
SENGKETA wilayah di perairan Laut China Selatan (LCS) antara China dengan Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Taiwan dan Vietnam tak kunjung ada solusinya, begitu pula di Laut China Timur (LCT) antara China dan Jepang.
Insiden teranyar terjadi antara kapal-kapal patroli Jepang dan China di sekitar pulau tak berpenghuni di sebelah barat Okinawa yang disebut Senkaku oleh Jepang dan Daioyu oleh China, Selasa, (1/11).
Dua pekan sebelumnya (17/10) China meminta kapal-kapal Jepang menghindari wilayah yang dipersengketakan tersebut, sebaliknya China juga melakukan hal sama, berusaha mencegah kapal-kapal Jepang berlayar di wilayah tersebut.
Sementara di LCS, ketegangan meningkat di sekitar perairan sekitar Karang Scarborough saat kapal-kapal penjaga pantai China (China Coast Guard – CCG) China bersenggolan dengan kapal logistik Filipina, pekan lalu (23/10).
China dalam pernyataannya sehari setelah insiden tersebut meminta kapal-kapal Filipina menjauhi lokasi yang diklaim sebagai wilayahnya, sebaliknya menyatakan, kapal-kapal China secara illegal telah memasuki wilayah teritorialnya.
Beberapa waktu sebelumnya, juga terjadi insiden di wilayah bagian LCS tersebut dimana kapal-kapal CCG menyemprot kapal-kapal Filipina dengan kanon air.
China September lalu memasang penghalang apung (buoy) di sekitar Karang Scarborough, Laut China Selatan (LCS) yang sudah ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB sebagai wilayah Filipina.
Buoy sepanjang 300 meter itu, menurut penjaga pantai Filipina (PCG), dipasang oleh kapal penjaga pantai China (CCG) pekan sebelumnya di sekitar Karang Scarborough yang oleh penduduk lokal dinamai Bajo de Masinloc.
Walau tidak diakui internasional, China sejauh ini mengklain sekitar 90 persen wilayah seluas dua juta KM2 di LCS yang masuk sembilan garis putus-putus (nine-dashline) dan lokasi operasi nelayan tradisionalnya jauh sampai perairan ZEEI diperairan Natuna utara.
Sengketa di LCS ikut memicu perlombaan senjata, misalnya AS yang sering melakukan patroli laut dan udara menambah pangkalan militernya di Filipina, sedangkan Australia membentuk aliansi militer dengan Inggeris dan Amerika Serikat (AUKUS).
Insiden berulang antara Filipina dan China perlu diselesaikan, baik melalui forum kawasan (ASEAN) mau pun PBB untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik yang bisa menyeret banyak negara.
(AP/AFP/Reuters/ns)




