JAKARTA – Psikiater dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Dr. Zulvia Syarif, menyatakan bahwa penggunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) hanya sekali saja dapat menyebabkan penurunan fungsi otak.
“Secara kesehatan, Napza memengaruhi sistem saraf pusat di otak, mengubah tingkat kesadaran, cara berpikir, temperamen, dan lain sebagainya. Artinya, apa yang seharusnya berjalan normal, menjadi tidak normal karena pengaruh zat ini,” ungkap Zulvia melansir Antara, Rabu (28/6/2023).
Dengan demikian, meskipun penggunaan Napza hanya terjadi satu atau dua kali, dampaknya tetap akan terasa pada sel-sel saraf atau neuron di otak.
Zulvia menjelaskan bahwa penggunaan Napza secara berulang atau dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan penurunan kemampuan memori, penurunan konsentrasi, kesulitan dalam pengambilan keputusan, kesulitan dalam membedakan antara yang benar dan salah, baik dan buruk, bahkan sulit merencanakan masa depan.
“Mereka yang telah lama menggunakan Napza cenderung bersifat impulsif. Hidup mereka cenderung tanpa perencanaan. Hal ini karena ada bagian otak yang mengalami gangguan fungsi,” ucap Zulvia.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan Napza hanya sekali saja tetap akan merusak sel otak. Hal ini menjadi lebih parah jika digunakan pada masa pertumbuhan atau masa remaja, ketika sel otak masih dalam tahap perkembangan, sehingga akhirnya sel otak rusak akibat Napza.
“Generasi yang menggunakan Napza tidak akan memiliki masa depan yang cerah. Hal ini sangat disayangkan,” tambahnya.
Zulvia Syarif juga menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah mengalami kondisi adiksi (kecanduan), berarti ia mengalami gangguan pada otak.
Penelitian menunjukkan bahwa adiksi bersifat kronis dan sering kambuh, sehingga membutuhkan penyembuhan jangka panjang.
“Kita harus sepakat bahwa adiksi ini adalah sebuah penyakit. Ini bukan masalah tingkah laku yang nakal atau tindakan kejahatan semata, atau bahwa orang tersebut tidak takut akan dosa. Kita harus menyepakati bahwa adiksi adalah penyakit. Oleh karena itu, pendekatan yang diperlukan adalah pendekatan medis,” ungkapnya.
Secara medis, adiksi disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, faktor biologis (genetik, transmitter neuron). Kedua, faktor psikologis yang melibatkan masalah pada kepribadian. Dan ketiga, faktor sosial yang mungkin berkaitan dengan masalah di sekitar lingkungan.
“Dalam penanganan adiksi, secara biologis akan diberikan obat-obatan. Secara psikologis, individu akan mendapatkan bimbingan konseling. Jika ada masalah sosial, mereka akan diberikan keterampilan agar dapat diterima kembali oleh masyarakat, termasuk juga pemberian pembekalan spiritual,” ungkapnya.
Namun, penanganan spiritual atau religius seringkali dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi adiksi. Meskipun itu bisa dilakukan, namun pendekatan tersebut hanya merupakan tambahan.
“Kita tidak boleh hanya mengandalkan pendekatan religius atau spiritual, tetapi pendekatan medis tetap menjadi yang utama,” tuturnya.





