Wajah Baru Taman Mini

Wajah baru TMII dengan menampilkan teater imax Keong Emas.

JUMAT malam 1 September 2023 lalu jalan raya seputar TMII macet total. Bukan karena ada kecelakaan, melainkan akibat 127.000 warga Ibukota tumpah hendak nonton konser gratis di TMII. Hari itu Taman Mini Indonesia Indah diresmikan Presiden Jokowi, setelah diambil alih dari Keluarga Cendana sejak April 2021 lalu. Kini TMII tampil dengan wajah baru, lebih kekinian meski tetap berpijak pada gagasan awal mendiang Ibu Tien Soeharto. Tak percuma pemerintah keluarkan biaya lebih dari Rp 1 triliun untuk merevitalisasi TMII.

Hari itu, TMII dibuka untuk umum secara gratis, tapi hanya pukul 16:00 ke atas, yang bayar hanya parkir kendaraannya. Malam itu band Kotak tampil bersama penyanyi/musisi Tulus yang baru digandrungi kawula muda. Ada juga atraksi Tirta Cerita yang dipadukan dengan 300 drone show spesial. Sayang, Taman Burung Jagat Satwa Nusantara sebagai kemasan baru, hanya bisa dilihat siang sampai sore hari saja. Jika dipaksakan malam hari, 216 jenis burung-burung yang ada di sana warnanya terlihat item melulu.

Dengan wajah barunya, TMII sekarang terdiri dari 70 persen ruang terbuka hijau dan 30 persen bangunan. Sesuai dengan pemekaran wilayah Indonesia, jika di masa Orde Baru anjungan TMII hanya 26 buah sesuai dengan jumlah provinsi kala itu, kini telah bertambah menjadi 33 anjungan meski jumlah provinsi RI kini telah menjadi 38. Anjungan-anjungan ini dibangun mengeliling arsipalago Indonesia, yakni danau yang berisi pulau-pulau  di wilayah Indonesia.

Secara periodik anjungan ini menghadirkan berbagai seni budaya daerah setempat. Maka di anjungan DI Yogyakarta bisa nonton pagelaran wayang kulit gaya metaraman, atau juga kethoprak mataram. Untuk anjungan Jawa Tengah sering digelar wayang kulit gaya Surakarta atau Banyumas. Mau nonton “Dalang Jemblung” juga di anjungan Jateng tempatnya.

Apa itu “Dalang Jemblung”? Dalang Jemblung adalah pertunjukan wayang yang hanya bermodalkan mulut . Ketika dalang bernarasi, gamelannya berasal dari mulut. Adapun wayangnya sama sekali tidak ada. Ketika kidalang bercerita raksasa nguntal (makan) seorang satria, maka yang masuk mulut kidalang adalah pisang goreng atau lemper yang dihidangkan. “Prabu Kurandhageni nguntal Kakrasana….. “ kata kidalang, maka pisang ambon pun masuk mulut kidalang, lhep………

Selain sebagai lembaga pelestarian budaya Indonesia, TMII juga merupakan salah satu penyedia sarana pendidikan dan rekreasi dalam satu tempat sekaligus. Wahana rekreasi tersebut, antara lain, Istana Anak-Anak Indonesia, Teater IMAX Keong Emas, Kereta Gantung, Taman Budaya Tionghoa Indonesia, Skyworld, dan Taman Legenda Keong Emas.

Di TMII juga tersedia sejumlah museum, bahkan juga tempat ibadah yang dibangun berdampingan. Misalnya mesjid Pangeran Diponegoro, vihara Arya Dwipa Arama, gereja Katolik Santa Catharina,   gereja Protestan Haleluya, kuil Konghucu Kong Miao dan Pura Penataran Agung Kertabhumi. Di TMII ini, ummat beribadah agamanya masing-masing dengan tenang. Padahal di luaran, di sana sini masih ditemukan adanya kelompok yang mencoba menolak dibangunannya rumah ibadah di wilayahnya.

Wajah baru TMII kini memang lebih menarik. Yang tidak menarik jika tak bisa disebut sangat disayangkan, tarip masuknya lumayan mahal bagi rakyat kecil. Perorang Rp 25.000,- mobilnya juga Rp 25.000,- sepeda motor Rp 15.000,- bis/truck Rp 50.000,- Tetapi giliran sepeda yang relatif lebih murah harganya ketimbang sepeda motor malah kena Rp 25.000,-

Tetapi jangan kaget, TMII dengan wajah baru ini tak lagi melayani pembelian tiket pakai uang tunai. Semua pakai transaksi elektronik. Begitu juga kendaraan masuk ke jalan-jalan penghubung antar anjungan, tidak dibolehkan lagi. Semua mobil dan moto diparkir di tempat yang sudah disediakan. Para pengunjung untuk berkeliling harus antri menunggu angkutan atau kereta yang disediakan pihak TMII.

TMII yang punya areal 150 hektar itu berdiri tahun 1975. Hingga April 2021 dikelola oleh Yayasan Harapan Kita milik Keluarga Cendana. Sayangnya, sejak tahun 1977 pihak yayasan tak pernah setor PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) ke pemerintah. Karenanya belakangan sering jadi bahan ledekan di media online dengan narasi yang menyakitkan: TMII, tamannya mini tapi korupsinya maksi.

Ironisnya, pemerintah era reformasi masih juga mendiamkan saja. Baru di era Jokowi lah pemerintah berani unjuk gigi. Aset negara yang dikuasai Keluarga Cendana –suka atau tidak suka– diambil alih. Merujuk pada audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang merekomendasikan bahwa pengelolaan TMII harus lebih banyak dilakukan pemerintah, maka pada April 2021 pengeloloaan TMII diambil alih. Bila sebelumnya milik Kementrian Sekretaris Negara, kini dikelola oleh Kementrian BUMN. Maka tak mengherankan, saat TMII wajah baru diresmikan Presiden Jokowi, tampak hadir pula Ketum PSSI….eh Menteri BUMN Erick Tohir. (Cantrik Metaram)

Advertisement