Secercah Harapan dari Sebilah Bambu

Bambu berfungsi untuk memitigasi perubahan iklim. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Gerakan lembut dari rumpun pohon ini saat tertiup angin sepintas mirip tarian pendet. Namun, di balik kelenturannya, tanaman bambu dengan batang berongga ini memiliki sejumlah keunggulan yang menarik, terutama saat menjelajahi hutan.

Rumpun tumbuhan ini, yang juga dikenal sebagai keluarga rumput-rumputan, memiliki pertumbuhan yang luar biasa cepat. Kecepatan ini disebabkan oleh sistem akar bawah tanah yang unik, yang disebut sistem rhizoma dependen.

Dalam satu hari saja, bambu bisa tumbuh hingga panjang 60 sentimeter atau lebih, tergantung pada kesuburan tanah dan iklim di lingkungan tempatnya tumbuh. Dari perspektif ekologis, bambu, yang sering disebut dengan nama lain “aur”, memiliki potensi sebagai solusi dan sekutu dalam menghadapi ancaman lingkungan dan dampak perubahan iklim.

Peran bambu sangat penting dalam upaya restorasi lahan melalui kemampuan adaptasi berbagai jenis tanaman, pendekatan lanskap, dan kontribusinya dalam ekosistem berkelanjutan. Hasil penelitian oleh ahli etnobiologi, Wawan Sujarwo, mendukung pandangan ini.

Wawan, yang mengepalai Kelompok Penelitian Etnobiologi di Pusat Penelitian Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa bambu adalah tanaman serba guna. Akarnya yang panjang dan berakar serabut memungkinkannya menyerap dan menyimpan lebih banyak air dalam tanah.

Dengan akar yang demikian, bambu memiliki kemampuan untuk mempertahankan struktur dan tekstur tanah dengan baik, bahkan di lereng curam. Ini mengurangi risiko longsor dan membantu mengendalikan erosi tanah.

Pandangan ini didukung oleh ahli analisis ekosistem dari Università degli Studi di Roma Tre, Roma, Italia, dalam diskusi tentang bambu yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta.

Wawan juga mengatakan bahwa rumpun bambu mampu menyimpan sekitar 360 hingga 391,2 meter kubik (m3) air. Sebagai contoh, dalam penelitian di Kebun Raya Bali, Wawan menemukan bahwa rumpun bambu jenis betung (Dendrocalamus asper) dengan usia lima tahun dan memiliki 15-20 batang dalam satu rumpun, dapat menyimpan sekitar 360 m3 air. Selain itu, batang bambu ini mampu mengkonservasi sekitar 391,224 m3 air dalam setiap rumpunnya.

Organisasi Bambu dan Rotan Internasional (INBAR) telah mengemukakan bahwa bambu memiliki kapasitas yang tinggi dalam menyerap karbon dioksida. Kemampuannya dapat mencapai 100 hingga 400 ton per meter kubik (m3) batang bambu per tahun.

Bahkan, pakar bambu terkemuka dunia dan Kepala Lingkungan Berkelanjutan MOSO International, Pablo van der Lugt, menyebutkan angka yang lebih besar, yaitu 1.696 ton per m3 batang bambu per tahun.

Bambu, sebagai bahan alami, merupakan sumber daya yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai produk yang terbuat dari bambu telah diproduksi oleh masyarakat sejak lama, terutama untuk perabotan rumah tangga, pagar rumah atau taman, dan lain sebagainya.

Indonesia memiliki 162 dari total 1.450 jenis bambu di seluruh dunia dan juga merupakan salah satu produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), sebagaimana dilansir oleh Kabar Hutan, melaporkan bahwa bambu tersebar di 30 provinsi dan menutupi area seluas 2,1 juta hektare.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, nilai ekonomi dari HHBK bambu dapat mencapai 90 persen dari total nilai hasil hutan. Sementara kayu, sebagai komoditas utama dari hutan, hanya menyumbang 10 persen dari hasil produksi hutan.

Fakta bahwa bambu memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi dan dapat menjadi pengganti kayu juga ditegaskan oleh peneliti bambu, IM Sulastiningsih. Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini mengatakan bahwa pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini masih terbatas dan umumnya dilakukan secara tradisional dengan menggunakan bambu bulat atau kombinasi bambu bulat, bilah bambu, dan potongan bambu.

Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan diversifikasi produk olahan bambu dengan menghasilkan produk rekayasa bambu, seperti bambu lamina. Bambu lamina ini dibuat dengan menggabungkan beberapa lapisan pelepah atau bilah bambu menggunakan perekat organik sehingga membentuk struktur mirip kayu lapis.

“Produk bambu lamina lebih ramah lingkungan, berasal dari bahan dengan pertumbuhan cepat, dan memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripada kayu padat. Selain itu, bambu lamina memberikan penampilan yang unik dan indah pada produk yang dihasilkan, selain memiliki daya tahan yang lebih lama,” ujar Sulastiningsih dalam diskusi terkait bambu beberapa waktu yang lalu.

Banyak produk rumah tangga seperti kursi, lemari, meja-makan, pintu, lantai parket, dan kitchen set telah dibuat menggunakan bambu lamina. Di skala global, bambu lamina telah digunakan untuk melapisi area seluas 25.000 meter persegi dari langit-langit Terminal 4 Bandar Udara Internasional Adolfo Suarez di Madrid, Spanyol.

Penggunaan bambu lamina ini memberikan sentuhan modern dan unik pada interior ruang tunggu penumpang di terminal bandara terbesar di Eropa tersebut.

Sentra Industri Bambu

Di sisi lain, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menjadi pusat industri pengolahan bambu di tingkat nasional. Potensi lahan untuk menanam bambu mencapai 40.000 hektare yang tersebar di 22 kabupaten/kota.

Melalui Keputusan Gubernur nomor 404/KEP/HK/2018 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Unggulan, provinsi yang memiliki 1.192 pulau ini telah menjadikan bambu sebagai produk terbesar kedua dari sektor HHBK.

Pemerintah setempat telah bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari dan lembaga nirlaba Inggris, Forest Programme 4, untuk mengembangkan pemanfaatan bambu dan meningkatkan perekonomian daerah.

Pada pertengahan Mei 2021, mereka mendirikan Kampus Desa Bambu Agroforestri di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Inilah pusat untuk pembibitan dan pengembangan berbagai produk olahan bambu yang terintegrasi pertama di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menjadikan Ngada sebagai pusat industri bambu nasional dengan luas lahan mencapai 10.000 hektare.

Muayat Ali Muhsi, Direktur Program Yayasan Bambu Lestari, mengungkapkan bahwa produksi bambu dan produk olahannya dari NTT saat ini mencapai 20 ton per hari. Pengembangan bambu sebagai produk unggulan dalam ekonomi berwawasan lingkungan juga telah dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sejak masa penjajahan Belanda, masyarakat di Selaawi telah menghasilkan berbagai produk olahan bambu seperti mebel, furnitur, peralatan dapur, lampu hias, keranjang, sangkar burung, dan dekorasi kafe atau restoran. Tidak hanya memenuhi permintaan pasar lokal dan nasional, produk bambu dari Selaawi juga telah diekspor ke berbagai negara di Asia, Australia, dan Uni Eropa.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Teten Masduki, mengajak berbagai kementerian untuk bekerja sama dalam mengembangkan potensi bambu sebagai alternatif pengganti kayu yang unggul.

Saat ini, produk olahan bambu juga telah dikenal oleh sektor swasta, seperti IKEA, jaringan toko perlengkapan rumah global asal Swedia. IKEA telah membuka beberapa cabangnya di Indonesia. Teten menggambarkan, misalnya, bahwa lemari bambu dijual di IKEA dengan harga lebih dari Rp3 juta.

Teten juga mencatat bahwa bambu telah memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi pedesaan di Tiongkok hingga mencapai 28,4 persen. Selain itu, pada tahun 2025, potensi permintaan global untuk bambu dan produk olahannya diperkirakan mencapai USD93 miliar atau sekitar Rp1.339,2 triliun dengan kurs Rp14.400 per dolar.

Meskipun Tiongkok mendominasi pasar produk bambu dengan pangsa sebesar 60 persen, Indonesia masih memiliki peluang untuk mengembangkan bambu sebagai produk unggulan pengganti kayu di masa depan. Harapannya, dengan luasnya potensi lahan untuk menanam bambu di seluruh Nusantara, bambu dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan berbasis lingkungan yang ramah.

Sumber: indonesia.go.id

Advertisement