
BALAS-membalas dan saling serang antara pihak-pihak yang bertikai di kawasan Timur Tengah tidak pelak lagi terus membuat situasi makin runyam dan eskalasi konflik tak terelakkan.
Insiden teranyar, ungkap Jubir Dewan Kemanan Nasional Amerika Serikat John Kirby (29/1) lalu , pesawat nirawak bersenjata telah menyerang pangkalan negaranya di Jordania, menewaskan tiga prajurit, Minggu (28/1).
“Kami tidak menghendaki perang lebih luas dengan Iran (diduga pelakunya-red), namun aksi tersebut perlu direspons, “ ujarnya.
Sikap keras juga ditunjukkan oleh Menhan AS Lloyd Austin yang menegaskan, pihaknya tidak akan mentolelir serangan terhadap pasukannya dan akan mengambil tindakan sepadan untuk membela kepentingan negara dan pasukannya.
Sebaliknya Jubir Kemenlu Iran Naser Kanaani mengaku pihaknya tidak ada sangkut pautnya dengan serangan di perbatasan Jordania, Irak dan Suriah itu dan menilai, klaim tersebut dibuat untuk membalikkan fakta yang terjadi.
Eskalasi konflik terjadi pasca serangan Hamas ke Israel selatan, 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera 240 warga sipil yang dibalas selang sehari kemudian dengan membombardir wilayah Gaza.
Bombardemen udara dan darat oleh pasukan Israel ke wilayah Gaza, Palestina sampai hari ini sudah menewaskan lebih 26.250 orang, melukai 70.000-an orang, sebagian besar anak-anak dan perempuan.
Seruan internasional termasuk resolusi PBB tidak digubris negara Jahudi itu yang menganggap serangan yang dilakukannya adalah bentuk pembelaan diri, bahkan Mahkamah Internasional (ICJ) juga meminta Israel menghentikan aksi genosida terhadap bangsa Palestina tapi lagi-lagi tidak bergeming.
Sementara itu, milisi etnis Houthi dukungan Iran berbasis di Yaman dan Lasykar Hizbullah yang bermarkas di Lebanon membuka poros perlawanan terhadap AS dan juga musuh bersama mereka, Israel sehingga terlibat langsung konflik.
Belum lagi, kelompok-kelompok milisi berkekuatan lebih kecil yang beroperasi di Irak, Suriah dan Jordania juga ikut ambil bagian menyasar target-target AS di kawasan itu seperti serangan rudal balistik ke pangkalan AS di Irak Sabtu dua minggu lalu (20/1) lalu.
Bisa jadi, ke depannya, Rusia, China dan Korea Utara akan ikut melibatkan diri untuk membuka front bersama melawan AS atau berarti munculnya era Perang Dingin baru Barat dan Timur.(Ap/AFP/Reuters/ns)




