RRI Jadi Barang Antik

Inilah radio obsesiku, Philips L-4 26 T made in Holland. Dulu orang untuk membelinya harus jual sawah sepetak.

HARI ini 11 September 2023 RRI berulangtahun ke-78, berarti tetap konsisten mengudara selama 78 tahun lamanya, selaras dengan mottonya: sekali di udara tetap di udara! Manusia semakin tua karena bertambah usia, mulai banyak penyakit. Rupanya RRI kita begitu juga. Terlalu lama mengudara malah jadi masuk angin, karena anggaran pemerintah semakin mengecil sejak era reformasi. Katanya TVRI-RRI mau digabung menjadi RTRI (Radio Televisi Republik Indonesia), tapi faktanya sejak 2015 sampai sekarang RUU-nya tak pernah digarap.

Maklumlah, anggota DPR sekarang ini kebanyakan  sudah generasi yang tak menikmati kejayaaan RRI sekitar tahun 1960-an hingga 1980-an. Di masa itu mereka banyak yang baru lahir, bahkan masih di pucuk pring alias belum diprogram. Walhasil mereka sudah tak punya ikatan memori dengan RRI karena tak pernah lagi bersentuhan. Maka ketika RUU penggabungan TVRI-RRI mangkrak setelah masuk prolegnas dari tahun 2015, ya tenang-tenang saja.

Seiring dengan mengkeretnya Kementrian Penerangan menjadi Kementrian Kominfo, RRI menjelma sebagai LPP (Lembaga Penyiaran Publik), pegawainya pun bukan ASN, tapi sudah sebagaimana lazimnya BUMN. Karena anggaran yang mengecil, tahun 2023 misalnya RRI hanya kebagian Rp 1 triliun kurang sedikit (Rp 992.956.335.000,-).  Tahun 2024 nanti DPR sudah menyetujui jadi Rp 1 triliun lebih sedikit (Rp1.030.024.900.000,-)

Bisa bernapas sedikit, semoga RRI bisa menghidupkan sejumlah programnya yang dibikin wasalam. RRI Jakarta misalnya, dulu setiap hari Minggu pasti ada siaran uyon-uyon (gending Jawa), sejak beberapa tahun lalu tak ada lagi. Dulu gelombang RRI Jakarta selalu dicari penggemarnya untuk mendengarkan suara pesinden Nyi Tjondrolukito. Sekarang RRI sudah jarang didengar orang. Meski masih ada warta berita, tapi tak ada lagi kewajiban radio swasta merelainya. Radio swasta sendiri kini ngap-ngapan sebagaimana surat kabar, karena kalah dengan internet.

Kini RRI sudah menjadi barang jadul dan antik. Maka ketika menonton lewat Youtube mengenai suara RRI buka dan tutup siaran, orang-orang lama yang masa kecil dan mudanya akrab dengan RRI bisa merinding bahkan meneteskan air mata. RRI yang dulu sangat berjasa di masa-masa perjuangan menuju Indonesia merdeka, kini terlupakan.

Menpen Harmoko dulu ketika ditanya pers, pernah menegaskan bahwa tak akan ada TV swasta. Mungkin maksudnya untuk melindungi TVRI dan RRI-nya. Tapi ketika Bambang Trihatmojo putra Cendana bikin RCTI tahun 1989, Menpen Harmoko tak bisa apa-apa. Di sinilah titik awalnya TVRI dan RRI ditinggalkan publik. Sebab berita TV swasta lebih cepat merekam semua peristiwa yang terjadi, sementara warta berita TVRI-RRI kebanyakan hanya bersumber pada buletin Antara.

Penulis yang di masa-masa kejayaan RRI masih usia ABG, termasuk yang meneteskan air mata ketika mendengar suara RRI saat buka dan tutup siaran. Perhatikan, suara mendayu-dayu saat RRI mau tutup siaran: didu didu duuuu diduuuuu –seakan mengatakan– DPR kenapa kau begituuuuu…..

Masa ABG penulis memang sekitar tahun 1970-an. Radio merupakan hiburan anak-anak desa. Di jaman itu mulai mewabah radio transistor 1-2 band masuk kampung. Harganya sekitar Rp 3-4 ribu, tapi setara dengan beras 2 kwintal. Orangtuaku merasa sayang untuk membelinya. Karenanya ketika pengin dengarkan siaran wayang kulit setiap malam Minggu, atau sandiwara radio Keluarga Yogya stiap Minggu malam, harus nebeng ke rumah orang lain.

Di kampungku yang punya radio Philip L-4 26 T hanya Mas Purbo, itupun harus ngepaske (jual) sawah (1962). Aku pun menjadi punya “dendam” membara, kapan-kapan sudah punya gaji akan beli radio semacam itu. Sayangya ketika pertama kali kerja tahun 1972 di Solo, radio seperti milik Mas Purbo itu sudah tak ada lagi. Terpaksa beli model turunannya, yang bukan made in Holland lagi, tapi sudah made in Jakarta. Itu pun kreditan, sebab harga cash-nya Rp 12.000,- sama dengan 2 kali lipat gajiku tiap bulan.

Obsesiku dengan radio Philip L-4 made in Holland belum tertebus juga. Ketika ke negeri Belanda Oktober 1996, saya mencoba cari radio tersebut di tukang loak, tak menemukan juga. Tiba-tiba di jaman internet tahun 2010, ternyata radio Philips L-4 dambaan saya pating kluthuk banyak ditawarkan. Harganya hanya sekitar Rp 250.000,- dalam kondisi mati. Saya langsung membelinya 2 buah. Untung-untungan, jika barang tak juga dikirim, itu sudah resiko. Ternyata benar-benar sampai rumah itu barang. Setelah dibetuli adik sepupuku di kampung, dua-duanya bisa hidup lagi.

Sayang Dik Toko sepupuku itu telah meninggal setahun lalu, sehingga tak tahu  harus ke bengkel radio mana lagi jika radioku rusak. Apa mungkin ke Rumah Sakit saja? Sebab di setiap Rumah Sakit kan selalu tersedia bagian Radiologi. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement