ADA jalan raya di Babelan Bekasi yang bikin sebel para sopir truk. Mengapa demikian? Soalnya lintasan tersebut setiap malam dikuasai preman. Mereka pungli terhadap sopir truk dari Rp 1.000,- sampai Rp 5.000,- Bagaimana tidak menyebalkan? Jumlah mereka ombyokan, setiap jarak 2 sampai 5 meter ada “pak ogah”-nya. Sepertinya jalan punya mereka saja. Jika di Bandung terkenal dengan “Bandung lautan api”-nya, maka Babelan Bekasi terkenal lautan punglinya.
Video Babelan lautan pungli tersebut sempat viral di medsos. Pembuat dan pengunggahnya salah satu sopir truk yang sering lewat jalan tersebut. Dan alhamdulillah, berkat pungli yang jadi viral tadi polisi Polres Bekasi langsung bertindak. Setidaknya ada 13 preman yang ditangkap. Tak banyak sih duit yang diminta, tapi bikin sebal para pengemudi.
“Kerja kalian apa? Polisi? PNS? Kantoran? Mana lah main. Pungli lah, malakin sopir. Minta Rp1.000 tinggal bikin satu jari, Rp2.000 dua jari, Rp5.000 tinggal bikin lima jari langsung dapat. Gak ngasih? maki-maki sopirnya. Ngelawan? Gebukin,” ujar sopir truk dalam video tersebut, saat dilihat Minggu, 24 September 2023. Dan berkat tindakan tegas Polres Bekasi, lintasan tersebut kini menjadi lancar seperti sedia kala.
Cuma ironisnya, ketika polisi menyikat para preman kampung tersebut, sejumlah warga ada yang protes ke Polsek Babelan. Mereka menuntut agar salah satu praktisi pungli tersebut dikembalikan pada keluarganya. Dan polisi mengabulkannya. Kemungkinan terjadi salah tangkap. Tetapi yang 12 orang lainnya tetap diproses secara hukum.
Warga Bekasi yang sering menyaksikan praktek pungli tengah malam itu, membenarkan adanya kejadian tersebut. Rupanya para pelaku itu memang penduduk setempat. Mereka aplusan setiap dua jam. Dilihat dari yang pada protes, sepertinya praktek pungli pada sopir truk itu direstui keluarga, atau bahkan menjadi andalan pemasukan. Paling ironis, praktek pungli itu sebetulnya tak jauh dari Polsel Babelan. Baru setelah viral di medsos polisi unjuk gigi.
Para remaja di Babelan terpaksa jadi preman jalanan, adalah dampak dari tingginya angka pengangguran di Bekasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka di Kabupaten Bekasi mencapai 203.000 orang pada tahun 2022. Jumlah ini, meningkat dibanding 2021, yakni 197.000 orang. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi, mengalami kesulitan dalam menekan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi.
Salah satunya disebabkan gelombang pencari kerja dari luar daerah yang terus berdatangan. Maklumlah, Kabupaten Bekasi yang notabene merupakan kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara sekaligus daerah penyangga ibukota DKI Jakarta, kerap menjadi incaran banyak pencari kerja dari luar daerah, khususnya angkatan kerja baru. Nah, mereka yang tak tertampung di pasar kerja itulah di antaranya memilih jadi “Pak Ogah di jalan raya Babelan.
Sebetulnya pungli itu sudah menjadi “tradisi” lama. Anak-anak SD di Jateng-Jatim-DIY sudah akrab dengan istilah tersebut, hanya beda makna. Di perkampungan masyarakat Jawa, pungli itu akronim dari kata: rampung bali (selesai pulang). Bagi anak SD itu artinya, ketika tugas dari Pak/Bu Guru selesai, murid dibolehkan pulang. Tapi kok sekarang maknanya jadi pungutan liar?
Pungli itu bagian dari korupsi juga, meski skala kecil. Sedangkan kata Fadli Zon anggota DPR, korupsi itu olienya pembangunan. Padahal kata KPK, pungli itu menyebabkan mutu bangunan –baik gedung maupun jalan– jadi menurun. Sebab kontraktor yang tak mau rugi, dengan sendirinya menganggarkan pungli itu dengan cara mengurangi fasilitas barang.
Pungli menjadi perhatian pemerintah Orde Baru sejak tahun 1977-an, ketika dibentuk Opstib (Operasi Tertib) yang dikomendani Laksamana Sudomo. Jaman itu kemudian muncul istilah plesetan. SDSB yang aslinya Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, menjadi Sudomo Datang Semuanya Beres. Dan memang betul, kantor-kantor menjadi tak berkutik. Wartawan bodreks atau wartawan amplop jadi “kering kerontang” tak ada lagi pungli masuk kantong. Sebab pejabat yang biasanya rame obyekan menjadi sepi.
Paling lucu adalah, sebagai Ketua Opstib Sudomo berani menghapus jembatan timbang yang selama ini jadi sumber pungli. Padahal begitu jembatan timbang dinon aktifkan, truk-truk berkelebihan muatan barang meraja-lela. Akibatnya jalan raya nasional dan jalan provinsi menjadi hancur. Akhirnya jembatan timbang dihidupkan kembali. (Cantrik Metaram)





