
KEMARIN diberitakan detik.com, ketika Srilanka dilanda kebangkrutan sampai presiden Gotabaya Rajapaska kabur, wong ciliknya diselamatkan oleh buah nangka di masa peceklik (krisis pangan). Mereka mengubah makanan pokoknya dari nasi dengan buah nangka. Ini mirip Indonesia di masa penjajahan Jepang, rakyat bisa bertahan dengan makan pisang dan ubi, bahkan ares ati-nya batang pisang.
Buah nangka akrab sekali buat orang kita. Tapi sekarang hanya dimakan sebagai selingan, sebagaimana kita makan pepaya mangga pisang jambu yang dibawa dari Pasar Minggu. Sedangkan Srilanka karena harga nasi dan roti naik gila-gilaan, terpaksa makan buah nangka sebagai menu sehari-hari. Jadi seperti orang Yogya saja, tapi itupun sudah dibentuk jadi olahan bernama gudeg. Bahannya juga dari buah nangka mentah, bukan sudah mateng di mana baunya yang khas tak disukai bangsa Eropa.
Yang unik, di masa krisis pangan itu harga gas 12 Kg di Srilanka sampai Rp 76.000,- sebagai kenaikan yang sudah berlipat. Sedangkan Indonesia sekarang harga gas 12 Kg sampai Rp 250.000,- Ini cukup mengagetkan sekaligus menjadi pertanyaan, apakah jaringan bisnis gas Yusuf Kala di masa Wapres dulu sudah merambah sampai Srilanka juga?
Di Indonesia, krisis pangan terparah memang di masa Jepang selama 3,5 tahun (1942-1945). Seakan gubernur jendral Belanda Van Den Bosch hidup lagi, rakyat terkena program Tanam Paksa pohon jarak. Demi kepentingan perang di Asia Timur Raya, rakyat difokuskan menanam jarak untuk disulap jadi BBM, sehingga tak sempat bertanam padi. Akibatnya beras jadi barang langka, dan harga pangan melambung.
Cerita para orangtua yang mengalami masa penjajahan Jepang, jaman itu jangan bicara menu makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Untuk menyambung umur agar tidak mati kelaparan, sebagaimana telah disinggung di atas; bukan saja makan ares bonggol pisang, tapi juga iles-iles atau suweg. Jenis umbi-umbi lainnya ubi jalar, gembili. Ada juga sukun. Buah nangka mateng tak jadi menu utama sebagaimana orang Srilanka, sebab buat perut orang Indonesia, kebanyakan makan nangka mateng bisa diaree karenanya.
Perekonomian lumpuh, warung-warung makan banyak yang tutup. Jika ada, menunya hanya kelapa dengan gula Jawa. Soal sandang sami mawon, tak ada blaco tak ada kain berkolin maupun poplin. Bayi dibarut dengan rami, sudah biasa. Tak ada celana panjang gabardin, orang ke mana-mana pakai celana terbuat dari goni atau karung. Paling celaka, celana karung itu banyak kutunya, yang disebut sebagai tuma kathok.
Mendadak “saudara tua” (Jepang), jadi pemulung atau tukang rongsok, besi-besi tua diangkut ke Vietnam. Ribuan orang Indonesia dijadikan romusha, dikirim ke Vietnam untuk membangun infrastruktur demi Perang Asia Timur Raya. Celakanya, Lurah atau Kades yang tak suka pada salah satu warganya karena melawan, menyingkirkan orang tersebut dengan didaftarkan jadi romusha. Jika si “kontra revolusi” itu tak kembali, malah menjadi keberuntungan karena telah hilang seorang “klilip” (baca: musuh).
Jepang pergi disusul dengan kemerdekaan RI, perekonomian mulai menggeliat. Tapi tahun 1960-1966 ekonomi kembali sulit, inflasi gila-gilaan sampai 196 % bahkan pernah 635 %. Beli beras dan minyak tanah rakyat harus ngantri, orang miskin makan bulgur. Perekonomian mulai membaik setelah pemerintah di bawah kendali Orde Baru sejak 1967. Di bawah kepemimpinan Pak Harto Indonesia pernah berswasembada pangan.
Tetapi itu hanya sbentar, Krismon terjadi 1997 sehingga Pak Harto sampai lengser Mei 1998, tak lama setelah dikadali IMF. Indonesia impor beras terus, meski timingnya sering tidak pas sehingga merugikan petani. Di era reformasi, baru Presiden Jokowi yang kepikiran bikin Food Station (Lumbung Pangan). Lucunya, itu tugas Kementrian Pertanian, tapi dipercayakan ke Prabowo yang Menteri Pertahanan. Bisa apa dia, apa karena pernah jadi Ketum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). Memangnya Prabowo pernah nyangkul, Prabowo pernah bertani?
Pada Januari 2023 Komisi IV DPR pernah mempertanyakan proyek pertahanan pangan yang dikomandani Pak Menhan, sebab di Kalimantan, Papua, Sumatera dan NTT ketika dicek di lapangan, ditemukan data-data palsu. Maksudnya, dikatakan sukses padahal ngeces?
Jika disederhanakan, maka ketahanan pangan cukuplah mengacu pendapat Wapres Makruf Amien. Untuk menghindari ketergantungan pada beras, kita perlu mencoba makan menu alternatif, misalnya pisang. Makan dua buah pisang rebus sama dengan nasi sepiring. Ya tinggal pisang jenis apa lah Pak. Jika pisang tanduk, satu buah saja sudah bikin kenyang. Apa lagi makan pisang kluthuk kayak burung, satu buah pun sudah langsung kenyang. Tapi apa mau, sebab pisang batu itu isinya “kerikil” semua. (Cantrik Metaram).




