4 Langkah Mencegah Orang Terdekat Bunuh Diri

Sosialisasi untuk memberikan literasi pada publik agar ikut mencegah aksi-aksi bunuh diri perlu dilakukan.

JAKARTA – Dokter spesialis Kedokteran Jiwa dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, dr. Gina Anindyajati, menjelaskan empat langkah yang dapat diambil untuk mencegah orang terdekat melakukan bunuh diri.

Gina menyampaikan bahwa untuk mencegah tindakan bunuh diri, kita perlu memperlakukan individu dengan kasih sayang sebagai sesama manusia.

Langkah pertama adalah dengan mengamati, yaitu memperhatikan perasaan orang tersebut. Apakah ada perubahan perilaku atau ancaman, baik secara verbal maupun non-verbal, yang pernah terdengar atau diceritakan.

Langkah kedua adalah bertanya secara empatik. Kita perlu menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian.

“Kedua, tanyakan, ada apa, apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi dan apa yang dirasakan akhir-akhir ini? tetapi, ingat, jangan menanyakan hal-hal yang tidak enak,” ujarnya.

Gina menekankan bahwa salah satu kesulitan dalam bertanya adalah kurangnya kemampuan untuk mendengarkan dengan sebenar-benarnya. Terlalu sering kita cenderung hanya ingin tahu tanpa benar-benar mendengarkan atau bahkan mengalihkan pembicaraan kepada masalah pribadi kita.

“Tantangan terbesarnya itu, maka selanjutnya yang perlu kita lakukan yakni dengarkan. Dengarkan,nkarena memang kita ada di sampingnya untuk mendengarkan, bukan untuk menceritakan masalah pribadi, menasihati, menceramahi, menghakimi, dan lain sebagainya,” ucap Gina.

Terakhir, langkah keempat adalah mengarahkan. Jika kita merasa bahwa orang tersebut memerlukan bantuan lebih serius, kita dapat mengarahkannya kepada keluarga atau teman-teman yang bisa memberikan dukungan, atau ke tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang dapat memberikan penanganan yang lebih profesional sesuai kebutuhan mereka.

Selain itu, kita juga dapat mengarahkan mereka ke media sosial atau platform lainnya.

“Yang terpenting adalah memberikan petunjuk ke mana pun yang kita ketahui, karena seseorang yang memiliki niat bunuh diri mungkin sulit untuk berpikir jernih, sehingga dukungan dari orang lain dalam memberikan arahan sangat penting,” tuturnya.

Tugas terakhir sebagai orang terdekat adalah mendampingi korban.

“Saatinya menemani mereka kapan pun diperlukan, baik untuk menghubungi keluarga, teman-teman, atau mengakses layanan kesehatan,” ungkapnya.

Gina juga menjelaskan ada beberapa tanda yang dapat dikenali dari seseorang yang berpikir untuk melakukan bunuh diri, seperti tanda-tanda dari pikiran, perasaan, dan perilaku.

Orang yang berpikir untuk bunuh diri cenderung memiliki pandangan pesimis tentang masa depan dan merasa tidak memiliki harapan. Mereka juga sering merasa sedih, hampa, lemah, dan frustasi secara berkelanjutan.

“Dari segi perilaku, mereka bisa mulai menghindari interaksi sosial yang biasanya mereka lakukan, atau bahkan yang biasanya tidak ingin berkumpul dengan orang lain, tiba-tiba mulai menemui banyak orang, yang mungkin menunjukkan niat untuk mengucapkan perpisahan,” katanya.

Dalam konteks Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang diperingati setiap 10 September, Gina menekankan bahwa masyarakat dapat berperan aktif dengan memberikan ruang untuk berbicara, mendengarkan, dan menjadi teman bagi individu yang menghadapi gangguan kesehatan jiwa, hal ini sangat penting untuk mencegah tindakan bunuh diri.

Advertisement