Petaka Lebih Besar Menanti Warga Gaza

Balas serang Israel dan Hamas hancurkan gedung dan tewaskan ratusan warga/ foto: The Jerusalem Post

MESIN perang Israel didukung tank-tank Merkava dan kendaraan tempur lainnya sejak Jumat lalu (13/10) lalu tampak sudah bersiap-siap masuk ke kota Gaza untuk melancarkan operasi pembersihan terhadap kubu Hamas.

Eskalasi konflik agaknya tak terhindarkan, dan Israel tidak menggubris seruan komunitas internasional agar kedua belah pihak yang bertikai mencari solusi damai di meja perundingan.

Mayoritas korban di kedua belah pihak adalah anak-anak dan kaum perempuan sejak serangan mendadak dan serempak yang dilancarkan kubu Hamas ke wilayah selatan Israel, Sabtu pagi, 7 Oktober lalu,

Israel melakukan serangan balasan, sehari kemudian, Minggu (8/10) dengan membombardir Gaza secara massif dari udara dan darat, menghancurkan tidak saja instalasi militer dan kantong-kantong persembunyian Hamas, tetapi juga bangunan sipil, bahkan gedung sekolah dan masjid.

Selain melakukan operasi pembersihan, pasukan Israel juga akan menyisir wilayah gaza untuk menemukan sekitar 150 sandera yang dibawa Hamas saat menyerang Israel selatan (7/10).

Di pihak Palestina termasuk kelompok Hamas, menurut kemenkes otoritas negara itu sampai Minggu siang (15/10), 2.228 orang tewas dan 8.774 orang terluka, 400 korban di antaranya tewas dalam 24 jam terakhir akibat pemboman udara Israel dan 8.774 orang terluka.

Sebaliknya, di pihak Israel, dilaporkan 1.300 orang tewas, termasuk lebih seratus anggota tentara Israel, dan 3,400 terluka, sebagian besar korban pada serangan Hamas, 7 Oktober dan akibat seranga roket di hari-hari berikutnya.

Eksodus ratusan ribu warga Palestina dari Gaza utara mengalir terus ke wilayah Gaza selatan setelah Israel mengultimatum mereka untuk segera meninggalkan Gaza utara dalam waktu 24 jam sejak Jumat (13/10) yang akan diserbu dan dibombardir untuk menumpas perlawanan milisi Hamas yang masih bertahan di bunker-bunker dan lorong-lorong bawah tanah di kota Gaza.

Derita 2,3 juta warga Gaza

Sekitar 2,3 juta penduduk Gaza sendiri sudah sangat menderita, selain korban tewas dan terluka akibat gempuran udara dan artileri Israel terus bertambah, pasokan gas, listrik dan air bersih juga dihentikan oleh otoritas Israel.

Di tengah pemboman udara tanpa jeda, rumah-rumah sakit di Gaza utara yang disesaki tambahan kedatangan pasien yang luka-luka dan ratusan jenasah yang ditumpuk saja di halaman karena keterbatasan ruang, mulai kekurangan obat-obatan dan tenaga medis.

Pasukan Israel yang memblokade Gaza, menyediakan dua koridor aman bagi pengungsi untuk meninggalkan Gaza sejak Jumat pagi antara pukul 06:00 sampai 16:00 waktu setempat sehingga penduduk berduyun-duyun mencoba keluar.

Bagi yang tidak memiliki kendaraan, terpaksan berjalan kaki atau menarik gerobak-gerobak berisi dengan pakaian atau kebutuhan hidup lainnya puluhan kilometer menuju wilayah aman.

“Kami tidak punya apa-apa lagi, apartemen luluh lantak, perabotan dan seisi rumah hancur, sebagian anggota keluarga tewas dan terluka. Kami dan anak-anak yang tersisa mudah-mudahan bisa selamat, “ ujar Bashaar, seorang pengungsi setengah baya bersama isteri dan tiga anaknya yang berusaha keluar dari Gaza utara.

Eksodus warga Palestina kali ini seolah mengulang kembali peristiwa pada 1948 saat sekitar 760-ribu etnis Palestina terusir dari wilayahnya setelah berdasarkan Deklarasi Balfour, Israel dinyatakan merdeka di wilayah yang sebelumnya dihuni mereka.

Entah sampai kapan penderitaan bangsa Palestina akan berlangsung, apalagi setelah sejumlah negara Arab meninggalkan mereka, berpaling untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, sementara PBB seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebagian negara cuma bisa berdoa, menyatakan prihatin dan mengimbau kedua belah pihak untuk meletakkan senjata atau mengutuk serangan balas dendam Israel yang membabi buta.

Advertisement