JAKARTA – BAGI sebagian orang, menapak usia 75 tahun ditandai semangat dan aktivitas yang mulai mengendur seturut menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh, apalagi yang “memborong” komorbid dan penyakit degeneratif yang menjadi momok kaum lansia
Hal itu tidak berlaku bagi sosok Parni Hadi (dijuluki PH) yang di usia tiga perempat abad (lahir di Madiun 13 Agustus 1948) meluncurkan buku audiovisutorial berjudul “Semangat 75: Membangun Hidup Sehat” dan ”Reportase Puitis” di gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis, (27/10).
Buku audivisutorial berbentuk digital menggabungkan narasi audio, teks, video termasuk alunan musik serba singkat tapi lengkap yang bisa diunduh lewat youtube dengan barcode.
Bagi generasi milenial sampai Z yang sudah terbiasa berkecimpung di dunia maya secara digital, tidak ada masalah untuk membukanya, tetapi agaknya menyulitkan bagi para lansia yang rata-rata “gaptek”.
Saking sulitnya, penyanggah bedah buku, a.l. mantan KSAU Marsekal Purn. Chappy Hakim dan tokoh pers Wina Armada terbata-bata menyebutkan kata “audivisutorial” dan meminta hadirin bersama-sama melafalkannya. Alangkah baiknya jika buku ini juga dicetak secara konvenisonal untuk para lansia.
Buku berisi 75 episode memuat ragam aktivitas untuk membangkitkan gairah dan semangat lansia, seperti kontemplasi saat ziarah, berdamai dengan Covid-19, penganan sehat jadul (sayur oblok-oblok, umbi garut dan ganyong), berkebun dan lainnya.
Chappy Hakim dalam paparannya selain menganggap PH sebagai guru dalam dunia Art of Storytelling juga bingung menilai sosoknya yang menggeluti begitu banyak bidang kehidupan di luar sebagai tokoh pers nasional.
Hal senada disampaikan Wina Armada dengan menyebutkan sepuluh prototipe PH a.l sebagai motivator, PD abis dan sebagai wartawan memiliki rasa ingin tahu yang besar dan pantang menyerah atau kalah.
“Ditempatkan di mana saja, dia tetap “bunyi” (aktif dan mengambil peran terdepan-red), ” tutur Wina.
Saat menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA dan Dirut LPP Radio Republik Indonesia (RRI) yang dianggap publik sebagai lembaga “pelat merah” pun, PH tetap berinovasi, dan melontarkan kritik-kritik tajam pada pemerintah dalam kebijakan pemberitaan.
Buku “Reportase Puitis”
Sedangkan buku “Reportasi Puitis” selain memuat kumpulan puisi PH misalnya tentang lansia dengan gangguan kesehatan dan keterbatasan fisik, juga lontaran uneg-uneg terhadap situasi politik, ulah pelakunya dan ketatanegaraan saat ini.
Berikut penggalan puisinya:
Kode Etik Buaya
Tunggal guru tunggal ilmu dilarang saling menganggu. Sesama setan dilarang (saling) melempar. Sesama drakula dilarang mengisap. Sesama srigala dan buaya dilarang memangsa.
Pemilu di Negeri Reptil
….Akal-akalan terjadi tidak hanya antarpartai tapi juga intrapartai. Jegal-menjegal, jagal-menjagal, adu kuat siapa yang paling tebal, muka dan kantongnya. Semua niatnya sama.
Corona, Kita Bersaudara
….Corona, kita bersaudara. Mari hidup berdampingan. Tidak saling ganggu. Kami di sini kamu di situ.
Reportase Kucing Kawin
Musim kemarau panjang, kering. Musim kawin anjing dan kucing. Kawin di mana pun, jalan dan ladang. Berisiknya ampun, bukan alang kepalang. Tak peduli diamati orang, yang penting hasrat kesampaian. Kucing sedikit lebih sopan
PH pernah menjabat Pemimpin Umum Harian Republika, segudang jabatan di berbagai organisasi di lingkup pers, kemanusiaan dan lainnya, pendiri dan sampai kini Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa.
Di usia senjanya yang juga didera penyakit termasuk dry eyes (mudah silau) sehingga membatasi gerak, membaca dan menulis, PH tetap berkarya, memilih jalan senyap di bidang filantropis atau kemanusiaan bersama DD, menepi dari hingar-bingar, akrobat dan karut marut panggung politik.
Tiap orang bebas memilih jalan perjuangannya, namun di saat lebih banyak elite dan politisi merasa nyaman, bergeming atau malah menikmatinya di tengah berbagai anomali dan penyimpangan, dibutuhkan sosok-sosok seperti PH untuk cawe-cawe dan “turun gunung” menggugatnya.
Selamat milad ke-75 Mas Parni, semangat sampai akhir, NKRI dan Ibu Pertiwi memanggil!





