DI TENGAH serbuan kosa kata asing ke dalam serapan bahasa Indonesia seiring makin terbukanya interkoneksi global sebagai dampak kemajuan teknologi, jumlah penutur bahasa daerah juga kian menurun.
Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Kemendikbud dan Ristek (Badan Bahasa) Endang Aminudin Aziz di Jakarta (1/11), dari 718 bahasa daerah yang dimiliki Indonesia, sebagian terancam punah karena tidak digunakan atau tidak diwariskan pada generasi berikutnya.
Dalam konferensi dwitahunan sastra dan bahasa Indonesia tersebut, Aziz mengungkapkan, bahkan para penutur bahasa daerah yang sangat besar jumlahnya seperti bahasa Jawa juga terus menurun. Khusus tentang penutur bahasa Sunda, menurut dia, sejauh kehilangan dua juta dari 48 juta penuturnya.
Untuk itu, Badan Bahasa saat ini sedang berusaha merevitalisasi 38 bahasa daerah yang ada di 12 provinsi , mulai dari Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara dan Papua.
Upaya untuk menghidupkan kembali bahasa daerah melibatkan 1.491 komunitas atau pegiat termasuk keluarga para maestro dan activis perlindungan bahasa, sementara revitalisasi ditunjang oleh sekitar 1,56 juta siswa, 15,2 ribu sekolah, 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah dan 1.175 pengawas.
Strateginya, revitalisasi bahasa daerah dilakukan Badan Bahasa dimulai dengan membiasakan lagi menuturkan bahasa daerah dalam keseharian masyarakat, selain itu, kemendikbud ristek juga akan melatih para guru utama dan guru-guru bahasa daerah dengan mengadopsi prinsip fleksibilitas, inovatif, kreatif dan menyenangkan bagi siswa.
Pelestarian penuturan bahasa daerah, oleh siapa lagi kalau tidak dilakukan oleh warga asli daerah terutama generasi milenial sampai Z yang akan menjaga dan mewarisinya bagi generasi penerus.





