Mulut Mencla Mencle

Banyak orang yang Islamnya ketika disunat saja, karena harus membaca kalimah syahadat. Usai sunat sampai tua tak menjalankan salat 5 waktu.

JAMAN Orde Lama dulu, Presiden Sukarno sering mengatakan, jangan plintat-plintut, yang kemudian populer menjadi plin-plan sampai sekarang. Dan minggu-minggu belakangan ini, muncul pula kata mencla-mencle yang menjadi keseharian. Makna kata-kata itu sekantor, maksudnya sama! Yakni orang yang tidak punya pendirian, atau sikapnya berubah-ubah, orang Jawa bilang: esuk dhele sore tempe, pagi wedang jahe, sore hari sudah menjadi bajigur.

Minggu-minggu ini, bahkan bulan-bulan belakangan ini, sikap tersebut   banyak ditunjukkan oleh para pemimpin kita, baik yang masih muda dan lholak-lholok, setengah tua alias kemampo, dan yang tua  bangkotan yang yang nyaris gogrok ibaratnya buah yang sudah masak. Si muda culun ditawari menjadi Cawapres awalnya tidak mau, tapi kemudian mau. Yang kemampo selalu bilang aja kesusu tapi dia sendiri memberi jalan agar siculun bisa bisa menjadi pemimpin tertinggi secara instan. Lebih parah lagi, si buah yang hampir gogrok itu selalu menjelek-jelekkan lawan politiknya. Tapi begitu kalah dalam pesta demokrasi,  dia mau saja ngesot (menghamba) jadi anak buahnya sang pemenang.

Sikap mencla-mencle itu bisa terjadi pada siapa saja, baik masyarakat kelas akar rumput maupun para politisi level atas. Dan politisi papan atas itulah yang selalu disorot publik, karena setiap gerak gerik dan tutur kata selalu jadi bahan liputan media masa dan medsos. Ironisnya, meski beliaunya sudah dicap mencla-mencle, tetap  jalan terus, karena hanya dengan cara itu bisa mencapai tujuannya.

Mantan Ketum PBNU KH.  Said Aqil Siraj pernah mengatakan, dirinya tak mau jadi politisi, karena jadi politisi itu harus pinter bohong. Ada informasi 10, tapi yang disampaikan hanya 5, karena yang 5 disimpan dulu untuk kepentingan yang lain. Maka tak mengherankan ada yang bilang bahwa politik itu kotor, karena berani menghalalkan segala cara demi tujuan.

Sikap mencla-mencle memang menjadi makanan sehari-hari politisi. Padahal mencla-mencle itu juga bisa dimaknai munafik. Ibarat bunglon, bisa berubah-ubah warna sesuai dengan kepentingannya. Di kandang kambing dia bisa mengembik, di kandang sapi dia bisa melenguh. Ini politik cari aman, sebab dalam politik itu tak ada kawan atau musuh yang abadi. Hari ini teman, besoknya lagi bisa jadi lawan. Hari ini lawan, besok bisa menjadi kawan. Karena yang abadi itu hanya kepentingan.

Dalam dunia pakeliran, tokoh yang mencla-mencle bermuka dua itu salah satunya Prabu Baladewa dari Mandura. Secara garis keturunan dia lebih dekat dengan Pendawa, karena Puntadewa dan keempat adiknya itu anak daripada Dewi Kunthi yang tantenya Baladewa. Tapi kenapa dia malah lebih aktif dalam semua kegiatan Prabu Duryudana. Apa karena sama-sama jadi menantu Prabu Salya dari Mandaraka. Atau mungkin APBN-nya Mandura selalu dibantu oleh Ngastina?

Dalam Islam, watak mencla-mencle dan munafik itu haram dan panasnya api neraka menunggu kehadiran kaum munafikun. Karakter mencla-mencle itu disebut imma’ah yang berarti: sikap orang tidak punya prinsip, dan hanya ikut ke sana kemari. Bersama kelompok A, ngaku sealiran dengan kelompok A . Tetapi ketika bersama kelompok B dia juga mengaku sepaham dengan kelompok B. Maka seperti telah disebutkan di atas, orang-orang ini termasuk bunglon tingkat dewa.

Sikap ini sangat tidak dibenarkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kalian menjadi imma’ah! Kalian mengatakan: ‘Jika manusia berbuat baik, kami pun akan berbuat baik; jika mereka berbuat kezaliman, kami juga akan berbuat zalim.’ Akan tetapi, kokohkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian juga berbuat baik, jika mereka berbuat buruk, maka jangan kalian berbuat zalim.” (HR Tirmidzi, hadist hasan).

Orang munafik itu ucapan dan perilakunya tidak sinkron. Mengaku Islam, tetapi tak menjalankan salat 5 waktu. Islamnya hanya ketika sunat dan nikah saja. Sebagai pejabat tinggi di MA misalnya, dia berani menulis: daerah bebas korupsi, tapi dia sendiri ditangkap KPK gara-gara jadi makelar perkara. Katanya tak berminat jadi Cawapres karena usiaya belum cukup dan belum banyak pengalaman. Tetapi begitu diberi jalan oleh si Oom di MK, langsung semrinthil ikutan daftar di KPU.

Ada juga kisah Wan Abud jualan sarung dengan tulisan: dijamin tidak luntur. Giliran pembeli itu mencuci sarungnya dan ternyata luntur, ketika diprotes senak saja menjawab, “Ane orang Arab, tulisan Arab dibaca dari kanan ke kiri, maka tulisan itu mestinya Anda baca: luntur tidak dijamin.”

Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat. Dan sesuai janji Allah, perbuatan buruk akan dibalas dengan keburukan pula. Begitu juga sifat munafik akan mendapatkan balasan atau ancaman dari Allah SWT, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 145: “Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Cantrik Metaram)

Advertisement