Mengenal Batik Durian, Wastra Khas Lubuk Linggau

Mengenal Batik Durian, Wastra Khas Lubuk Linggau. (Foto: Instagram.com/rinaprana)

JAKARTA – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lubuklinggau, Sumatra Selatan, Yetti Oktarina, berbicara tentang asal-usul Batik Durian yang menjadi identitas unik dari daerahnya.

Batik ini menggambarkan buah durian, yang kini telah menjadi ciri khas dari Lubuklinggau, kota di ujung barat provinsi Sumatra Selatan. Yetti dengan senang hati mengundang orang untuk mencoba durian khas Lubuklinggau yang sangat lezat.

“Lubuklinggau memiliki salah satu durian terenak, jika tidak percaya, datanglah langsung ke sini,” katanya, dilansir dari Antara.

Buah Durian, yang sering disebut sebagai “King of Fruits” atau Raja Buah, sangat digemari oleh penduduk lokal Sumatra. Bentuk uniknya ternyata sangat menarik perhatian saat dijadikan motif dalam Batik. Bahkan, Batik Durian Lubuklinggau kini telah dikenal oleh penggemar mode dari seluruh dunia.

Konsep ini muncul sekitar sepuluh tahun yang lalu, pada tahun 2013, ketika Yetti sedang mencari cara untuk menciptakan ciri khas dan ikon kota Lubuklinggau.

“Ide ini muncul karena sebelumnya Lubuklinggau tidak memiliki ciri khas yang unik. Menurut saya, setiap kota atau kabupaten harus memiliki sesuatu yang menjadi sumber kebanggaan atau yang dicari oleh orang ketika mereka datang ke tempat kita,” ungkapnya.

Yetti menjelaskan bahwa Lubuklinggau dikenal sebagai “Kota Transit” karena letaknya yang strategis di persimpangan jalan lintas tengah Sumatra. Dalam perkembangannya, sektor jasa menjadi salah satu penopang utama ekonomi kota ini.

Menurut Yetti, hal tersebutlah yang membuat Lubuklinggau tidak memiliki identitas khusus. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berinovasi dengan menggunakan durian sebagai motif utama dalam busana khas Lubuklinggau.

“Saya tidak ingin terikat pada filosofi khusus, karena Lubuklinggau adalah kota yang baru berkembang, sehingga desain busana kita bisa menjadi sesuatu yang baru tanpa harus memiliki filosofi khusus,” katanya

Yetti juga memberikan kebebasan dalam desain, dengan bantuan beberapa pengrajin dari Pekalongan pada awalnya. Dia mengungkapkan, selama bertahun-tahun, dari awalnya tidak ada pengrajin busana khas di Lubuklinggau.

Namun, kata Yetti, kini sudah ada lebih dari 350 pengrajin lokal. Sebagian besar di antaranya ibu rumah tangga. Mereka yang menciptakan Batik Durian Lubuklinggau. Saat ini, sudah ada ratusan desain berbeda dengan motif durian dalam batik tersebut.

Meskipun baru berusia 10 tahun, batik berwarna cerah ini mendapatkan banyak penggemar dari berbagai lapisan masyarakat, dan kepopulerannya berkembang dengan pesat hingga mencapai dunia internasional.

Batik Durian Lubuklinggau berhasil mencuri perhatian dalam Milan Fashion Week 2021 dan 2022 di Milan, Italia. Dalam acara mode bergengsi itu, merek lokal, JYK, menggunakan batik durian sebagai koleksi dengan tema “Revolutionary Hope” dalam gaya punk untuk menarik perhatian generasi muda.

“Setelah tampil di Milan Fashion Week, pesanan melonjak hingga lebih dari 1.500 lembar, dan bukan hanya dari orang Indonesia, tapi juga dari masyarakat internasional yang menyukainya,” tuturnya.

Advertisement