Menjadi Haji Mabrur

Sebagai tanda rasa syukur pada Allah Swt, begitu turun dari pesawat sejumlah jemaah haji langsung mencium landasan.

MULAI Selasa kemarin (04/07) jemaah haji Indonesia mulai berdatangan kembali ke Tanah Air, melalui embarkasi masing-masing. Begitu mendarat dan turun dari pesawat banyak jemaah yang langsung sujud mencium landasan. Ini sebagai bentuk rasa syukur pada Illahi telah kembali dengan selamat, setelah menuaikan rukun Islam yang ke-5. Haji adalah kewajiban agama yang memerlukan optimalisasi dana, tenaga dan …..kesabaran. Setibanya di Tanah Air keluarga dan handai taulan pun mendoakan: “Semoga menjadi haji mabrur!”

Sedikit kata-kata itu, tapi menyejukkan didengar bagi yang didoakan. Tapi apa pula makna haji mabrur tersebut? Menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr. Asrorun Ni’am, dari sisi bahasa, al mabrur adalah isim maf’ul dari akar kata al birru yang artinya kebaikan atau kebajikan. Dengan demikian, al hajjul mabruru artinya haji yang diberikan kebaikan dan kebajikan. Sedangkan dari sisi istilah, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, kemudian berdampak pada kebaikan diri, serta bermanfaat bagi orang lain.

Tahun ini Indonesia memberangkatkan jemah 209.782 orang, terbagi dalam 558 kloter dari 13 embarkasi. Tapi dari beratus-ratus ribu jemaah tersebut, kira-kira berapa yang menjadi haji mabrur? Sebuah riwayat seorang waliyulah bernama Ali bin Muwaffiq bercerita bahwa pada suatu masa ia menunaikan ibadah haji. Ketika sampai pada malam Arafah, ia tertidur di Mina tepatnya di Masjid Khif karena keletihan. Dalam  mimpinya ia melihat dua malaikat turun dari langit dengan kostum berwarna hijau meski bukan dari PPP. Ia mendengar betul percakapan keduanya saat ngerumpi.

“Sahabatku, tahun ini berapa orang yang mengunjungi rumah Tuhan?” kata satu malaikat.  “Wah, aku nggak tahu.” Jawab malaikat satunya lagi. Lalu kata malaikat yang pertama,  “Yang berhaji tahun ini sebanyak 600.000 orang. Tahukah kamu berapa dari mereka yang hajinya diterima Allah? Ternyata hanya 6 orang.”

Godaan duniawi di jaman itu tak begitu banyak, itupun yang lulus jadi haji mabrur hanya 6 orang. Bandingkan dengan dunia masa kini, di mana godaan duniawai seabrek-abrek, kemungkinan yang lolos dan lulus semakin sedikit saja. Indonesia sekarang, jemaah yang berangkat sepertiganya di jaman itu. Jadi hitung-hitungannya, yang memperoleh haji mabrur dari Indonesia hanya 2 orang? Siapa mereka, apakah 2 Capres yang tanpa janjian bisa bareng-bareng naik haji? Jangan-jangan………

Menjadi haji mabrur itu tidak mudah. Iman kita diuji bukan saja ketika sedang menjalankan prosesi haji di Mekah dan Madinah, tapi juga sekembalinya ke Tanah Air. Seperti pada musim 1444 H ini misalnya, gara-gara kemacetan di Muzdalifah ribuan jemaah terlantar tak dapat bis termasuk terlambat dapat layanan katering. Sampai-sampai Menag Gus Yaqut Qoumas marah, “Saya takkkan makan sebelum jemaah haji Indonesia dapat makan.” Tragis memang, jemaah haji makan pagi baru dapat pukul 11:00 dan makan siang pukul 16:00. Jadi seperti makannya mahasiswa rantauan di Indonesia.

Itu ujian kesabaran yang kedua untuk jemaah haji. Ujian kesabaran pertama ya itu tadi, nunggu sampai kapan tersandera waiting list haji. Sebab sejak tahun 2004, naik haji harus ngantri. Tak hanya setahun dua tahun, tapi bisa sampai puluhan tahun, bahkan sampai 30 tahun. Jadi ketika mendaftar haji pada usia 50 tahun, 30 tahun kemudian berarti tinggal tunggu nasib saja. Lebih dulu mana antara  panggilan Nabi Ibrahim dan panggilan Allah Swt alias meninggal.

Ujian terberat untuk menjadi haji mabrur justru ketika sudah pulang ke rumah masing-masing. Ketika ke mesjid sudah pakai peci putih, pakai jubah dan berkalung sajadah, peluang untuk ditodong jadi imam salat  besar sekali. Nah, minimal surat-surat dalam Juz’ama harus sudah hafal tuh! Jika belum, tentu grogi dibuatnya. Baca surat Alkafirun muter-muter tak kunjung selesai, sampai jemaah nyeletuk, “Lakum dinukum waliyadin-nya kapan nih!”

Di musim haji 1439 H tahun 2018, pernah terjadi peristiwa memalukan. Seorang jemaah haji bernama Teguh langsung ditangkap KPK begitu turun pesawat di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Pasalnya dia selaku kontraktor sejak tahun 2013 ketahuan terlibat korupsi proyek akses Lapangan Terbang Athung Bungsu, Pagaralam, Sumsel. Gara-gara ulahnya, negara dirugikan sampai Rp 5 miliar. Teguh sempat buron bertahun-tahun.

Lalu apa sih tanda-tanda seseorang hajinya telah mabrur? Berdasarkan hadits, ciri-ciri haji mabrur menurut Rasulullah SAW ada tiga. Apa saja itu? Yaitu: santun dalam bertutur kata, menebarkan kedamaian, dan memiliki kepedulian sosial terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kelaparan. Kelihatannya mudah, bukan? Tapi realisasinya tidaklah gampang. Karena banyak orang meski sudah haji tak mau mencantumkan titel barunya pada namanya. Sebab titel haji justru menyandera dirinya, mau berbuat ini itu takut dikomentari, “Haji kok begitu!”

Yang sering terjadi justru haji mabyur alias mencret. Karena salah makan di pesawat, begitu pulang ke Tanah Air menderita diare. Pada musim haji tahun 2001 pernah terjadi, sejumlah jemaah haji dari biro perjalanan haji Alkautsar, setibanya di bandara King Abdul Azis Jedah menderita mencret dadakan karena menu sop makaroni dalam pesawat dicurigai sudah basi. (Cantrik Metaram)

Advertisement