Forum Jeddah Gagal Stop Perang Ukraina

Berbagai mediasi dilakukan untuk mengakhiri Perang Rusia vs Ukraina termasuk melalui Forum Jeddah yang digelar 5 - 6 Agustus lalu tetapi sejauh ini belum berhasil, perang bahkan makin menggila.

UPAYA  kedua kali Arab Saudi mempertemukan para pejabat keamanan dan kebijakan luar negeri 42 negara pendukung dan mitra utama Rusia dan Ukraina gagal menghentikan perang yang sudah berjalan 17 bulan.

Dalam forum perdamaian yang digelar di Jeddah, 5 dan 6 Agustus itu, hadir perwakilan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya yang merupakan mitra utama Ukraina, sedangkan Brazil, China dan India mewakili negara yang menjalin hubungan baik dengan Moskow.

Sebelumnya, Arab Saudi juga menginisiasi forum Kopenhagen, Denmark akhir Juni lalu yang juga tidak melibatkan Rusia, pelaku utama konflik di Ukraina, diawali dengan invasi ke negara itu 24 Feb. 2022.

Walau tidak menghasilkan sesuatu yang kongkret untuk menghentikan perang di  Ukraina, Jerman memandang forum Jeddah sukses dan pihaknya akan terus menjalin komunikasi dengan para pihak guna mencarikan solusinya.

Sementara peneliti Lembaga Hubungan Luar Negeri (CFR) Charles Kupchan menilai, forum Jeddah menjadi platrform bag Ukraina untuk melontarkan pandangannya atau menyampaikan usulan perdamaian versinya.

Keterwakilan China di Forum Jeddah, menurut Kupchan, paling tidak menepis anggapan banyak pihak, China mendukung penuh Rusia, karena faktanya, sementara Preside China Xi Jin Ping cukup berpengaruh pada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Utusan khusus China untuk kwasan Eurasia yang hadir di Forum Jeddah, Li Hui menurut pernyataan Beijing, untuk menggali informasi dari para pihak terkait isu Ukraina.

“Kami mendapatkan ketidaksepakatan dan menyaksikan pandagan yang berbeda (tentang Perang Ukraina), namun yang penting, posisi kami juga didengar.

China sebelumnya sudah pernah menyampaikan 12 butir poin perdamaian Rusia -Ukraina namun ditolak AS dan kembali  menyampaikannya di forum Jeddah.

Sementara Penasehat Keamanan India Ajit Doval mengakui ada sejumlah proposal perdamaian, namun sejauh ini belum bisa diterima oleh kedua belah pihak .

Pihak Ukraina sendiri, seperti dikutip Wall Street Journal, agaknya melunak, hanya meminta agar usulan yang disampaikan di forum Jeddah didengar, tidak menyebut-nyebut permintaan agar Rusia menarik pasukannya dari Ukraina.

Sebaliknya Wamenlu Rusia Sergei Ryabkov menyebutkan pihaknya tidak paham dengan usulan perdamaian yang disampaikan di forum Jeddah, dan Rusia hanya akan membahas masalah terkait perang Ukraina dengan mitranya di forum BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan).

Ragam Penilaian

Ragam tanggapan muncul tentang Forum Jeddah, misalnya Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova yang mengapresiasi prakarsa perdamaian dar negara Selatan.

“Kami terbuka terhadap berbagai usulan perdamaian dan akan membahasnya dengan serius, “ ujarnya. Sebaliknya, dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Moskwa Andrey Suzdalsev menyebut pertemuan Jeddah membuktikan, pendekatan multipolar mulai diterima Barat.

“AS dan sekutu-sekutunya sadar, mereka tidak bisa lagi mendikte dunia dan perlu melibatkan sejumlah pihak untuk mencapai kesepakatan, “ ujarnya.

Sedangkan Peneliti Russian Academy of Sciences Alexei Gromyko menyebut Forum Jeddah sebagai upaya untuk menggalang perdamaian oleh negara-negara Selatan yakni bentuk kerjasama antara pihak yang mendukung Ukraina dan yang tidak berpihak dalam perang itu.

Presiden Joko Widodo dalam kapasitasnya sebagai keketuaan RI dalam ASEAN juga pernah berupaya memediasi perdamaian dengan mendatangi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Kiev dan Presiden Rusia Vladimir Puti di Moskow akhir Juni, 2023.

Perang makin meluas akibat keterlibatan lebih jauh AS dan sekutu-sekutunya yang mengalirkan persenjataan untuk mendukung Ukraina, dan yang jelas korban terus berjatuhan dan yang sengsara rakyat Ukraina.

 

 

 

 

 

 

Advertisement