BAGI rakyat Indonesia, negerinya Pandit Jawaharlal Nehru itu hanya dikenal lewat film, boneka dan martabaknya. Film India banyak penggemarnya, boneka India dibuat lagu oleh Elia M. Haris, dan martabaknya bikin lidah ngibing (menari). Tapi pada 23 Agustus 2023 lalu, mendadak sontak India bikin berita mengejutkan: pesawat ruang angkasa Chandrayaan-3, sukses mendarat di kutub selatan bulan. Dunia pun terpana, India kok bisa juga ya……..
Pada tahun 1960-an, negara India hanya dikenal lewat 3 orangnya. Yakni: Pandit Jawaharlal Nehru (1889-1964) Perdana Menteri pertama, Raj Kapoor (1924-1988) seorang bintang film, dan Mahatma Gandhi (1869-1948) seorang pemimpin spiritual. Kalau boleh ditambah satu lagi, dia adalah Zakir Naek ulama yang didatangkan Wapres JK ke Indonesia berkaitan dengan Pilgub DKI tahun 2017.
Siapa yang belum pernah nonton film India? Film India terkenal banyak nyanyi-nyanyinya. Asal ketemu pohon, langsung deh……..nyanyi sambil menari berjingkat-jingkat. Dan bintangnya paling dikenal adalah Raj Kapoor, mungkin sejajar dengan Bambang Hermanto bintang film Indonesia di masa yang sama. Anggota DPR Sutan Batugana almarhum, demen banget pada film India. Penulis sendiri tahun 1964-1965 juga suka menontonnya di gedung bioskop Seni Sono samping Gedung Agung, Yogyakarta. Nontonnya gratis, karena mbludhus (tanpa karcis) bersama bocah-bocah yang lain.
Boneka India juga terkenal, setidaknya lewat lagunya Elia M. Haris. Begitu juga martabaknya, sampai-sampai tahun 1970-an kartunis Utama Subarkah (inisial: OET) mengkartunkannya. Dalam coretannya digambarkan, pedagang martabak dengan kepala bersorban khas India, ditanya calon pembelinya, “India kampungnya mana?” Di jaman itu, pembaca majalah sudah tertawa oleh kartunnya orang Yogyakarta.
Selain figur-figur tertentu, kereta api India juga cukup dikenal. Bukan karena kenyamanannya, tapi lantaran seringnya dapat musibah, kecelakaan. Tak kalah memprihatinkan, angka kemiskinan di sana cukup tinggi sehingga Bank Dunia mencatat, India merupakan negara dengan jumlah penduduk miskin terbesar di dunia pada tahun 2012. Sebagai negara miskin tentu saja rakyat senang yang serba gratis, sehingga wong ciliknya berani nekad naik KA di atas gerbong dan menempel ketat di lokomotif.
Di kala pandemi Covid-19 India juga kedodoran menanganinya, sehingga banyak jenazah yang dihanyutkan di sungai. Tapi setelah pandemi Corona mereda, mendadak diberitakan: pesawat ruang angkasa Chandrayaan-3, sukses mendarat di kutub selatan wilayah bulan. Misi ruang angkasa itu telah menghabiskan biaya Rp 1,2 triliun atau 6.500.000.000 rupe.
Bangga akan kesuksesan negara, ada pengusaha India bernama Rupesh Masson (49) membeli tanah di Bulan pada 25 Agustus, dua hari setelah Chandrayaan-3 berhasil mendarat. Seperti yang telah diberitakan Hindustan Times, pengusaha tersebut segera membeli tanah di bulan. Yang katanya telah bersertipikat, lalu kapan ngukurnya. BPN di sana apa juga menetapkanm, status tanah itu HGB (Hak Gunak Bangunan), SHP (sertifikat Hak Pakai) atau malah SHM (Sertifikat Hak Milik).
Buat apa beli tanah di bulan, apakah mau bikin rumah murah untuk rakyat semacam Perumnas di Indonesia? Ketimbang uang Rp 1,2 triliun itu dihambur-hamburkan untuk proyek mercusuar, kenapa uangnya tak digunakan untuk membenahi angkutan KA-nya, sehingga tak ada lagi rakyatnya yang bergelantungan di lokomotif dan atas gerbong.
Lalu ada yang bertanya, kenapa Indonesia yang merdeka tahun 1945, bisa kalah dengan India yang merdeka tahun 1947. Hingga sekarang Indonesia belum pernah berpikir untuk ke bulan. Biarkan AS saja ke bulan lewat pesawat Appolo-nya di tahun 1969. Satu-satunya orang Indonesia ke bulan hanyalah Tety Kadi dengan lagunya “Pergi ke bulan” karya musikus A. Riyanto. Malah Tety Kadi banyak mengajak orang ke sana, ada yang pakai delman bahkan onta.
Dan bagi para kaum wanita usia di bawah 50 tahun, tak perlulah ke bulan! Sebab sebulan sekali sesuai dengan siklusnya, mereka akan didatangi bulan dengan sendirinya, alias menstruasi. (Cantrik Metaram)





