Lukas Enembe = Kumbakarno?

Lukas Enembe sebagai jago makan, bukan sebagai pahlawan sebagaimana Kumbokarno.

BERITA aneh sekaligus mengejutkan baru saja tersiar dari KPK. Eks Gubernur Papua Lukas Enembe yang kini dikandangi KPK, ternyata mirip-mirip dengan wayang Kumbakarno ksatria Pangleburgangsa dari Ngalengkadiraja. Bagaimana tidak? Kata KPK uang makan dan minum Lukas Enembe ini sehari mencapai Rp 1 miliar. Segede-gedenya tadhah (porsi makan) seseorang, sehari Rp 500.000,- saja sudah gede banget. Kecuali orang itu seperti wayang Kumbukarno, yang sekali makan bisa menghabiskan tumpeng sewu (nasi tumpang seribu).

Lukas Enembe ini memang gubernur kelotokan. Menjadi Kepala Daerah, tapi dia hanya memikirkan diri sendiri, bukan memikirkan rakyatnya. Bayangkan, ketika rakyat Papua masih berjudi dengan nasibnya, dia enak saja berjudi ke mancanegara dengan menghambur-hamburkan uang negara. APBD mestinya untuk mensejahterakan rakyat Papua, diselewengkan untuk main jadi. Jumlahnya pun  unik, Rp 560 miliar sama persis dengan uang APBD DKI yang dihambur-hamburkan Gubernur Anies untuk proyek Formula-E.

Paling aneh, Lukas Enembe ini katanya dalam kondisi sakit, tapi kok bisa kelayapan ke mana-mana, termasuk main judi ke Malaysia, Singapura dan Filipina. Mungkin jika tempat judi Petak Sembilan di Jakarta Barat masih ada, bisa jadi Lukas Enembe ke sini pula. Sayangnya, jaman perjudian era Casino tahun 1970-an, Lukas Enembe masih bocil usia 3 tahunan. Dia belum tahu lezatnya duit bermiliar-miliar sebagaimana sekarang ini.

Sejak era reformasi, tepatnya tahun 2004 hingga 2023 ini, pemerintah telah menggelontorkan dana Otsus (otonomi khusus) untuk Papua, jumlahnya sudah mencapai Rp 1.000,7 triliun. Tapi bagaikan minyak PPO, hasilnya menguap saja tak berdampak pada kesejahteraan rakyat Papua khususnyan Irian Barat –istilah jaman Orde Lama– secara keseluruhan.

Kata Menko Polhukam Mahfud MD, dana itu bubar dikorupsi para pejabatnya. Bahkan khusus untuk Papua sendiri sebanyak Rp 500 triliun di era Lukas Enembe, duitnya wasalam tanpa bekas. Jika di Papua banyak jaringan jalan baru sampai 4.500 Km, itu dibangun oleh pemerintah pusat (Kementrian PUPR), bukan oleh Pemda setempat. Sayangnya, sebelum Lukas Enembe korupsi dana Otsus ini tak muncul ke permukaan, apa lagi Pengadilan.

Sebagai koruptor, Lukas Enembe ini memang paling-paling ngeruk duit negara ketika jadi Gubernur. Kata Alexander Marwata Wakil Ketua KPK, setidaknya dia telah  mengantongi dana tidak halal sebanyak Rp 51 miliar. Suap Rp 1 miliar dari Direktur PT Tabi Bangun Papua, Rijatono Lakka, dan Rp 50 miliar berupa gratifikasi selama menjabat Gubernur. Kata Marwata, ada kemungkinan uang yang diterima Lukas Ebnembe sampai triuliunan.

Meski jumlahnya tak sebesar yang ditilep eks Mentri Kominfo Johnny G. Plate, tapi namanya korupsi uang negara harus dikutuk. Sebab jika dia tak menggerogoti uang negara, artinya dana Otsos benar-benar didayagunakan buat rakyat Papua, kemiskinan pasti sudah enyah dari bumi Papua. Jika ada kemajuan Papua sekarang, barulah harga BBM sama dengan di Jawa, banyak jalan baru termasuk Trans Papua, dan rakyatnya tidak lagi berkoteka.

Dengan derasnya pemasukan uang ke koceknya, KPK sampai punya gambaran, sehari saja Lukas Enembe membutuhkan dana untuk makan minum bersama konco-konconya sampai Rp 1 miliar. Jelas ini anggarannya dimark up habis. Yang bener makan minum sehari kok sampai Rp 1miliar, lalu yang dimakan apa, dan yang diminum apa pula. Serakus-rakusnya orang makan, jika sendirian Rp 500.000,- saja sudah gede banget, jika sama kroni-kroninya Rp 1 juta juga sudah mewah.

Lukas Enembe yang doyan makan banyak, mengingatkan pada Haryo Kumbokarno tokoh dari Ngalengkadiraja, merupakan adik kandung Prabu Dasamuka. Dia itu sosok yang ngantukan macam anggota DPR, tapi hobinya makan tidak tanggung-tanggung. Jika ajian Gedong Menga sudah diterapkan, makan tumpeng sewu barulah kenyang. Ketika sendawa suaranya menggelegar seperti gludug mangsa ke sanga (petir di musim banyak hujan).

Dikisahkan, ksatria dari Panglebur Gangsa ini dipanggil kakaknya, Prabu Dasamuka untuk berperang membela negaranya, yang ancur-ancuran diserbu pasukan kera anak buah Prabu Ramawijaya. Masalahnya, Prabu Dasamuka cari gara-gara lantaran mencuri Dewi Sinta istri Prabu Rama dari Pancawati. Diharapkan, dengan tampilnya Kumbokarno, pasukan kera bisa diusir dan Ngalengkadiraja kembali aman dan damai.

Dasamuka tahu persis akan hobi adiknya. Maka dia boking katering untuk siapkan 1.000 tumpeng berikut lauk pauknya. Minumnya 2 drum ciu Mbekonang Solo. Setelah Kumbokarno makan dan minum sampai mabuk, barulah Prabu Dasamuka mengutarakan maksud sebenarnya. Ternyata Kumbokarno tak mau maju perang, karena urusannya soal colong-menyolong perempuan. Dan Kumbukarno malu punya kakak maling wedokan.

“Kalau Dimas Kumbokarno tak mau berperang, kembalikan makanan dan minuman yang sudah mau makan!” omel Prabu Dasamuka marah sekali. Dan tiba-tiba saja, Kumbokarno hoekkkkkk…… memuntahhkan segala makanan dan minuman yang baru saja dimakannya. Dia segera tinggalkan istana Ngalengka seraya berkata, “Jika aku maju bertempur, bukan karena membela Dasamuka yang tamak, tapi membela negaraku yang diserbu musuh!” (Cantrik Metaram)

Advertisement