkan ke Tanah Air untuk menjalani proses hukum.
Anak muda asal Sumobito Jombang ini pengin banget naik haji, tapi tak mampu berangkat meski saat itu ONH-nya baru Rp 6 jutaan. Bak naik truk, Choiron nunut pesawat haji secara gelap-gelapan. Tetapi ketika ketahuan beritanya bikin gempar dan simpati orang. Sehingga beberapa tahun berikutnya dia dapat sponsor naik haji 2 kali secara gratis dan 1 kali umroh. Namun demikian Choiron Nasihin hingga kini tetap digelari sebagai: Choiron si kaji nunut. (Cantrik Metaram)





