
MENYAKSIKAN debat Capres di TV semalam, mengingatkan pada cerita perwayangan, tentang debatnya Prabu Salya melawan Aswatama di tengah perang Baratayuda Jayabinangun. Prabu Salya nampak emosian, mirip dengan Prabowo ketika disenggol Capres Anies soal lolosnya Gibran jadi Cawapres gara-gara putusan MK yang melanggar etika. Bedanya, jika Prabu Salyo langsung menghajar Aswatama, sementara Prabowo hanya bilang, “Kita bukan anak kecil, sorry ye!” Padahal sikap dan kata-katanya tersebut justru menjadikan Prabowo seperti anak kecil.
Debat Prabu Salyo – Aswatama ketika Adipati Karno gagal atau meleset memanah leher Harjuna. Ini semua gara-gara kereta yang dinaiki oleh Harjuna dan dikusiri Prabu Salyo, tahu-tahu digenjot kuat-kuat, sehingga arah panah melenceng. Dalam sidang di pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana mempertanyakan kegagalan tersebut. Adipati Karno menjelaskan dengan segala argumentasinya, kenapa panah Wijayandanu itu kemudian hanya mengenai makutha (topi) yang dikenakan Harjuna.
Aswatama pun tunjuk jari di tengah persidangan, lalu membeberkan apa yang dilihatnya dalam pertempuran, kepada Prabu Duryudana. Dikatakannya, arah panah bisa melenceng karena kereta digenjot oleh Prabu Salyo selaku kusir. Dalam versi dalang Ki Nartosabdho (1925-1985) perdebatan Prabu Salyo – Aswatama itu seru sekali. Tapi karena kalah argumentasi, raja Mandaraka itu langsung menghajar Aswatama. Untung saja Aswatama segera kabur menyelamatkan diri.
Debat itu memang adu argumentasi atas sebuah topik, oleh dua orang atau kubu yang berlawanan. Mereka saling mempersiapkan data untuk mematahkan argumentasi lawan. Dalam portal berita News, penulis Salsabila Syahira menyebutkan bahwa debat itu tak lepas dari 4 unsur, yakni: 1. Pernyataan Pembukaan, setiap pihak memulai dengan pernyataan pembukaan yang berisi pandangan dan argumen utama. 2. Replikasi, peserta menyampaikan tanggapan terhadap argumen lawan. 3. Rebuking, peserta membantah argumen lawan dengan bukti atau analisis yang kuat. 4. Penutup, setiap pihak memberikan penutup yang merangkum argumen mereka dan menguatkan pandangan mereka.
Itu debat yang sehat. Jika debat targetnya asal menang tanpa pakai data dan logika, itu namanya debat kusir. Jika diteruskan hanya akan menghasilkan debat tiada akhir. Debat beginian bisa menyebabkan lawan debatnya pilih minggir atau mengalah, karena capek meladeni omongan orang yang ngomong tanpa mikir.
Kosa kata debat kusir muncul pertama kali sekitar tahun 1940-an, bermula dari perdebatan H.Agus Salim, Menlu ke-3 RI era Presiden Sukarno. Dia itu orator ulung dan ahli debat, tetapi berhasil “dikalahkan” seorang kusir delman. Kala itu H. Agus Salim naik jok depan jejer bersama sais. Tiba-tiba kudanya kentut, dan H.Agus Salim pun berkomntar, “Tuh kudamu masuk angin!” Tapi pemilik delman membantah dengan mengatakan, “Bukan masuk angin, tetapi keluar angin.” Logika dan faktanya, memang ada angin yang keluar dari pantat si kuda.
H. Agus Salim kemudian meluruskan, keluar angin itu dalam bahasa yang umum disebut masuk angin. Tetapi si kusir delman bersikukuh, angin bukan masuk ke tubuh kuda, tapi justru angin yang keluar dari pantat kuda. Ketimbang debat tiada akhir yang sangat mubadzir, Pahlawan Nasional RI (1961) itu memilih mengalah, apa lagi sudah sampai tempat yang dituju. Dan karena H. Agus Salim tokoh kondang di masanya, ketika dia cerita pada rekan-rekan jadilah berita ke mana-mana sampai masuk suratkabar.
Tokoh perjuangan yang menguasai 7 bahasa asing itu memang terkenal pinter debat. Tokoh PKI Muso pernah berkata pada H. Agus Salim bahwa Tuhan itu tidak ada. Perunding di sidang PBB bersama Sumitro Djojohadikusuma dan Sudjatmoko tahun 1949 itu hanya menjawab santai, “Cobalah kau tiduran di rel KA. Ketika kereta api lewat, kamu akan menemukan Tuhan.” Ternyata Muso tidak berani, dan dia baru ketemu Tuhan ketika tewas ditembak dalam pelariannya di daerah Ponorogo (Pemberontakan PKI Madiun, 18 September 1948).
Ahli debat haruslah orang pintar bicara, bisa berpikir cepat dan menguasai data luar kepala. Maka pengacara adalah orang-orang pinter debat, setidaknya dalam sidang melawan Hakim dan Jaksa demi membela kliennya. Politisi juga banyak yang pintar debat. Untuk saat ini misalnya Maman Abdurahman (Golkar), Adian Napitupulu (PDIP), atau juga Munarman tokoh FPI yang pernah menyiram muka Arifin Tamagola gara-gara kalah debat di TV.
Ahli debat paling terkenal dewasa ini tak ada lain Rocky Gerung, yang sering mengata-ngatain orang si dungu. Tapi dia pernah juga dikalahkan Adian Napitupulu sampai terkencing-kencing. Maksudnya, dia minta waktu untuk ke toilet dulu. Dan orang pun banyak yang jengkel ketika Rocky Gerung membully Presiden Jokowi sebagai bajingan tolol. Tapi karena presidennya sendiri bersikap aku ra papa, omongan kurang ajar Rocky Gerung itu bebas dari jeratan hukum.
Kenapa Rocky Gerung sepertinya tak punya hati, sehingga selalu mendungu-dungukan orang? Kata Prof. Dr. Rhenald Kasali pemilik Rumah Perubahan, karena dia jarang bercinta. Yang bener Prof? Dia kan belum pernah menikah, sehingga narasinya bukan jarang, tetapi tidak pernah. Kecuali dia memiliki ITR (Istri Tidak Resmi). Kan begitu logikannya. (Cantrik Metaram)




