
INDUSTRI dirgantara yang merajai pembuatan pesawat terbang komersial global, Boeing saat ini sedang menjadi sorotan tajam akibat beberapa kecelakaan pesawat buatannya dan kegagalan meliwati serangkaian uji keselamatan (safety) oleh Badan Penerbangan Federal AS (FAA).
Boeing bermarkas di Seattle, AS yang didirikan pada 1916 dan mempekerjakan puluhan ribu karyawan di seluruh dunia, seperti dikutip New York Times (11/3) gagal di 33 dari 89 tes keamanan (safety) yang digelar Badan Penerbangan Fedeal AS (FAA).
Laporan kegagalan itu sendiri terungkap beberapa jam setelah kabar kematian mantan pegawai Boeing John Barnett yang menjadi saksi kunci pemeriksaan sisi keselamatan pesawat oleh otoritas penerbangan AS. Barnett dikabarkan meninggal, diduga bunuh diri di sebuah hotel di Kawasan South Caroline.
Pemeriksaan terkait “safety” pesawat terhadap Boeing juga dilakukan terhadap Spirit, perusahaan pemasok panel yang lepas dari pesawat dalam penerbangan Alaska Airlines baru baru ini.
Perusahaan Spirit yang merupakan anak perusahaan Boeing sejak 2015 dan kemudian dilepas sebagai usaha mandiri dilaporlan gagal di tujuh dari 13 pemeriksaan terkait kasus kecelakaan Alaska Airlines baru-baru ini.
Spirit a.l lain tidak lolos dalam tes di pintu ruang kargo dan jendela kokpit menyusul terbukanya pintu kargo pesawat Boeing dalam penerbangan Alaska Airlines 9 Maret lalu.
Pintu pesawat kargo Boeing B737-900R Alaska Airlines, kemungkinan terbuka setelah pesawat mendarat di Bandara Portland dalam penerbangan domestik di AS setelah terbang selama empat jam.
Sepekan sebelum peritiwa itu, pesawat Boeing B737-800 milik maskapai yang sama terpaksa gagal melanjutkan penerbangan ke Phoenix dan kembali ke Portland karena penumpang mencium bau asap dan baru diketahi kemudian, kipas angin di kabin tidak berfungsi, sehingga kemudian diganti.
Sementara pesawat Being B787-9 Dreamliner mlik Latam Airlines yang menerbangi rute Sydney, Australia ke Auckland, Selandia Baru gagal meneruskan penerbangan ke Santiago, Chili karena teguncang elama beberapa detik.
Menurut pengakuan sejumlah penumpang, pesawat mendadak turun, lalu naik sehingga sejumlah penumpang terluka setelah terlempar dari tempat duduknya sehingga menyentuh badan pesawat.
“Sejumlah penumpang terluka parah dan ada juga yang merasa sangat ketakutan, “ ungkap media Slania Baru RNZ mengutip keterangan penumpang. Sebanyak 50 penumpang dilaporkan mengalamia luka-luka dalam kejadian itu.
Kesalahan sekecil apa pun, baik akibat masalah teknis mau pun manusia yang menanganinya (awak pesawat, teknisi dan penunjang), tidak dapat ditoleransi dalam kegiatan penerbangan, karena bisa berisiko fatal.
Namun setiap persoalan tentu ada hikmahnya dan dalam kasus ini, pemeriksaan yang lebih cermat diharapkan bakal mampu menekan atau menghindari risiko kecelakaan berikutnya
Konsorsium industri pesawat Eropa, Airbus tentu juga akan menikmati hikmahnya, akibat kemungkinan berpalingnya sebagian pelanggan Boeing ke perusahaannya.




