
AL HAOUZ – Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk segera menemukan para penyintas yang selamat di antara reruntuhan pascagempa paling mematikan di Maroko, Jumat (8/9/2023). Tim pencari dari Spanyol, Inggris, dan Qatar bersatu padu mencari korban di antara puing-puing reruntuhan.
Gempa berkekuatan magnitudo 6,8 tersebut hingga saat ini telah merenggut nyawa 2.500 orang dan menghancurkan desa-desa di Pegunungan High Atlas. Para penyintas yang selamat pun harus menghabiskan malam ketiganya di luar rumah yang hancur.
Di Desa Imgdal, yang terletak sekitar 75 km dari Marrakesh, perempuan dan anak-anak berkumpul di bawah tenda darurat yang dipasang di sepanjang jalan dan di dekat bangunan-bangunan yang rusak. Beberapa orang berkumpul di sekitar api unggun. Sementara di tempat lain, mobil tertimbun oleh batu-batu besar yang jatuh dari tebing.
Di Desa Tafeghaghte, Hamid ben Henna menceritakan bagaimana putranya yang masih berusia delapan tahun meninggal di bawah reruntuhan, setelah dia pergi ke dapur untuk mengambil pisau saat mereka sedang makan malam. Meskipun begitu, beberapa anggota keluarganya selamat.
Karena sebagian besar wilayah yang terdampak gempa sulit dijangkau, dampak penuh bencana ini belum terlihat. Pihak berwenang juga belum dapat memberikan perkiraan jumlah orang yang masih belum ditemukan.
Jalan-jalan yang tertutup atau terhalang oleh batu-batu besar membuat akses ke lokasi-lokasi yang terdampak parah oleh gempa semakin sulit dicapai.
Di sepanjang jalan dekat Kota Adassil, yang berlokasi tidak jauh dari pusat gempa, Ayman Koait, seorang petugas penyelamat, sedang berupaya memindahkan batu-batuan yang menghambat lalu lintas.
“Ada bagian atas jalan yang masih terhalang dan sedang kami coba untuk membukanya,” katanya, seperti diberitakan Reuters.
Masyarakat dengan tekad yang kuat berusaha menyelamatkan harta benda mereka dari reruntuhan rumah, beberapa di antaranya bahkan mencoba menggali dengan tangan kosong untuk mencari anggota keluarga yang terperangkap di dalam reruntuhan.
Banyak bangunan, termasuk rumah-rumah bata lumpur tradisional, batu, dan kayu kasar, mengalami kerusakan parah. Padahal, biasanya itu menjadi pemandangan indah bagi para wisatawan di Pegunungan High Atlas.
“Menyelamatkan orang hidup-hidup menjadi sangat sulit karena sebagian besar dinding dan langit-langit roboh dan menimbun siapa pun di dalamnya, tanpa memberi kesempatan bernapas,” ungkap seorang pekerja militer, yang identitasnya dirahasiakan karena alasan protokoler militerm
Kerusakan juga mencakup banyak warisan budaya Maroko, termasuk kerusakan di kota tua Marrakesh yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Masjid Tinmel yang bersejarah dan dibangun pada abad ke-12, yang terletak di daerah pegunungan terpencil dekat pusat gempa, juga mengalami kerusakan parah.
Gempa ini menjadi gempa bumi paling mematikan di Afrika Utara sejak 1960, ketika gempa tersebut mengakibatkan kematian sedikitnya 12.000 orang. Menurut Survei Geologi AS, ini juga merupakan gempa paling dahsyat sejak 1900.
Saat ini, Raja Mohammed VI dan Perdana Menteri Aziz Akhannouch belum memberikan komentar terkait bencana ini. Namun, dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pada Minggu, juru bicara pemerintah, Mustapha Baytas, mengungkapkan bahwa semua upaya telah dilakukan di lapangan.
Dia juga menambahkan bahwa Raja Mohammed sudah memerintahkan perdana menteri untuk bertemu dengan komisi menteri pada hari Senin ini untuk menyusun rencana darurat, termasuk rekonstruksi rumah-rumah warga.
Sumber: Antara



