JENEWA (KBK) – Berbagai kendala dihadapi relawan kemanusiaan dalam menanggulangi demam kuning di perbatasan Angola, menjadikan penduduk di sekitar terancam paparan virus.
“Persediaan vaksin yang terbatas, sanitasi buruk, sistem pertahanan terhadap penyakit tidak memadai,” ungkap IFRC, Rabu (8/6/2016).
Federasi Internasional Palang Merah (IFRC) dan Bulan Sabit Merah mengatakan menyatakan prihatin terhadap kondisi di kawasan tersebut.
“Kami sangat prihatin, penyebaran lebih lanjut dari wabah ini, terutama ke negara-negara yang berbatasan Angola, seperti Namibia dan Zambia,” kata Adinoyi Adeiza, koordinator kesehatan IFRC untuk Afrika.
Adeiza melihat banyak orang yang tidak diimunisasi bepergian ke beberapa negara, hal ini bisa menimbulkan risiko yang signifikan.
Wabah ini pertama kali terdeteksi di Angola pada akhir Desember 2015. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sudah ditemukan 2.900 kasus di 18 provinsi, dengan 325 angka kematian.
Seperti dilangsir Xinhua, Nafo-Traore, direktur kantor regional Afrika IFRC mengatakan, vaksinasi merupakan pertahanan pertama yang terbaik, namun saat ini jumlah vaksin sangat terbatas.





